Ada sayang,

Akhir bulan ini kamu ulang tahun, ya? cieee. lho, kok ayah ingat?. Ingatlah, asalkan jangan tanya aku tanggal atau ulang tahunmu yang keberapa bulan ini, ya. Bisa, sih ayah hitung kalau mau, tapi itu berarti ayah harus susah payah mengingat-ingat lagi angka tahun kelahiran kamu. Ugh, ayah cap apa aku ini.

Omong-omong, udah mimpi basah belum, Nak?. Beberapa bulan lalu sewaktu di kamar jelang kita bobo, ayah mendengar ibumu tanya kamu, apa sudah wet dream. “Belum, sumpah! demi aaaaa, lex” jawabmu waktu itu. Kalau menurutku, pertanyaan ibumu itu tidak penting sih, jadi Ada tidak perlu ambil pusing soal mimpi basah (ups! ayah sendiri bertanya, ya).

Memang, kalau aku perhatikan tontonan film yang kamu tonton di Netflix atau Disney: Film-film yang termasuk ada adegan “begituan”nya, ya. Maksud ayah, pada kebanyakan orang pengalaman apapun itu (termasuk pengalaman menonton film di dalamnya) akan terdorong dibenamkan sebagai ingatan di alam bawah sadar kita dan lalu ia akan muncul bila ada momentumnya di dalam tidur kita sebagai mimpi.

Mungkin, boleh jadi lantaran Ada tidak melibatkan emosi menontonnya dan tidak terkesan secara mendalam, itu memungkinkan tidak terjadinya mekanisme perekaman di bawah sadarmu, jadi jangan lagi mimpi basah, mimpi saja sekalipun tidak perlu datang dalam tidurmu. Lagi pula kalau pun datang mimpi itu (dan mimpi-mimpi lainnya) artinya itu sekedar kelanjutan kegiatan pikiranmu selagi kamu tidur. Itulah mimpi--pikiran bising di alam tidur. Ia bukanlah pertanda apa-apa, bukan juga firasat sakral.

***

Tahu tidak nak, sewaktu kamu umur 7 di kandungan Ibu, kita pergi bertiga ke Cipanas Bogor untuk retreat meditasi vipassana 3 hari. Peserta retreat yang lain adalah 3 couple berkebangsaan India. Cuma Ibumu peserta yang tengah keadaan hamil, dan itu bikin peserta lain tidak fokus retreat, heee. Di dalam retreat kami dibimbing untuk tidak saling interaksi apalagi ngobrol satu sama, tapi mereka malah menyapa ibu lewat seulas senyum sambil mengusap-usap perut ibu. Mungkin kamu juga merasakan usapa-usapan itu.

Yang Ayah mau ceritakan padamu, nak: di dalam retreat kami berlatih diam; kamu yang gak mau diam, mengusik perut ibu terus dari dalam perut. Setiap ayah dan ibu sedang duduk berdiam diri di alam terbuka; kamu gerak-gerak terus sampai ibu mengaduh-aduh, begitu juga kalau sedang mendengarkan pembimbing membabar dharma pada sesi kelas. Sampai ayah mikir: “Apa nih anak tidak betah diajak retreat? , apa nih bocah bakalan jadi anak super aktif nantinya, apa nih anak jadi setres diajak meditasi?” Lha, kok pikiran ayah jadi bising ya, ikut retreat alih-alih pikiran diam pikiranku malah melantur. Nah, kejadian saat itulah momen di mana ayah mengerti apa itu pikiran bising.

Buah retreat itu bagi ayah adalah apa yang kami lihat sehari-hari dari perilakumu. Sebagai balita, kamu terlalu kalem, tenang, intens dan manis, sampai-sampai bikin ayah khawatir ada sesuatu yang di luar kenormalan. Antara lain yang bikin kami penasaran adalah bagaimana sih kalau kamu menangis; kamu jarang menangis.

Sekalinya menangis (itu menjadi tangisan yang paling mengesankan, aku berjuang untuk melupakannya) sewaktu kamu tiba-tiba tertarik satu mainan. Kamu tidak meminta, tapi menangis, sambil memegang mainan itu: tembak-tembakan.

Kami sering membawa kamu ke tempat mainan. Ayah sering menawarkan kamu segala mainan. Ayah punya cukup uang di kantong. Tapi kamu dingin, tak tertarik. Kami memaksa membeli; kamu tidak ada ekspresi, kamu tak ingin, biasa-biasa aja. Aneh.

Sampai mungkin waktu kamu berumur 6, itulah kejadian pertama kali kamu "menginginkan". Tetapi kamu tidak punya bahasa untuk memintanya kecuali menangis pilu. Tahukah kamu, nak, hati kami tersayat melihat dan mendengar bagaimana isak tangismu juga sekaligus riang gembira: ternyata kamu anak yang normal: punya keinginan. Karuan kami belikan, bahkan kami tawari juga mainan-mainan lainnya; kamu hanya minta 1: tembak-tembakan.

***

Banyak kejutan yang kami hadapi sebagai orang tua. Kamu anak yang tidak gembira dengan situasi kompetisi. Padahal orang bilang hidup adalah persaingan sampai mati.

Suatu kali pernah tiba-tiba di tengah arena tanding taekwondo kamu memutuskan berhenti tidak mau melanjutkan tanding lagi, padahal selangkah lagi medali emas kamu raih. “Aku enggak mau tendangin kepala anak orang terus” itu ucapanmu memberi alasan; kamu buka pelindung badan dan kepala dan membuangnya di depan kami. Kami diam. Sabam (pelatih) dan teman-teman kecewa. Kalau saja kamu tanding, minimal tidak tangan kosong tim kamu pulang, karena yang lain sudah tumbang sebelumnya.

Begitu juga pada semua kegiatan lain yang di situ terdapat nilai kompetisinya, kamu selalu menunjukkan keengganan. Entahlah, apakah kamu juga di situ melihat kebenaran yang terdapat di dalam semangat kompetisi?: kekerasan yang dirayakan. Jika itu yang ada, kami cukup bergumam, “Jaal haq wa zahaqol bathil” (telah datang kebenaran dan telah sirna kebatilan), sadhu, sadhu, sadhu.

Kami tak akan memaksa. Hidupmu bukan hidup kami. Menjamin terpenuhinya kebutuhan hidup dasar selagi kamu belum mampu memenuhinya sendiri, itu adalah maksud keberadaan kami di sisimu. Lebih dari itu tidak. Kami tidak punya agenda apa-apa untuk hidupmu. Secuil pun tidak kepikiran: kamu mau kami bentuk jadi apa. Banyak kemauan telah membuat kami dan banyak orang dewasa lainnya rusak hidup dan kehidupannya. Cukup.

Kami tidak mau jadi algojo pemaksa buat anak-anak kami. Biarlah kamu tumbuh alami. Kamu ingat peristiwa sewaktu kamu minta berhenti sekolah?. Saat itu, ayah dan ibu baru saja keluar ruangan gurumu setelah menerima rapor kenaikan kelasmu. Sesuatu kami tidak ceritakan padamu waktu itu sampai tulisan ini aku buat: wali kelasmu bilang pada kami bahwa kamu 5 besar jagoan IPA dan Matematika di kelas. Bukannya bangga, kami malah muak mendengarnya. Mengapa sekolah ikut menjadi sponsor pengkotak-kotakan manusia. Sekolah telah menjadi pabrik pembuat tumpul kepekaan batin anak melalui pengukuran-pengukuran pencapaian yang dangkal.

Jadi bukan kebetulan: kemuakan kami diamini oleh keputusanmu untuk berhenti sekolah. Masih di halaman sekolah saat itu, kita bersepakat: “sayonara” dengan sekolahLalu kita berpelukan bertiga.

***

Eh, nak, kata eyang uti, kamu anak yang tidak takut dosa, ya? Jadi, aku dengar sewaktu kamu main ke rumah Yang uti, lalu datang waktu sembahyang. Uti minta cucuk-cucuknya sembahyang, kecuali kamu. “Putuku satu ini sih ora takut duso” begitu gerutu uti.

Kalau boleh usul, lakukanlah, untuk menyenangkan hati Yang utimu. Ini cuma usul, lho, nak. Memang kami tahu kalau kami tidak punya kebenaran dan tidak punya cukup hujjah untuk meminta kamu sembahyang dan rutin melakukannya. Dan sekedar menakut-nakutimu dengan dosa dan siksa neraka juga bagi kami adalah kekerasan yang ditiupkan sebagai napas hidup padamu. Kami tak mungkin melakukannya.

Bagi kami, kebenaran tidak ada pemiliknya, biarlah ia datang mengungkapkan diri dengan caranya sendiri padamu. Kebenaran dikatakan kebenaran bila kamu tangan pertamanya. Bukan katanya. Tidak ada yang punya otoritas untuk soal itu.

“Kira-kira nanti SMA kamu mau sekolahkah?” tanyaku iseng suatu hari. “Enggak. Enggak tahu dan enggak usah ngomongin yang nanti” jawabmu. Aku diam. “Adik sayang ayah, enggak?” Lanjutku menggoda. Kamu lompat, menindih ayah di kasur, lalu berlagak memiting, mengunci tangan dan kaki ayah, kita bergulat ala Smackdown. Kasur berantakan dan ibu teriak-teriak. Dirgahayu. Yang ke berapa ya, Nak?.