Beberapa bulan lalu, April 2019, saya mendapat undangan menjadi pewicara dalam seminar jurnalistik Universitas Muhammadiyah Cirebon. Karena itu undangan dari IMM, organisasi mahasiswa yang juga menjadi tempat saya berproses, maka tak banyak mikir, saya pun menyanggupi undangan tersebut.

Nah, melalui tulisan ini, saya mau berbagi sedikit tentang diskusi dalam seminar itu.

Dalam seminar itu, saya bukanlah pewicara tunggal. Ada Pak Dikhorir Afnan atau panggil saja Pak Diko. Pembahasan pun jadi menarik karena pengalaman Pak Diko begitu banyak, mulai dari menjadi wartawan koran lokal sampai mengurusi bidang media Bupati Cirebon.

Seminar yang dihadiri sekitar 100 mahasiswa itu menjadi makin menarik karena mereka ternyata memiliki keresahan terhadap media massa saat ini.

Oh iya, seminar jurnalistik ini membahas persoalan-persoalan media massa mutakhir. Saya sendiri menyampaikan beberapa poin penting kepada mahasiswa bahwa sebagai pembaca media di era pasca-kebenaran (post-truth) saat ini, kaum muda harus kritis dan cerdas. Maka dari itu, saya menyarankan peserta memiliki literasi media yang baik.

Ironi

Sebuah ironi muncul ketika saya tanyakan kepada para mahasiswa, siapa yang suka membaca koran atau media cetak. Tak ada yang mengangkat tangan. Kemudian, saya tanya lagi, siapa yang suka membaca koran daring (online). 

Ada beberapa mahasiswa yang mengacungkan tangan. Tapi itu pun masih bisa dihitung jari. Sampai saya pun berkelakar, "Jangan-jangan kebanyakan kita di sini bacanya status Facebook dan Lambe Turah?" sontak sambut tawa pun menyeruak.

Di sini, saya ingin menggarisbawahi bahwa literasi media di kalangan kaum muda kita masih terlampau rendah untuk bisa menghadapi era informasi terbuka seperti saat ini. Bahkan, di sesi diskusi, ada peserta yang mengungkapkan, "Saya tidak lagi membaca media massa, lebih suka membaca informasi di Twitter." Tentu fenomena ini disebabkan oleh beberapa faktor.

Dalam diskusi kami itu, memang tengah membahas soal media massa dan keberpihakan terhadap kepentingan politik. Mengingat memang momentum tahun politik yang sedang hangat. Jadi, ada mahasiswa yang berkesimpulan pindah dari media massa ke media sosial jauh lebih baik ketimbang mengikuti arus informasi di media massa yang menurutnya telah disusupi kepentingan politik.

Untuk keresahan ini, saya punya jawaban, bahwa di era saat ini informasi merupakan sebuah komoditas. Informasi kerap dijual-beli dan kadang mudah dipesan. Tapi, sikap skeptis terhadap media massa, bukanlah begitu ekspresinya. Skeptisisme terhadap media informasi harusnya dilakukan dengan kritis dan cerdas.

Kritis terhadap media massa artinya mencoba menganalisis dan membaca informasi secara lengkap dan utuh. Kemudian, jangan jadikan satu media sebagai patokan. Jika khawatir dengan informasi yang tidak berimbang, cobalah melakukan perbandingan (komparasi) dengan membaca berbagai informasi media lain.

Nah, jika soal adanya media provokatif, kita memang harus mewaspadainya. Ironis memang, di tengah keterbukaan informasi ini, justru kita bisa dengan mudah pula mendapatkan informasi yang tidak jujur, tendensius, dan penuh intrik. Jika tidak cerdas, jelas kita akan terjebak. Maka, cerdas membaca media massa itulah kuncinya. Media provokatif akan cenderung menyerang sisi emosional ketimbang fakta objektif.

Kalau boleh saya katakan, lebih baik percaya dengan media arus utama yang setia kepada fakta ketimbang media abal-abal yang hanya mengedepankan aspek emosional. Karena kadang judul memancing emosional tidak dibarengi dengan pemaparan fakta yang lengkap. 

Nahasnya, ada yang sampai memanipulasi data dan memalsukan fakta. Nah, maka harus waspada jika mendapatkan tautan berita di grup-grup Whatsapp atau medsos, bisa jadi kena karung (kabar burung).

Ibrah

Sebenarnya ada banyak poin diskusi dalam seminar itu. Insya Allah akan saya bahas di lain tulisan. Kali ini akan saya akhiri dengan sebuah hikmah. Bahwa kita harus kritis terhadap media massa dan informasi, itu benar. 

Bahkan, sejatinya memang daya kritis itu harus selalu hidup baik itu di ruang kelas, sekolah, maupun dalam percakapan sehari-hari. Karena dengan kritis itulah kita bisa mengupas suatu persoalan, ilmu pengetahuan, informasi, dan sebagainya sampai ke akarnya.

Karena dengan kritis itu pula kita bisa memaksimalkan potensi akal, menyehatkan akal pikiran. Namun, jangan sampai kita salah dalam menilai. Karena kritis itu harus pula bijaksana. Bijaksana artinya tahu proporsinya, cerdas, dan lihai bersikap. Sehingga kita tidak terjebak dalam ruang ilusi idealitas.

Ruang ilusi idealitas itu akan membuat kita selalu menyalahkan kenyataan, tanpa tahu bagaimana cara memperbaikinya. Contohnya dalam diskusi tadi. Ketika ada mahasiswa yang "pindah" ke Twitter

Padahal, Twitter--dan media sosial lainnya--itu ruang yang amat bebas dan terbuka, tidak seperti media massa yang punya mekanisme jurnalistik dan seperangkat kaidah informasi. Sehingga di sana ada pengolahan data, analisis, validasi, verifikasi, dan berbagai proses pengolahan informasi lainnya.

Jadi, mau percaya begitu saja dengan akun media sosial?