Mungkin bisa sedikit diceritakan proses menjadi Punk dan terbentuknya Kubu Riot?

Aku kenal punk saat SMP. Waktu itu di Bogor. Tapi belum terjun ke dalam komunitas. Waktu di Jambi, kebetulan bertemu kawan-kawan punk lagi. Akhirnya mulai bergabung dalam komunitas. 

Pada waktu itu tongkrongan aku dan anak-anak street punk berada di daerah Rawasari. Dan dari situ mulai tertarik untuk membuat band. Tapi sebelum Kubu Riot terbentuk, aku dan kawan-kawan membentuk sebuah band punk, tapi lebih mirip skena. Namanya Golden Oi. Dan karena ada beberapa persoalan dan kami berpisah, maka aku membentuk Kubu Riot. 

Kubu Riot terbentuk pada 2004. Awalnya saat show kami membawa lagu-lagu band punk luar. Dan akhirnya membuat karya sendiri, berjalan ke luar kota, bertemu kawan-kawan skena lain, dan akhirnya dapat mengeluarkan EP dengan sound yang sederhana. Karena waktu itu studio rekaman yang D.I.Y masih jarang sekali, jadi kami memutuskan alakadarnya dalam rekaman.

Bahwa Punk, kan, tidak terlepas dari bagaimana mereka bersikap dan mewacanakan upaya perlawanan. Menurut Pak Arief, apa yang sebenarnya kawan-kawan lakukan?

Itu semua adalah proses. Aku adalah punk. Tapi aku benar-benar terjun ke dalamnya. Kebanyakan orang emang berpandangan bahwa punk itu jelek, berantakan dalam berpakaian, kotor dan lain-lainya. Tapi, kan, itu menurut pengamatan mereka.

Di sini kita yang menjalankan hidup sebagai punk. Lagian kita memilih mengenal punk dan masuk ke dalamnya, bukan sekadar untuk gaya-gayaan. Bahwa punk adalah sikap. Dan yang paling penting, kita berada di jalan karena itu sebagai upaya perlawanan, selain melawan melalui lirik-lirik dan musik.

Karena ketika di jalanan aku banyak menemukan pelajaran. Aku bisa belajar survive buat hidup yang mandiri, mengedepankan persoalan persaudaraan. Belajar untuk lebih solid dan setara. Dan ketika aku menggunakan atribut-atribut seperti itu, itu adalah sebuah upaya dari aku untuk menentang kemapanan. 

Bahwa kemapanan yang terjadi sekarang, kan, nggak adil. Kemapanan menurutku hanya untuk orang-orang yang mempunyai kekuasaan dan modal aja. Dan melalui lagu, aku melawan ketidakadilan dan kemapanan itu. Karena itulah salah satu media kami untuk melawan.

Ketika di jalan kita bisa melihat arogansi orang-orang yang punya otoritas. Seperti aparat misalnya. Kita sering sekali diintimidasi hanya karena penampilan kami yang seperti ini dan kemudian dianggap meresahkan. Dan mereka, selalu menganggap kami ini sama seperti gepeng atau pengemis. 

Padahal punk mempunyai tujuan-tujuan tertentu. Kami seperti ini bukan tanpa alasan. Tapi selalu saja dijadikan kontroversi. Tapi bagaimanapun itu adalah konsekuensi. Walaupun demikian, kami selalu menunjukkan sisi kreatif kami. Seperti membuat kegiatan sosial, membuat propaganda dari musik untuk selalu meneriakan faktor-faktor ketidakadilan.

Saat ngobrol tadi, Pak Arief berkata bahwa punk tidak harus dominan dalam musikalitas saja. Jadi apa sebenarnya yang harus dipertunjukkan?

Seorang punk itu biasanya seorang anarkis atau anarko. Bukan anarkis yang selalu dipropagandakan pemerintah itu loh ya. Anarki itu seperti apa sih? Kita harus berkehidupan kolektif, harus selalu bergotong royong, antisistem dan membuat pergerakan-pergerakan sosial tanpa campur tangan pemerintah. Seperti protes membela kawan-kawan yang tertindas. Karena punk itu anti penindasan.

Kalau menurut Pak Arief, apa itu budaya D.I.Y?

Yang jelas D.I.Y itu gak jauh berbeda dari sebuah sistem kolektif. Artinya, kita tidak harus ketergantungan kepada birokrasi. Atau ketergantungan dengan seseorang. Atau dengan korporasi. D.I.Y itu kan sebuah pola mandiri. 

Kemudian, kalau menurut aku, D.I.Y itu inisiatif dari diri sendiri. Maksudnya, melakukan apa pun yang bisa aku lakukan sendiri. Yang jelas, kalau di komunitas sendiri, punk itu adalah gaya hidup. Ideologi hidup. Atau jiwa. Dan itu semua muncul dari diri kita sendiri. Nah itu yang menurut saya D.I.Y.

Dalam konten lirik Kubu Riot, banyak meneriakkan persoalan apa?

Kalau Kubu Riot lebih banyak meneriakkan persoalan tatanan sosial bermasyarakat, pengalaman hidup, penindasan, dan segala unsur yang berbau birokrasi dan arogansi aparat.

Yang selanjutnya, pak. Saya mau menanyakan insiden saat di Tugu Juang. Di mana kawan-kawan punk dikepung oleh Satpol PP. Mungkin bisa dijelaskan, pak, kronologinya?

Waktu itu kami membuat mini tour band-band Grindsick, Biangraw, dan Ladaz ke Palembang, Pekanbaru, dan negara-negara tetangga Jambi lainnya. Dan tour itu berakhir di kota kami, Jambi. Kawan-kawan street punk dari luar kota ramai-ramai berdatangan untuk support acara. Kebetulan memang di pemerintahan kota Jambi itu ada Perda. 

Ya, seperti apa yang sudah aku bilang tadi. Bahwa yang berbau jalanan itu sudah dianggap gepeng, pengemis. Pokoknya mereka menganggap kami sebagai pekat atau penyakit masyarakat. Pokoknya dianggap meresakan dan membuat kotor kota. Nah, perda itu dijadikan alat untuk mengintimidasi kami atas nama netralisasi ruang kota dan ketika Polisi Pamong Parja menertibkan kami.

Di sisi lain, anak-anak yang di jalanan ini tadi dijadikan pemanfaatan atau objek pemasukan, di mana mereka mempunyai biaya operasional. Artinya, semakin banyak anak-anak yang ditangkapi di jalanan, semakin banyak uang operasional yang mereka dapatkan. Padahal kami sudah membuat surat pemberitahuan acara.

Jadi, saat acara berlangsung, saat kami mendekorasi tempat, mereka datang, di mana Pol-PP yang dibekengi oleh aparat kepolisian mencoba untuk memboikot acara kami. Dan banyak di antara kawan-kawan ini di tangkap, diangkut ke dinas sosial. Dan di sana, mereka dibotaki kepalanya. Setelah itu, dari pihak Pol-PP dan dinas sosial berjanji akan mengeluarkan mereka setelah di data. Tapi mereka (Pol-PP dan depsos) ingkar. Dan akhirnya kawan-kawan di sana berontak.

Nah, anak-anak itu memaksa keluar. Setelah itu, malamnya, karena anak-anak ditangkap pada pagi hari, Satpol-PP itu datang dengan beramai-ramai untuk mengepung acara. Kira-kira 3 mobil. Tapi kami bertahan supaya acara tetap berlangsung. Walaupun ada sedikit bentrokan. Di sana terlihat sekali arogansi mereka.

Nah, dari kesimpulan tadi, kita belum merdeka, kita masih terintimidasi. Bahwa kebebasan kita masih ditindas. Maka dari itu, kami tetap melakukan perlawanan. Walaupun hanya menggunakan musik.

Menurut Pak Arief, apa itu rumah kolektif Grindscik?

Awalnya wadah, untuk skena musik bawah tanah, seperti Metal, Death Metal, dan lain-lain. Di rumah kolektif Grindsick, tidak menutup kemungkinan buat kawan-kawan kolektif lain yang mau masuk atau bergabung di dalamnya. Di sana dapat menjadi tempat berkarya kawan-kawan yang aktif menggambar, main musik dan lain-lainnya. Dan terbuka secara umum. Di situlah kawan-kawan yang berkreativitas secara mandiri bisa survive. 

Dulu GS itu di rumah Andre, di garasi kecil. Tapi karena kita suka buat gigs-gigs dan hasil dari benefit dan donasinya itu kita tabung, akhirnya kita bisa menyewa rumah.

Tadi saya selalu mendengar Pak Arief berbicara soal Marxisme. Seberapa penting sih Marxis mempengaruhi Pak Arief dalam berkarya?

Awalnya aku suka Soekarno. Dan karena Soekarno mempelajari Marxis untuk membebaskan Indonesia dari jajahan Belanda, akhirnya aku mulai belajar sejarah. Dan kagum pula kepada Marx. Karena ideologi Marxis ini bertujuan untuk menyejahterakan dan untuk kemakmuran semua. Walaupun banyak ditentang oleh kaum-kaum Globalis atau Kapitalis. Secara kekaryaan tidak. Tapi secara ideologis, iya.

Yang terakhir, pak. Dengerin musik apa hari ini?

Barusan dengarin lagu Biangraw hahaha...