Mahasiswa
1 tahun lalu · 249 view · 4 menit baca · Saintek 44635_13125.jpg
Sains Quran

Kritikku terhadap Islamisasi Sains

Belakangan ini wacana islamisasi sains dan agamaisasi sains mulai merebak di media massa, baik majalah atau televisi. Hal ini membuat umat Islam meyakini bahwa agamanya sesuai dengan sains modern, dan apa yang ada di dalam kitab suci secara literlek sesuai dengan teori ilmiah

Apa itu 'sains Islam' dan islamisasi sains? Islamisasi sains adalah upaya dari beberapa cendekiawan muslim untuk merekonstruksi sebuah metode saintifik yang sesuai dengan nilai-nilai dan ajaran agama Islam. Islamisasi sains adalah suatu proyek untuk mencari metode yang tepat untuk mengintegrasikan antara agama dan sains yang kemudian akan merekonstruksi sebuah model sains Islam.

Namun hingga saat ini belum ada definisi dan metode yang baku dalam merumuskan sains Islam. Bahkan belakangan ini muncul berbagai model dan teori mengenai integrasi antara Islam dan sains. Ada model yang berusaha membuat garis demarkasi antara sains sekuler dan sains religius, ada pula yang berusaha mengharmonisasikan sains dan agama, adapula yang  berusaha memasukan konsep etika Islam dalam sains .

Dalam dunia akademis, wajar dan sah-sah saja jika ingin menampilkan sebuah gagasan, termasuk wacana islamisasi sains. Namun jika memang ingin serius untuk mengkonstruk sebuah "sains Islam", maka harus ada konsep yang matang dan jelas mengenai wacana tersebut, sebab di antara para ilmuwan muslim itu sendiri ada perbedaan metode  mengenai konsep hubungan sains dan Islam.

Mari kita bedah metode-metode serta cara pandang para ilmuwan muslim tersebut terhadap integrasi antara sains dan agama.

1. Mereka yang berpandangan bahwa teori sains itu shahih dan ayat Alquran itu juga shahih, maka keduanya dicocokkan, maka lahir tokoh seperti Maurice Bucaille dan Harun Yahya (Zakir Naik juga termasuk). Posisi mereka disini adalah mencocokan dan menta'wilkan ayat-ayat Alquran dengan sains.

Namun kelemahannya point 1 ini adalah tidak ada sesuatu yang baru, alias tidak menelurkan suatu hipotesis dan teori yang orisinal dari seorang ilmuwan muslim untuk perkembangan sains modern.

2. Mereka yang berpandangan bahwa sains memiliki kebenaran sendiri dan agama memiliki kebenaran sendiri yang keduanya berjalan secara diametral dan tidak ada konflik di dalamnya. Pandangan ini dianut oleh Dr. Abdussalam dan Dr. Parvez Hoodbhoy.

Sebenarnya, mereka tidak setuju pada ide islamisasi sains. Bagi mereka, sains dan agama adalah kedua ilmu yang sama-sama mengeksplorasi alam dalam bidangnya masing-masing.

Ilmu sains natural untuk mengkaji alam fisik/materi sedangkan agama adalah untuk mengkaji alam metafisik. Islamisasi ilmu yang benar bagi mereka adalah, seorang muslim harus mempelajari sains dan tehnologi dengan giat dan bersikap kreatif agar dapat menghasilkan sebuah teori ilmiah

3. Mereka yang berpandangan bahwa teori sains itu tidak shahih tapi zhani (dugaan), dan ayat Alquran (secara literal) adalah shahih, maka setiap ada teori sains yang tidak sesuai bahkan tidak ada anjurannya dalam teks zahir Alquran, maka teori tersebut tidak diterima, sebaliknya jika teori tersebut terkonfirmasi dalam Quran maka diterima. Pandangan ini adalah pandangan Syaikh Utsaimin, Fauzan al-fauzan dan beberapa ulama Saudi.

Akibat islamisasi sains model ketiga ini yang berpacu pada penafsiran lahiriah teks, justru menimbulkan "sains baru" yang berlawanan dengan teori sains modern, contohnya: kebohongan global warming, kebohongan tentang ledakan penduduk, dinosaurus itu tidak ada, tidak ada galaksi-galaksi dan tata surya lain kecuali tata surya kita ini. Bumi itu berbentuk datar, bintang-bintang adalah pelempar setan yang mengelilingi bumi dan bumi sendiri posisinya adalah diam.

Poin yang ketiga ini adalah paradigma sains skriptural murni. Sains yang berlandaskan teks literal kitab suci dan tidak bersedia melakukan intepretasi serta penafsiran ulang pada kitab suci mereka. Celakanya, yang mendominasi saat ini adalah kelompok yang ketiga.

Sebagian dari ahli-ahli lulusan MIPA yang berorientasi pada wahabiyyah berpandangan bahwa apa yang tidak sesuai dengan yang terkonfirmasi oleh kitab suci, maka teori ilmiah tersebut sebaiknya ditolak atau minimal diyakini hanya sebagai teori, bukan sebagai kebenaran ilmiah.

Paradigma Ilmuwan muslim yang umumnya adalah sains skriptural justru membuat buram hakikat ilmu pengetahuan. Mereka belum bisa membedakan antara  fakta empiris dengan suatu doktrin yang  dipercaya hanya dengan iman. Keberadaan sains skriptural justru malah menghambat perkembangan sains di dunia Islam.

Hingga saat ini sebenarnya wacana islamisasi sains kelihatannya mulai mengalami stagnasi, kurangnya wacana segar dan tidak adanya sebuah teori ilmiah yang lahir dari berbagai metode Islamisasi sains tersebut telah membuat wacana ini sementara belum memiliki perkembangan yang menggembirakan.

Dari  tiga poin wacana Islamisasi sains di atas, hanya poin kedua yang masih bisa eksis, khususnya karena Dr. Abdus Salam adalah pemenang hadiah nobel dibidang fisika. Tetapi pandangan dari Abdus Salam dan Parvez  Hoodbhoy sendiri menolak metodenya disebut suatu ‘islamisasi’ terhadap sains. Bagi Parvez bukan membangun sains Islam, tetapi menumbuhkan tradisi saintifik dalam masyarakat Islam.

Jadi hingga saat ini bisa dibilang proyek islamisasi sains dalam menumbuhkan sains Islam belum menunjukan hal yang menggembirakan, malah semakin absurb dan akhirnya mengalami stagnasi. Belum adanya definisi yang baku dan hasil berupa teori ilmiah yang teruji membuat sains Islam sebagai suatu wacana yang masih berada dialam idea.

Jika proyek dari rekonstruksi sains Islam ingin benar-benar dijalankan dan diteruskan, maka para ilmuwan muslim harus membangun paradigma dan metodologi yang kuat dan objektif. Namun hingga saat ini sayangnya umat Islam masih terbuai oleh slogan keselarasan antara agama dan sains dengan menggunakan cocokologi antara sains dan agama.

Setidaknya kritikan saya ini untuk menjebol stagnasi dalam wacana Islamisasi sains dan menunggu pemikiran yang segar mengenai integrasi sains dan agama yang lebih kokoh dari para cendekiawan muslim. Atau kalau memang sulit untuk terwujud, sebaiknya tidak usah sama sekali. Wallahualam.