Demokrasi, lahir, besar, dan mulai ditiup ke mana-mana dari sumber pertama, Amerika Serikat (AS). Semula, Amerika Serikat mengagas pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat ini demi kualitas-kualitas hidup bersama yang baik. Dari sana, Amerika, kemudian disemat label “Bapak Demokrasi.” 

Akan tetapi, semenjak Donald Trump menahkodai perahu Amerika, kualitas demokrasi, kian ke sini, kian menurun. Sejarah memotretnya dengan baik. Rabu, 6 Januari menjadi sejarah – tepatnya “Sejarah Kelam Demokrasi Amerika Serikat.”

Sejumlah pakar menyebut peristiwa penyerangan kelompok pendukung Trump di Gedung Capitol, Washington DC, AS pada Rabu (6/1/2021) sebagai wajah demokrasi yang tercoreng. Peristiwa 6 Januari 2021 adalah momen yang perlu diabadikan. Pasalnya, dari berdirinya hingga sekarang, aksi-aksi anarkis dan rusuh seharusnya tidak dilakukan untuk kepentingan dinasti feodal kemimpinan Trump. 

Tak hanya dinasti feodalisme, unsur nepotisme juga hadir dalam tubuh kepemimpinan Trump. Jika dicermati, sejak Trump terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat, banyak kerabat – bahkan anaknya sendiri Ivanka Trump dan menantunya – dimasukkan ke dalam lingkaran pejabat negara. Potret semacam ini, sudah menjadi indikasi bahwa Trump ingin melanggengkan dinasti feodalnya di Gedung Putih.

Ketika kejadian penyerangan di gedung Capitol viral ke seluruh dunia, persepsi warga dunia mengenai kualitas demokrasi pun dipertanyakan. Selama ini, dunia tidak hanya mengadopsi konsep demokrasi dari pabriknya Amerika Serikat. Selain konsep demokrasi itu sendiri, cara hidup dan kualitas “demos” atau rakyat juga dijadikan sebagai role model warga dunia. 

Rakyat Amerika Serikat, dengan kata lain, paham demokrasi. Mereka sangat tertib. Mereka sangat menghargai demokrasi sebagai sebuah sistem pemerintahan yang menyejahterakan, merangkul semua, dan dirasa adil. Gagasan-gagasan demikian, muncul dalam benak-benak orang di luar Amerika Serikat.

Amerika Serikat, sejatinya adalah ruang pabrik demokrasi. Negara ini pernah mencetak seorang pengukir sejarah bernama Abraham Lincoln. Lincoln adalah Presiden Amerika Serikat ke-16. Ia disebut-sebut sebagai pengagas persatuan ketika Amerika Serikat mengalami perang saudara. Sejak Lincoln menjabat presiden, banyak hal baik yang diterapkan di lingkungan warga Amerika Serikat. 

Salah satu proyek besar Lincoln saat itu adalah bagaimana membesarkan konsep demokrasi dan memperlihatkan kualitas demokrasi sebagai tolok ukur pemerintahannya. Ketika kualitas demokrasi dijamin pada zamannya, Abraham Lincoln kemudian diberi gelar “Bapak Demokrasi.”

Monumen “Bapak Demokrasi” yang disematkan kepada Lincoln juga tak terlepas dari kualitas pribadi dan kepemimpinannya. Saat itu, Lincoln dikenal sebagai pemimpin yang terbuka, rendah hati, dan optimis. Jika disejajarkan dengan Trump, Lincoln tentunya sangat berbeda jauh. 

Trump adalah sosok pemimpin yang eksklusif, ceroboh, angkuh, feodal, ambisius, dan pesimistis. Cara Trump mempertahankan indeks kualitas demokrasi sangat buruk. Bahkan di akhir sisa kepemimpinannya, Trump justru menjadi pencoreng demokrasi Amerika Serikat.

Trump tak lain adalah warga negara yang dibesarkan di lingkungan demokratis.  Sebagai warga negara yang mendapat asupan gizi langsung dari pabrik demokrasi, Trump seharusnya menjadi sosok yang terbuka dan legawa. Sebagai pemimpin dan orang nomor satu Amerika, Trump seharusnya memberi contoh yang baik bagi warga Amerika Serikat dan dunia. Tingkah laku dan tutur katanya, harus baik. Semua komposisi hal baik ini bukan untuk mengangkat martabat Trump dan keluarganya, tetapi demi kiwibawaan Amerika Serikat sebagai sebuah negara.

Apa yang dilakukan Trump dengan menolak hasil pemilu Amerika Serikat adalah sebuah bentuk kemunduran kualiatas demokrasi di pabrik asali. Tindakan Trump dan para pendukungnya adalah gambaran bahwa demokrasi sejatinya hanya bisa berkembang di tangan-tangan pemimpin yang bijak. Demokrasi, dengan kata lain, tak harus diberi latar Amerika untuk saat sekarang – karena di sana demokrasi justru dijadikan label dan brand semata.

Ulah para followers fanatik Trump bisa jadi dipakai oleh para pemimpin dunia untuk mempermalukan Amerika Serikat. Pertanyaannya: “Bagaimana mungkin seorang kepala negara menghasut warganya untuk melawan aparat?” Ini sesuatu yang memalukan. 

Di balik semuanya ini, tentunya ada ambisi dan kepentingan dinasti Trumpisme. Trump dan koleganya, sejatinya tak mau meninggalkan Gedung Putih dengan cepat. Trump ingin berlama-lama. Trump ingin politik balas dendam dan sistem proteksi nasionalnya digoalkan pada periode berikutnya.

Manuver Trump dengan semboyan “Make America Great Again!” sejatinya hanya sampai pada tahun 2020. Jika berkaca pada situasi sekarang, semboyan Trump sejatinya berbanding terbalik. “Trump makes America not Great Anymore!” Trump justru mempermalukan Amerika Serikat di hadapan mata warga seluruh dunia. Di tengah pandemi Covid-19 ini – dimana Amerika Serikat masih memimpin puncak klasmen kasus positif Covid-19 – Trump justru memperburuk citra Amerika.

Perilaku Trump tentunya akan menjadi pekerjaan rumah pertama yang harus diselesaikan oleh Joe Biden pada masa pemerintahaannya nanti. Biden pertama-tama harus memperbaiki kualitas Amerika Serikat di mata dunia dengan strategi dan kebijakan-kebijakan yang bijak. Inilah yang menjadi proyek besar kepemimpinan baru pemerintah Amerika Serikat. Jika tidak, di mata dunia, “America is not great anymore!”