Sebenarnya unek-unek ini sudah lama saya rasakan semenjak masifnya transaksi jual-beli berbasis online berlaku di muka bumi. Tidak hanya saya saja sih sebenarnya. Teman saya, temannya teman saya,  dan orang-orang lain juga kerap kali misuh ketika mengalami ketidakpuasan ketika andok (sebutan orang Jawa Timur ketika makan di tempat) di rumah makan.

Entah itu rumah makan sederhana di pinggir jalan, atau rumah makan yang sudah menyandang predikat elite.

Sebelum saya jabarin unek-unek saya kepada para pemilik-pekerja rumah makan, alangkah baiknya saya akan jelasin dulu duduk perkaranya kenapa kritik ini perlu banget untuk disampaikan.

Begini, Pak, Bu, Mas, Mbak, atau siapa pun Anda yang memiliki rumah makan. Memang kita semua saling mengerti bahwa masyarakat kita sudah banyak yang memanfaatkan aplikasi seperti Grab dan Gojek buat beli makanan di rumah makan saudara sekalian. Sehingga siklus pelayanan pun mengalami banyak perubahan. Yang semula sibuk mencuci gelas dan piring, kini sibuknya beralih ke urusan mempercantik packing dan tampilan beranda di aplikasi.

Memang masalah teknis seperti itu penting, bahkan sangat penting, mengingat makin banyak dan kreatifnya para pemilik (akun) rumah makan dalam bersaing di ruang online. Sehingga mau nggak mau menuntut siapa pun yang ikut di dalamnya harus terus banting otak untuk berinovasi.

Tapi, tolong tetap memperhatikan pelanggan Anda yang masih setia datang langsung dan andok di sana. Jangan sampai karena sibuk ngurusi tetek bengek di pelayanan online, sampai lupa kalau ada pelanggan setia yang juga perlu diperhatikan kenyamanan dan kepuasannya.

Sebab, sebagai Sobat Andok garis keras, saya selalu merasakan ketidakpuasan ketika melihat ada hal-hal sepele yang mulai diremehkan oleh Anda-Anda para pemilik-pekerja rumah makan. Tidak hanya sekali dua kali, hampir setiap kali, lho. Tidak hanya di kota saya kuliah, rumah makan di tempat tinggal saya pun juga seperti itu. 

Mesti ada saja hal remeh yang membuat saya dan orang yang andok dengan saya merasa kurang puas ketika makan di tempat. Untung saja masakannya pas dengan lidah saya, kalau nggak, ya nggak mungkin saya balik lagi ke sana.

Maka dari itu, beberapa kritik yang akan saya sampaikan ini, semoga bisa menyadarkan Anda semua, para pemilik-pekerja rumah makan. Ini serius. Jangan dianggap biasa-biasa saja.

Pertama; masalah minuman. Masalah ini sudah nggak kehitung lagi, malahan kayak-kayak sudah jadi mindset bahwa ketika kita (para pelanggan) pesan makanan yang sepaket dengan minuman, maka yang diantar duluan adalah minumannya. Padahal bagi saya, itu adalah manajemen yang salah kaprah.

Bagaimana tidak? Semisal saya lagi pesan ayam geprek dan minumnya es teh. Terus es tehnya dikirim 5 menit lebih awal. Maka ketika makanan baru datang, es batunya pasti sudah hanyut duluan. Jadi es tehnya nggak seger lagi. Rasanya pun sudah terkontaminasi dengan es batu itu tadi. Anyep

Masih mending kalau rumah makannya mau ngasih es batu banyak, lah kalau ngasihnya pelit banget, sak upil, ya wasalam. Tenggorokan jadi kebakar.

Jadi saya harap ke depannya para pemilik-pekerja rumah makan agar mengirimkan minuman bersamaan dengan makanannya. Jangan sampai minuman dulu kemudian makanannya menyusul, atau malah sebaliknya. 

Sebab minuman adalah perkara yang sakral dalam ritual makan-makan. Jika tidak ditempatkan pada waktu yang pas, maka rasa klimaks dan kesakralan minuman tidak akan bisa dirasakan oleh para pelanggan. Catat itu.

Kedua; masalah peralatan pendukung. Untuk masalah kedua ini, yang paling sering saya temui adalah habisnya tisu dan tusuk gigi. Memang kedua benda tersebut sangat sepele dan jarang diperhatikan oleh para pemilik-pekerja rumah makan, sehingga ketika sudah berhari-hari kosong tanpa isi, baru diisi jika ada pelanggan yang minta atau komplain.

Bagi kami para pelanggan, khususnya saya, kedua benda tersebut amatlah penting. Apalagi kalau lagi pesen makanan yang bau-bau daging. Macam soto, rawon, dan sejenisnya, maka eksistensi tusuk gigi amatlah berpengaruh ketika ritual makan-makan telah usai. 

Kalau nggak ada tusuk gigi atau di tempatnya lagi kosong, lantas siapa yang rela membersihkan selilit yang nyelempit di sela-sela gigi saya? Apakah mbak kasirnya atau tukang parkir? Ya jelas sangat tidak mungkin.

Maka dari itu, tolong, secepatnya isi ulang tempat-tempat tisu dan tusuk gigi yang sudah kosong. Jangan sampai kami nggak bisa tidur nyenyak gara-gara masih ada selilit bekas makan daging di rumah makan Anda. Jangan sampai.

Ketiga; masalah makanan pendukung. Setelah peralatan pendukung, ada juga problem makanan pendukung yang sering kali tidak diurus oleh para pemilik-pekerja rumah makan. Sebut saja makanan pendukung itu; kerupuk, saus sama kecap.

Kita semua sebagai pelanggan pasti pernah merasakan pengalaman yang sama; yaitu mendapati botol saus dan kecap habis, atau kerupuk yang sudah melempem.

Jadi untuk masalah yang terakhir ini, tolong diperhatiin juga. Masak botol kecap sama saus udah habis masih dibiarin aja, nggak diisi ulang. Emang butuh waktu berapa menit sih buat isi ulang botol-botol yang kosong? Kan nggak sampe hitungan jam. Masa iya pelanggan disuruh mandiri ngoreti sampe getok-getok alas botol biar saus atau kecapnya bisa keluar. Kan males banget.

Baca Juga: Restoran Padang

Belum lagi kalau mendapati kerupuk yang sudah melempem tapi masih dipajang. Apa memang sibuk banget, sehingga nggak ada waktu buat ngecek bentar kerupuk-kerupuk yang ada di toples. 

Memang nggak semua orang suka sama kerupuk, tapi kan setidaknya kalau niat jual kerupuk ya sekalian rutin dicek kualitas kerupuk-kerupuk yang dijual. Biar nggak bintang saja yang dicek, kerupuk juga perlu.

Dari ketiga kritikan yang telah saya sampaikan di atas adalah hanya sebagian kecil dari pengalaman (ada juga beberapa pengalaman yang tidak mungkin saya jelasin semua di tulisan ini) saya selama andok di beberapa rumah makan. 

Memang kritikan-kritikan yang saya sampaikan terkesan receh dan remeh-temeh, tapi bukankah peristiwa suatu kebakaran rumah disebabkan oleh percikan-percikan kecil dari aliran listrik?

Maka dari itu, sebelum hal-hal kecil seperti yang telah saya jelaskan di atas menjadi boomerang yang sangat berbahaya bagi usaha Anda, maka mulai sekarang jangan lagi remehkan pelayanan dan manajemen di ranah offline-nya. Meskipun jumlah pelanggan yang datang langsung di tempat tidak sebanyak pelanggan yang membeli lewat aplikasi.

Semua tetap berhak mendapat pelayanan yang terbaik.