2 tahun lalu · 12956 view · 5 menit baca · Politik kawasan-kumuh.jpg
Ilustrasi: timorexpress.fajar.co.id

Kritik untuk Cania, Si “Ahoker Cerdas”

Sudah 2 kali saya membaca tulisan Cania Citta Irlanie berjudul "Agus Yudhoyono dan Ahokers yang Dungu". Kemarin pagi setelah beberapa menit diterbitkan, dan hari ini yang sudah jadi terpopuler di Qureta, bahkan jadi headline.

Dari judul dan isi tulisannya memang sudah pas, sesuai. Tapi saya melihat, kebenaran atau nilai tulisan seorang Cania ini masih jauh dari apa yang selama ini saya dapatkan. Soal gagasan Agus Yudhoyono yang disampaikannya sudah tepat. Tapi penilaian Cania untuk para penyinyir gagasan Agus inilah yang belum bisa saya terima secara penuh.

Saya heran, bahkan sekelas pendiri Qureta sendiri, Luthfi Assyaukanie, membagi tulisan ini dengan pengantar yang sangat manis. “Kritik Cania Citta Irlanie dalam tulisan ini sangat bernas. Sebagian pendukung Ahok memang kerap menjengkelkan. Perlu sekali-kali ditonjok seperti ini,” tulis Luthfi di laman Facebook-nya.

Apanya yang bernas? Sekali lagi, judul dan isi memang sudah sesuai. Tapi apakah hanya karena itu, kesesuaian judul dan isi tulisan, lalu sebuah tulisan bisa kita kategorikan sebagai yang bernas? Kata Ira Koesno, ditahan. Jangan terburu-buru memberi nilai.

Coba kita baca kembali secara pelan-pelan tulisan Cania. Inti gagasannya adalah mengkritik para pengkritik gagasan-gagasan Agus Yudhoyono selaku kandidat Pilgub DKI Jakarta 2017. Mulai dari soal Kampung Apung sebagai alternatif solusi penataan kota, penolakannya atas praktik penggusuran, sampai pada sebab-sebab terjadinya peningkatan kemiskinan yang bagi Agus sebagai akibat dari penggusuran yang dilakukan Ahok.

Semua Cania ulas dengan memperlihatkan kekeliruan para pengkritiknya, yang kemudian menyebut mereka sebagai “Ahokers yang dungu”.

Dari paragraf pembukanya saja sudah saya dapati satu kekeliruan mendasar dalam berpikir. Ia menulis, “Setiap kali Cagub DKI nomor urut 1 Agus Yudhoyono bicara di depan publik, timeline media sosial saya akan langsung dipenuhi ahokers yang nyampah dengan berbagai macam meme dan status nyinyir.”

Yang benar, setiap kali? Ini memang soal sepele. Tapi kebanyakan penulis kerap memulai tulisannya dengan satu pembuka yang bombastis. Demi menaikkan rating mungkin, kekeliruan berpikir yang sangat mendasar tak jarang ditunjukkannya dengan bangga, entah dalam keadaan sadar atau tidak. Begitu pun Cania, dia membukanya dengan nada yang over-generalization.

Ya, di samping Cania juga mendasarkannya dari kejengkelan pribadi. Dia muak dengan Ahokers yang nyampah di timeline-nya. Tapi satu yang baik yang patut dicontoh dari Cania adalah memberi respon dengan cara yang sangat bijak, yakni melalui tulisan, ketimbang apatis atau menghapus saja dari pertemanannya orang-orang yang dia nilai sebagai Ahokers yang dungu itu.

Mengkritik Secara Tidak Kritis

Seperti dapat dibaca, Cania memulai inti gagasannya dengan alternatif solusi penataan kota dari Agus Yudhoyono berupa Kampung Apung. Cania menilai bahwa tata kota semacam ini adalah win-win solution. Sungai bisa dilebarkan, warga pun tidak perlu mengalami penggusuran paksa.

Banyak memang Ahokers yang menyinyiri solusi tata kota model ini. Hanya saja, Cania tak mampu menangkap bahwa pengandaian Ahokers, meski berlebihan, yang mengilustrasikan Kampung Apung sebagai kota yang melayang-layang di udara, adalah bentuk penegasan bahwa tata kota tersebut sangat mustahil bisa terwujud.

Kenapa mustahil? Ini yang tidak dipikirkan Cania. Andai Cania menyimak baik penyampaian Ahok dalam debat Pilkada DKI Jakarta putaran pertama kemarin, saya yakin Cania tidak akan membuat pernyataan sedangkal itu.

Ahok telah sampaikan bahwa Jakarta adalah Ibu kota Negara. Sebagai Ibu kota, tidak boleh ada satu pun warga yang diperkenankan tinggal dan hidup di bantaran-bantara sungai, di kolong-kolong jembatan, dan di tanah-tanah mana pun yang bukan tanah milik pribadi mereka. Sebab tanah-tanah itu adalah tanah milik negara alias kepunyaan publik yang haram hukumnya diprivatisasi oleh siapa pun.

Tapi OK-lah, pembangunan Kampung Apung ini memang bisa dan mudah dilakukan. Seperti Cania sebut sendiri, tinggal pemerintah mengupayakan pelebaran sungai. Fondasinya menggunakan penyangga sebagai pemberat untuk mengurangi potensi pergeseran akibat gelombang dan/arus air. Tapi tepatkah jika ini kita sebut sebagai win-win solution sehingga warga tidak perlu lagi digusur?

Ini bukan hanya soal meminimalisir terjadinya banjir. Ini sekaligus soal menjaga kesehatan warga Ibu kota. Bisakah Cania jamin akan tersedianya air bersih bagi warga jika mereka hidup dan berak di atas permukaan air yang mengalir itu?

Saya tak bisa membayangkan bagaimana kondisi genangan dan aliran air jika saja demikian. Sampah, titik-titik sarang nyamuk, dan masih banyak lagi sumber-sumber penyakit yang akan berserakan di mana-mana.

Jadi, dua alasan di atas inilah yang saya kira melandasi penggusuran (relokasi) di masa jabatan Ahok. Bahkan akan terus diupayakan jika dirinya kembali terpilih sebagai Gubernur untuk periode kedua.

Jelas, Ahokers yang bilang bahwa “mereka (warga) memang harus digusur” jangan semata dinilai asal bicara. Tapi kenapa mereka (Ahokers) harus bilang begitu?

Seperti telah ditegaskan di awal, penggusuran adalah normalisasi. Sungai-sungai dikembalikan kepada fungsi yang sebenarnya, yakni sebagai sumber air kehidupan. Dan tentu, air ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup warga saja, tapi air juga adalah kebutuhan utama mahluk-mahluk hidup lainnya, terkecuali mungkin mahluk-mahluk halus.

Oh ya, Cania juga sempat mengutip perkataan warga Kampung Pulo, “Saya mau digusur, asal jangan ditukar dengan rusun, duit aja, bayarin tanah dan bangunan saya.”

Lah, memangnya warga yang bilang begitu adalah warga yang benar-benar pemilik sah atas tanah yang mau digusur? Bantaran sungai kok bisa dimiliki secara perorangan? Bagaimana ceritanya?

Di sini, setidaknya Cania perlu membaca tulisan bernas dari Denny Siregar. Dalam kumpulan status Facebook-nya berjudul Semua Melawan Ahok (2016), Denny tak lupa menjelaskan sejarah Kampung Pulo yang punya lebih dari 3.800 warga dengan luas lahan berkisar 8,5 hektar.

Kawasan yang berlokasi di bantaran sungai Ciliwung ini, jika di musim penghujan, kerap kali mengalami banjir sampai 2 meter tingginya. Warga selalu disibukkan untuk mengungsi. Dan di musim kemarau, sungai hanya dipenuhi oleh gunungan-gunungan sampah.

Itu sebabnya, sejak Ahok menjadi Wagub, Kampung Pulo menjadi salah satu sasaran tembak. Kenapa? Tak lain untuk menuntaskan janjinya supaya Jakarta bisa bebas banjir.

Tapi kenapa selalu bentrok? Itu karena ada beberapa warga yang tidak puas. Seperti yang Cania laporkan, mereka mau digusur asalkan mendapat ganti rugi tanah berupa uang. Maka bentroklah, sebab Ahok tak mengalokasikan dana itu secara tunai melainkan melalui pembangunan rusun-rusun untuk mereka.

Memang sulit memuaskan semua pihak. Dan kita sama-sama tahu itu. Sudah ciri khas manusia jika nafsunya bertingkat-tingkat. Dikasih hati, minta rempela; dikasih rempela, minta sayap; dikasi sayap, minta kepala. Begitulah.

Terakhir, Cania juga seraya membenarkan bahwa praktik penggusuran adalah faktor terjadinya peningkatan kemiskinan.

Inilah yang juga melandasi Agus Yudhoyono untuk menolak tegas adanya upaya penggusuran. Karena, seperti landasan Agus, yang tadinya punya sumber penghasilan di bantaran-bantaran sungai, setelah dipindah ke rusun, mata pencaharian itu jadi hilang. Ya iyalah, hilang. Namanya juga dinormalisasi.

Patut dicatat, tak hanya Agus tapi juga Cania sendiri, pindah ke tempat baru, adaptasilah yang dibutuhkan. Sehari-dua hari mungkin berat, tidak terbiasa. Semua butuh proses. Dan Agus, juga Cania, harus mampu dan jeli menyampaikan perkembangan kehidupan warga setelah proses pemindahan itu.

Sayangnya, sebagai Ahoker yang cerdas, Cania tidak memberi atau menjelaskannya secara utuh. Fakta inilah yang saya jadikan alas untuk menyebut tulisan Cania sebagai tulisan yang tidak/kurang bernas. Ya, kurang lebih sama dengan Ahokers dungu yang dikritiknya sendiri.