Materi Sejarah Indonesia kelas XI SMA yang akan saya sajikan pada akhir semester genap ini, berdasarkan kurikulum 2013, adalah peristiwa seputar proklamasi, merupakan bagian akhir dari materi pendudukan Jepang. 

Ketika membahasnya, tentu tidak terlepas dari situasi yang pada saat itu sedang berkecamuk, Perang dunia II. Juga janji Jepang dalam propagandanya, memberi kemerdekaan bagi rakyat Indonesia.

Pilihan pembahasan materi sepenuhnya ada di saya, guru sejarahnya. Tetapi mengajarkan berbagai peristiwa seputar proklamasi, tanpa mengkaji materi tersebut lebih dalam, saya pikir sayang. Sebab hanya akan berupa informasi yang diulang-ulang, Semasa SD dan SMP, mereka telah mempelajarinya. Bahkan barangkali bukan hanya di pelajaran sejarah.

Jika ingin memperdalam, apa yang akan diperdalam? Lantas sedalam apa kajiannya untuk anak-anak remaja yang kini duduk di bangku SMA ini? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan, yang sebenarnya sulit saya jawab. Perlu membedah kembali materi tentang psikologi belajar yang pernah saya dapat ketika berada di bangku kuliah.

Saya tidak akan berangkat dari sana, tetapi saya akan membahas materi dengan analisis-analisis sederhana. Untuk memantiknya, saya butuh pertanyaan-pertanyaan yang bukan mainstream

Menurut saya hal tersebut dapat menarik perhatian. Sebab mempertanyakan sesuatu yang selama ini telah mereka yakini kebenarannya. Atau pasrah pada kebenaran yang telah disampaikan bertahun-tahun, tetapi tanpa tahu kenapa? 

Menurut saya perlu juga siswa yang masih remaja ini diberi pertanyaan atau pernyataan kejutan. Sesuatu yang membuat mereka bertanya-tanya ulang.

Pemaparan Fakta

Saya akan merunut materi seputar proklamasi dari apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan Jepang di Perang Dunia II. Terutama terkait dengan posisi Jepang yang mulai terdesak dalam perang Asia Timur Raya. Juga akibat kesalahannya melibatkan Amerika Serikat dalam perang tersebut melalui penyerbuan Pearl Harbour.

Untuk tetap menanamkan pengaruhnya, Jepang membentuk BPUPKI ( Badan Penyelidikan Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI ). Sebuah badan yang mempersiapkan segala bentuk perangkat bagi lahirnya negara baru yang bernama Indonesia. Bahkan juga telah disepakati bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaan  Indonesia pada 7 September 1945.

Perang yang sedang terjadi ternyata membuat Jepang makin terpuruk dan berada di ambang kekalahan. Terlebih setelah AS menjatuhkan bom atom di dua kota berpengaruh Jepang, Hiroshima 6 Agustus 1945 dan Nagasaki 9 Agustus 1945. Peristiwa ini pada akhirnya membuat Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu, pada 15 Agustus 1945.

Sebelum menyerah, pada 7 Agustus, Marsekal Terauchi menyetujui pembentukan Dokuritsu Junbi Inkai atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang melanjutkan tugas BPUPKI, yang diketuai oleh Sukarno dan wakilnya Mohammad Hatta.

Untuk kepentingan peresmian dan pelantikan PPKI, Marsekal Terauchi memanggil Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat untuk pergi ke Dalat, Saigon. Pada pertemuan di Dalat pada 12 Agustus 1945, Jepang menegaskan bahwa bahwa Indonesia bisa memproklamasikan kemerdekaannya pada 24 Agustus 1945.

Dilansir dari situs resmi Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, pada 14 Agustus 1945, Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat kembali ke Jakarta. Rencananya 16 Agustus 1945 pagi Soekarno-Hatta akan memimpin sidang PPKI membicarakan tentang kemerdekaan Indonesia. Tentu saja juga hasil dari pertemuan tiga tokoh dari Dalat.

Namun pertemuan itu sendiri gagal, sebab pada malam harinya telah terjadi penculikan terhadap Sukarno dan Mohammad Hatta. Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai peristiwa Rengasdengklok.

Pertanyaan dan Pernyataan Kritis  terkait Fakta

Jika dicermati, terdapat rentetan peristiwa penting sejak peristiwa Dalat hingga peristiwa Rengasdengklok. Buku paket sejarah SMA biasanya tidak mengulasnya mendalam. Namun hanya sebatas memaparkan peristiwa-peristiwa tersebut dengan apa yang terjadi. Sehingga ini dapat menjadi ruang bagi guru sejarah untuk mengembangkannya melalui analisa sederhana.

Misalnya dengan membuat rangkaian infografik terkait peristiwa-peristiwa tersebut, agar siswa memahami alur atau kronologi peristiwanya. Lantas dari sana mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis. 

Mengapa terjadi peristiwa Rengasdengklok? Apakah peristiwa Rengasdengklok memiliki hubungan erat dengan rapat PPKI tanggal 16 Agustus ? Mengapa Rengasdengklok menjadi pilihan para pemuda membawa Sukarno? Apakah  ini memiliki hubungan dengan pembicaraan Wikana ketika menemui Sukarno? Mengapa terdapat pandangan berbeda antara golongan muda dan golongan tua?

Tentu pertanyaan-pertanyaan berdasarkan pengetahuan umum yang biasanya telah diketahui oleh para siswa. Seperti misalnya, Sukarno Hatta diculik dan dibawa ke Rengasdengklok, tujuannya adalah mendesak mereka agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. 

Rengasdengklok dipilih karena tempat tersebut jauh dari pengaruh Jepang. Dan penculikan tersebut disebabkan karena terdapatnya perbedaan pandangan antara golongan tua dan golongan muda. 

Biasanya pengetahuan ini melekat di kepala para siswa, tapi tanpa mengetahui apalagi memahami hal lain yang terkait dengan pengetahuan tersebut. Sudah dapat dipastikan pengetahuan tersebut text book.

Dugaan saya ini biasanya terbukti ketika saya mulai mengembangkan dengan pertanyaan, apa yang dimaksud dengan pengaruh Jepang? Bukankah Rengasdengklok itu adalah markas PETA yang secara kelembagaan juga masih merupakan bagian integral dari militer Jepang? 

Bukankah menjauhkan Sukarno-Hatta dari Jakarta, juga merugikan jika mereka menginginkan proklamasi segera, karena Proklamasi idealnya dilakukan dikota besar seperti Jakarta? Apa yang mendasari perbedaan pandangan golongan muda dan golongan tua, bukankah fakta di lapangan yang mereka hadapi sama? 

Sebegitu naifkah golongan tua sehingga begitu percaya pada Jepang, bukankah mereka telah sangat berpengalaman sebagai aktivis politik, masa tidak dapat menganalisis keadaan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi pemantik. Awal dari fokus mereka, dan jika mereka terpancing proses pembelajaran akan menjadi lebih hidup. Saya akan minta mereka mencari berbagai alternative jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. 

Bisa juga dengan melakukan searching internet. Tidak ada benar salah dalam proses pembahasannya. Semua boleh mengajukan pendapatnya, bahkan untuk jawaban yang paling tidak masuk akal sekalipun. Meski sebagai guru, hal tersebut menyebalkan.

Membangun Kesimpulan Bersama

Di akhir, saya akan menyatukan puzzle jawaban yang telah mereka temukan. Ada banyak alternative, tetapi  tentu ada poin-poin yang sesuai dengan kajian objektif yang dapat dijadikan patokan sebagai fakta ilmiahnya.

Misalnya mengapa Rengasdengklok dipilih sebagai tempat penculikan Sukarno Hatta, benar itu jauh dari kota Jakarta. Tetapi pengaruh Jepang itu kan tidak dalam konteks fisik, tetapi apa yang diyakini Sukarno, jelas jarak tidak akan berpengaruh signifikan terhadap perubahan pikiran. Pasti ada hal lain yang mendasari pilihan tempat tersebut.

Sehingga pertemuan  para pemuda pada 15 Agustus 1945 di Laboratorium Bakteriologi di Jalan Pegangsaan dapat menjadi pembahasan.. Rapat memutuskan mengirim Wikana sebagai pimpinan delegasi bertemu Soekarno. Wikana dan kawan-kawan datang menemui Soekarno dengan tuntutan untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. 

Jawaban Soekarno tetap sama dengan sebelumnya bahwa mereka hendak mempersiapkan kemerdekaan tanpa terburu-buru bahkan menantang pemuda untuk mengumumkan sendiri kemerdekaan.

Wikana melaporkan hasil pertemuan dengan Soekarno-Hatta yang menolak usulan mempercepat proklamasi. Kaum muda memutuskan tindakan tertentu harus dilakukan untuk menunjukkan tekad kaum muda ingin merdeka. 

Menurut Ben Anderson, Revoloesi Poemuda, tidak jelas siapa yang awalnya mengusulkan rencana untuk “menculik” Soekarno-Hatta. Pertemuan memilih orang yang akan menjadi pelaksana yaitu Chaerul Saleh, Sukarni, Wikana, dr. Muwardi, Jusuf Kunto, Singgih dan dr. Sutjipto (Anderson, 1988 : 96).

Bisa saja jawaban Sukarno inilah yang dianggap para pemuda sebagai pengaruh Jepang. Terlebih Jepang barangkali telah ‘menyihir’ golongan tua dengan janji kemerdekaannya pasca pertemuan Dalat.

Jika hal tersebut terkonsolidasi dengan baik dikalangan golongan tua yang saat itu tergabung dalam PPKI yang dapat dikatakan representasi Indonesia, maka dapat mengancam keberlangsungan cita-cita pemuda untuk segera melakukan proklamasi. 

Menculik Sukarno bisa jadi adalah upaya menggagalkan konsolidasi politik di kalangan tokoh-tokoh berpengaruh Indonesia. Sehingga pemahaman “menjauhkan pengaruh Jepang” bisa dipahami demkian.

Rengasdengklok dipilih, karena alasan para pemuda melihat kegamangan di kalangan golongan tua. Ini terlihat dari dialog Sukarno dan Wikana, ketika Wikana mendesak Sukarno untuk segera melakukan proklamasi. Takut terjadi pertumpahan darah, sesuatu yang “tidak biasa” bagi golongan tua. 

Dan jika benar itu nantinya terjadi, apa jaminan bahwa Indonesia memiliki kekuatan memadai, yang mampu mengimbangi kekuatan yang menolak proklamasi. Kekuatan tersebut bisa berasal darimana saja. Jepang, Sekutu, atau rakyat Indonesia sendiri. 

Rengasdengklok bisa jadi adalah cara pemuda membangun kepercayaan diri golongan tua, ingin menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kekuatan. Setidaknya tentara PETA yang bermarkas di tempat tersebut. Adalah mereka yang berpihak pada proklamasi. 

Meski kemungkinan juga bukan pada soal kegamangan golongan tua enggan berkonflik fisik, perang! Tetapi berkaitan erat dengan latar belakang kelahiran mereka.

Para golongan tua, adalah generasi yang lahir di era pendudukan Belanda. Mereka adalah kaum terpelajar, yang berjuang melalui jalur-jalur organisasi pergerakan. Memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, melalui praktik-praktik politik. Bukan kontak fisik bersenjata. Sementara para pemuda, adalah generasi yang lahir di era Jepang. Ketika datang ke Indonesia sudah dengan propaganda perang.

Menurut saya, kajian semacam ini menarik. Memberi nuansa baru dalam mempelajari sejarah seputar proklamasi. Meski sesungguhnya, kajiannya telah tersedia dalam banyak literature namun jarang disinggung. Karena tidak termasuk ke dalam materi esensial yang perlu diketahui siswa. 

Tetapi bagaimanapun, sejarah harus dihadirkan komprehensif agar tidak kering. Karena hanya memuat rentetan peristiwa. Sehingga di mata siswa hanya menjadi pelajaran yang perlu hafal mati. Padahal mestinya tidak demikian. 

Pemaparan ini adalah satu dari sekian alternative cara yang dapat digunakan sebagi sebuah pendekatan dalam memahami materi sejarah di SMA. Dimana siswa sudah memiliki daya analisis yang memadai untuk mengkaji sebuah peristiwa sejarah.

Daftar Bacaan