Mengkritik agama bukan berarti mengganggu keyakinan orang lain melainkan menjadikan kritik itu untuk diri sendiri dalam beragama

Kualitas Pendidikan dan Politisasi agama memiliki hubungan yang sangat erat. Lantas Bagaimana kita mampu memposisikan agama hanya di dalam ruang privat? Pertanyaan ini menjadi ujung dari sekian pertanyaan ketika penulis melihat agama dijadikan alat dalam kontestasi politik. Kali ini akan dibahas kualitas pendidikan dan politisasi agama.

Pembaca pasti setuju bahwa saat ini agama menjadi alat tawar yang cukup menjanjikan ketika seseorang maju dalam kontestasi politik. Artinya ketika seseorang maju dalam kontestasi politik, agama dijadikan alat untuk mendulang suara. Agama dijadikan alat untuk menarik perhatian pemilih untuk memilih seorang calon yang seagama.

Dalam konsep kebebasan setiap orang mempunyai dalil untuk mengatakan bahwa itu adalah haknya untuk memilih berdasarkan agama. Tetapi apakah dalam demokrasi, hal-hal yang cenderung tanpa analisis seperti ini kita sepakati? Hal inilah menjadi kelemahan dalam demokrasi di mana suara berdasarkan analisis maupun tidak, sama-sama dihitung satu suara.

Melihat kelemahan demokrasi ini, harus diciptakan suatu sikap serius dalam berdemokrasi. Sikap serius itu harus diimplementasikan dalam bentuk analisis-analisis sebelum dilakukan keputusan politik. Tentu saja untuk mencapai analisis yang baik setiap warga negara minimal memiliki kualitas pendidikan politik yang baik.

Kualitas pendidikan politik yang baik bukan hanya berpartisipasi dalam politik. Melainkan mampu membentuk keputusan politik dengan analisis yang tajam. Untuk itu tidak keliru jika dalam demokrasi diperlukan keseriusan yang tinggi. Artinya setiap warga negara tidak hanya memilih tetapi harus ada analisis yang mendalam.

Setiap warga negara memilih seorang calon pemimpin tidak hanya dengan dalil kebebasan, tetapi harus dalam payung kebangsaan bahwa analisis penting dalam menghasilkan pemimpin yang mampu memenuhi tuntutan banyak orang.

Sering kali analisis kita dalam demokrasi berbenturan dengan sikap fanatisme. Salah satunya adalah analisis kita tumpul ketika dihadapkan pada pilihan politik yang dibungkus dengan agama. Misalnya seorang warga negara meskipun sudah tahu bahwa seorang calon kurang kompeten, tetapi karena seagama sehingga memilih calon tersebut.

Fanatisme agama dalam politik akan berdampak pada sikap politik yang semu. Artinya kita bukannya mengambil sikap politik dengan argumen atau penalaran yang dalam, melainkan hanya berdasarkan sentimen agama. 

Kita begitu bangga ketika seseorang yang menjadi pemimpin, seagama dengan kita. Padahal jika kita telaah, apakah hal ini harus dibanggakan? Tentu tidak. Untuk itu fanatisme dalam beragama adalah sesuatu yang harus kita hindari.

Menghindar dari sikap fanatisme dapat dilakukan dengan menjadikan agama dalam hal tertentu dibatasi dalam ruang privat. Misalnya seorang warga negara tidak boleh mempengaruhi pilihan orang lain dengan agama. 

Selain itu seorang warga negara tidak boleh memilih dengan alasan seagama. Melainkan sebaliknya. Dalam ranah politik, agama harusnya bergerak dalam ruang-ruang moral dan etika. Dalam hal ini, agama harusnya mendorong setiap orang untuk menjaga keutuhan dalam bernegara pasca kontestasi politik.

Kondisi kehidupan sosial dan politik saat ini menjadikan agama sebagai alat untuk kepentingan segelintir orang. Orang-orang yang bergerak dalam kontestasi politik menjadikan isu untuk menjatuhkan lawan politik maupun untuk mendulang suara. 

Akibatnya yang terjadi adalah hanya karena agama, perpecahan dalam masyarakat terjadi dimana-mana. Padahal salah fungsi agama adalah mendamaikan setiap orang. Agama hadir untuk mempersatukan setiap orang yang mungkin saja memiliki keyakinan yang berbeda.

Melihat sering kali timbul konflik karena agama, muncul suatu pertanyaan, “mengapa setiap orang begitu mudah ‘tersinggung’ atau dipengaruhi oleh agama?”

Jawabannya adalah adanya korelasi dengan pendidikan kita hari ini. Pendidikan kita dibangun dengan konsep bahwa agama tidak boleh dikritik dengan argumen atau penalaran. 

Akibatnya kita melaksanakan perintah agama tanpa ada kritik di dalamnya. Kita cenderung mengikuti doktrin agama dan takut jika memiliki pandangan yang berbeda dengan agama. Tanpa penalaran dalam beragama, akhirnya membawa kita pada kesimpulan bahwa Agama A lebih baik dari Agama B. Muncul sikap untuk “mengunggulkan” suatu hal yang kita yakini terhadap keyakinan orang lain.

Kita tidak boleh dipenjara dalam sikap terdoktrinasi bahwa Agama A lebih baik dari Agama B. Dengan penalaran yang baik, kita akan berhenti pada perdebatan semacam itu. 

Muncul suatu sikap bahwa agama adalah hal privat yang semestinya tidak kita perdebatkan, mana yang terbaik maupun sebaliknya. Kita bahkan akan sampai pada sikap yang lebih bernalar dengan menghilangkan sikap fanatisme agama dalam ranah politik.

Ini artinya pendidikan harus dibiarkan untuk mengkritik kembali agama. Mengkritik agama bukan berarti mengganggu keyakinan orang lain melainkan menjadikan kritik itu untuk diri sendiri dalam beragama. Untuk mengkritik itu diperlukan pengetahuan yang mendalam. 

Sayangnya pendidikan kita hari ini masih jauh panggang dari api. Kualitas literasi kita masih sangat minim. Kita terjebak dalam sikap malas untuk belajar dan mencari tahu isi dari ilmu dan pengetahuan yang dihasilkan hari ini.

Ketika kualitas pendidikan kita itu minimal baik, maka fanatisme agama akan hilang dengan sendirinya. Setiap orang akan memperlakukan agama semestinya dalam ruang privat. Terkait kepercayaan Tuhan ada atau tidak bukan jadi perdebatan di ruang publik tetapi hanya menjadi urusan privat. 

Orang tidak lagi melihat latar belakang agama seseorang yang memimpin (politik) tetapi lebih kepada kualitas dan pengalamannya. Dalam hal ini kebebasan menjadi sesuatu yang sangat murni di mana kebebasan dalam politik tumbuh tanpa intervensi agama. Kebebasan akan tumbuh dengan baik dalam ruang etika dan moral dalam kehidupan berwarga negara.


Tulisan ini diterbitkan di website pribadi Penulis dan dalam Tulisan ini mengalami beberapa perubahan dalam isi tulisan.