Informasi bukan lagi hal yang sulit didapatkan. Sekarang ini, orang dengan mudah bisa mendapatkannya. Tanpa dicari sekalipun, informasi dengan sendirinya menghampiri, contohnya insta story, status WhatsApp, Facebook, dan Twitter. Rata-rata status di media sosial itu tidak diinginkan kecuali oleh "Si mpunya akun". 

Kendati begitu, sebagai sesama pengguna media sosial, kita sering penasaran kemudian melihat apa yang diunggahnya. Belum lagi dengan media berita dalam jaringan, media cetak, dan media audio visual (baca: YouTube). Inilah tanda dari keterbukaan informasi yang sangat luar biasa, dan merupakan impian banyak orang sejak kebebasan individu digaungkan.

Keterbukaan tidak selalu membawa kita pada kesenangan apalagi kedamaian. Informasi yang setiap hari membanjiri hidup manusia modern, sanggup menenggelamkannya dalam realitas yang tidak benar-benar nyata. Seperti yang dikatakan Noam Chomsky, berita atau informasi adalah rekonstruksi dari sebuah realitas, artinya bukan realitas sesungguhnya (Chomsky: 2008).

Realitas yang direkonstruksi rentan terjadi pengurangan atau penambahan bahkan distorsi sekalipun. Dalam studi media dan budaya kritis, berita atau informasi sangat bertautan dengan faktor-faktor produksi, di antaranya ideologi, sejarah, kepentingan, dan kekuasaan (Aris Badara:2014).

Meskipun sebagian besar orang sadar akan kenyataan bahwa informasi adalah hasil rekonstruksi, tetap kekeliruan lebih sering terjadi daripada kecermatan. Chomsky juga mengatakan bahwa kehidupan masyarakat modern sudah diperantarai oleh media informasi, semua kehidupannya sangat bergantung pada media.

Kita tidak bisa membendung arus informasi yang mengalir deras sekarang ini. Karena membendung alirannya, sama dengan menutup kembali pintu yang sudah lama dimimpikan untuk terbuka, yang artinya mengembalikan zaman ke masa otoritas informasi hanya dipegang oleh institusi negara yang cenderung tidak demokratis.

Namun membiarkannya tanpa ada filtrasi, maka akan menimbulkan kekacauan yang tidak bisa diperkirakan; misalkan media dimanfaatkan untuk meneror orang lain, untuk menjatuhkan lawan politik, untuk memecah kohesivitas masyarakat, untuk menebar berita bohong (hoaks), dan lain-lain. Meskipun begitu, banyak hal positif yang juga didapatkan, seperti meningkatkan penghasilan lewat toko online.

Di Indonesia, "The power of media" sangat dirasakan. Sejak awal abad ke-20, kaum Bumiputera berlomba-lomba menerbitkan surat kabar untuk mempromosikan nilai-nilai kebangsaan. Ben Anderson mengatakan surat kabar berhasil membentuk masyarakat bayangan yang di kemudian hari menjelma menjadi sebuah entitas politik yang terbatas dan berdaulat yang kemudian dikenal dengan nama "Bangsa" (Anderson: 2013). 

Hal yang demikian kian begitu dirasakan sejak tahun 2016 sampai sekarang di mana kekuatan media mampu memobilisasi masa yang sangat banyak. Terakhir bangsa Indonesia dihebohkan dengan pernyataan hoaks dari Ratna Sarumpaet yang terungkap pada 3 Oktober 2018.

Dengan terungkapnya kasus Sarumpaet, maka jelas kalau informasi di media itu tidak utuh, melainkan hasil rekonstruksi. Bukti yang lebih kongkritnya lagi adalah rentetan aksi yang dibuat oleh kelompok yang mengatasnamakan Islam pada tahun 2016-2017. 

Di awal, media memberitakan bahwa aksi itu adalah murni dari keinginan umat yang tidak ingin agamanya dihina. Namun lambat laun gerakan itu bermuara pada gerakan politik praktis. 

Setahun lebih yang lalu saya sempat menulis di qureta.com dengan judul "Kritik atas Tiga Rangkaian Aksi". Secara singkat, saya menganjurkan kepada para pembaca untuk kritis terhadap berbagai pihak yang terlibat dalam aksi dengan memverifikasi juga membaca pola gerakannya terlebih dahulu.

Hemat saya, daya kritis masyarakat Indonesia terhadap informasi yang berseliweran masih sangat rendah. Buktinya, banyak dari kita yang langsung percaya dengan berita yang tidak jelas referensinya. Sekalipun jelas referensinya, kita tidak selayaknya begitu saja percaya, perlu verifikasi yang matang. 

Parahnya lagi, kondisi gemar menebar berita bohong menimpa orang-orang yang berpendidikan di atas Sekolah Menengah Atas. Kalangan itu seharusnya lebih selektif dan berhati-hati karena sudah dibekali ilmu.  

Rendahnya literasi juga adalah penyebab utama dari mudahnya hasutan demi hasutan masuk dalam kehidupan masyarakat Indonesia setiap hari. Untuk konteks Indonesia, revolusi informasi belum sepenuhnya dipahami. Akibatnya, kebebasan diterjemahkan dengan nilai-nilai negatif. 

Untuk menanggulangi itu, literasi masyarakat Indonesia harus terus ditingkatkan. Sepatutnya mulai sekarang ini sikap kritis ditanamkan pada anak-anak generasi milenial sehingga tidak hanya menelan mentah-mentah informasi. Jangan sampai keterbukaan yang tidak mampu diterjemahkan dengan baik membawa bangsa ini pada kehancuran atau anarkisme.

Mengutip lirik lagu Efek Rumah Kaca, "Banjir informasi banyak kontradiksi, berhati-hati awas jalan berduri, argumennya kasar jauh dari handal tak masuk akal kasar menjurus brutal".