Mushaf al-Quran yang kita pegang saat ini, dalam penyusunannya tak lepas dari sejarah.  Dahulunya al-Quran belum berbentuk satu mushaf sempurna dengan urutan surah yang teratur, tetapi ia terbagi-bagi dalam shuhuf-shuhuf (lembaran-lembaran). 

Telah banyak diketahui pula bahwa al-Quran turun secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun sejak diutusnya Nabi Muhammad salallahu alaihi wa sallam dan kronologi turunnya ayat pun tidak sama dengan urutan ayat yang tersusun di mushaf saat ini. Seperti contoh ayat al-Quran yang turun pertama kali adalah ayat 1-5 surah al-Alaq tetapi ia bukanlah surah pertama dalam susunan al-Quran melainkan surah ke 96.

Umat Islam meyakini bahwa susunan ayat al-Quran yang ada berdasarkan ketentuan dari Allah. Hal ini dikuatkan dengan adanya riwayat-riwayat dari sahabat yang menyebutkan bahwa dalam memposisikan susunan ayat dilakukan sesuai dengan intruksi dari Nabi. Salah satunya riwayat dari Ustman bin Abi al-Ash yang mengatakan bahwa saat ia sedang duduk bersama dengan Nabi, beliau memalingkan pandangan ke satu titik kemudian bersabda, “Malaikat Jibril menemuiku dan meminta agar menempatkan ayat ini (ayat 90 surah an-Nahl) pada bagian surah tertentu.”  Selain itu pula dalam salat 5 waktu, tidak boleh menyalahi urutan ayat yang ada dan tidak pernah terjadi perbedaan pendapat tentang urutan ayat yang dibaca imam salat di masa Nabi maupun sekarang.

Berbeda di kalangan orietalis, penyusunan al-Quran secara taufiqi ini tidak dapat mereka terima. Mereka berpendapat bahwa riwayat yang menyebut penempatan ayat berdasarkan instruksi Nabi tentu tidak mungkin dilakukan untuk mewakili seluruh unit wahyu yang turun selama kurun waktu 23 tahun. Ditambah dengan kecurigaan mereka tentang baru berakhirnya proses kodifikasi al-Quran pada masa pemerintahan Ustman bin Affan yang memungkinkan terjadi pengubahan susunan al-Quran oleh Abu Bakar, Ustman, atau Zaid bin Tsabit selaku penulis mushaf. Nah, kecurigaan semacam ini akhirnya menginspirasi para orientalis untuk menelusuri sejarah al-Quran dengan jalan menyusun al-Quran berdasarkan penanggalan kronologisnya.

Pelopor dari penyusunan al-Quran secara kronologis ini adalah Theodor Noldeke. Ia seorang berkebangsaan Jerman yang lahir pada tahun 1836 di Hamburg. Sama seperti pendahulunya, Abraham Geiger, ia sepakat dengan mengatakan bahwa al-Quran merujuk kepada tradisi Nasrani-Yahudi. Noldeke memfokuskan dirinya untuk mengkaji sejarah al-Quran dimulai dengan menerbitkan buku yang berjudul sama dengan kajian yang ia geluti yaitu Geschichte des Qurans (Sejarah al-Quran). 

Di dalam buku tersebut ia membahas seluk beluk sejarah al-Quran di antaranya tentang asal-usul al-Quran, kronologi al-Quran, dan Manuskrip al-Quran.  Dari dialah banyak sarjana-sarjana dari kalangan muslim maupun non-muslim setelahnya yang terinspirasi untuk menulis tentang sejarah al-Quran.

Dalam mengkaji sejarah al-Quran, Noldeke menggunakan data yang bersumber dari riwayat-riwayat sejarah dan tafsir untuk mengurutkan penanggalan unit-unit al-Quran.  Darinya ia mendapat hasil dan merumuskan empat periode al-Quran yaitu tiga periode Mekkah dan satu periode Madinah. Sebenarnya pembagian periodisasi al-Quran telah lebih dahulu dilakukan oleh Gustav Weil dan dengan munculnya periodisasi al-Quran oleh Noldeke, ia tidak lebih seperti mencotek kepada pendahulunya. 

Namun, apa yang disusun oleh Noldeke ini kemudian mendapat koreksi dan revisi dari muridnya, F. Schwally dan pada akhirnya menjadi rujukan utama penyusunan aransemen al-Quran oleh para orientalis sesudahnya. Adapun periodisasi al-Quran yang disusun Noldeke secara singkat adalah:

periode Mekkah pertama, surat-surat yang masuk kelompok ini berciri surat-surat yang pendek, memiliki rima, banyak yang diawali dengan kata sumpah, dan bahasanya yang indah. Contohnya adalah surah al-Alaq, al-Muddassir, dan al-Quraisy.

Periode Mekkah kedua berciri terdiri dari surah-surah yang lebih panjang dan terkesan berbentuk prosa tanpa menghilangkan sisi keindahannya. Di dalam periode ini juga ditekankan kata ar-Rahman yang mununjuk pada nama Tuhan, deskripsi tentang surge dan neraka, dan pengenalan kisah-kisah pengazaban umat nabi terdahulu.  

Periode Mekkah etida memiliki ciri mencakup surah-surah yang lebih panjang dan lebih membentuk prosa. Dikatakan di periode ini unsur keindahan puitis seperti di periode sebelumnya telah pudar dan di periode ini pula penggunaan ar-Rahman telah berakhir.

Meskipun kajian yang dilakukan Noldeke terlihat telah matang, namun sebenarnya itu tidak lebih dari asumsi-asumsi saja. Dari kalangan Muslim pun sudah ada yang membentuk kronologi al-Quran dengan berdasarkan asbabun nuzul tetapi kemudian dinyatakan bahwa menelusuri al-Quran secara kronologis hanyalah sia-sia dan mustahil. 

Tidak ada yang benar-benar mengetahui urutan al-Quran secara kronologis dan tidak bisa dibuktikan bahwa periodisasi al-Quran yang disusun oleh para orientalis salah atau benar. Namun dari sini kita dapat melihat kesungguhan yang dilakukan Noldeke untuk mengkaji al-Quran terutama dalam segi sejarah, walaupun tidak lepas dari kritik.