“Maklum aku orangnya pemarah karena aku Taurus.” “Hati-hati pacaran dengan Pisces karena orangya tukang selingkuh.” Kita pasti pernah mendengar pernyataan atau obrolan semacam itu. Pembahasan tersebut masuk pada suatu topik yang disebut sebagai astrologi, termasuk di dalamnya adalah zodiak, shio, hingga weton.

Di zaman sekarang di mana perkembangan ilmu sains terutama astronomi dan astrofisika sangat pesat, orang masih banyak yang percaya dengan astrologi. Bahkan, tak jarang juga orang yang tersinggung bila kita mempertanyakan stance mereka terhadap astrologi.

Di sini pertanyaan dapat muncul berbagai pertanyaan: Benarkah pergerakan dan formasi benda-benda langit dapat menentukan karakter kita? Apa buktinya? Sebelum ke sana, kita akan membahas secara singkat terlebih dahulu tentang astrologi.

Astrologi berasal dari bahasa Yunani astron dan logos yang berarti ilmu tentang bintang-bintang. Awalnya, istilah ini merujuk pada studi tentang benda-benda langit dan kosmologi. Namun, perlahan istilah itu bergeser menjadi astronomi dan astrologi hanya mengkaji horoskop atau keilahian benda-benda langit yang dianggap dapat menentukan nasib.

Secara historis, sebenarnya manusia mulai mengobservasi langit beserta benda-benda apa saja yang ada di sana. Sejak zaman Babylonia, mereka membagi langit menjadi 12 sisi karena sistem bilangan dasar mereka adalah 12. Oleh karena itu, zodiak pun juga berjumlah 12.

Pada masa itu, orang masih bisa mengobservasi langit dengan mata telanjang secara jelas karena kadar polusi pada masa itu jauh lebih rendah daripada sekarang. Lalu, mereka mampu mengidentifikasi 7 benda langit yang memiliki orbit yang unik sehingga disebut sebagai planet. Planet atau bintang tersebut adalah Matahari, Bulan, Mars, Venus, Merkurius, Jupiter dan Saturnus.

Ke-7 bintang dengan pergerakan yang unik tersebut dianggap sesuatu yang ilahi di mana terdapat para dewa yang ada di sana. Sehingga, mereka beranggapan bahwa pergerakan benda-benda tersebut dapat memengaruhi nasib kehidupannya.

Astrologi juga berkembang hingga zaman Yunani Kuno, Romawi dan di berbagai kebudayaan lain seperti di China. Secara prinsip utama, mereka memiliki kesamaan: Yaitu astrologi merupakan sesuatu yang berperan besar dalam menentukan kehidupan mereka.

Pada masa modern kini, terjadi perubahan paradigma yang menyatakan bahwa astrologi hanyalah sebuah pseudosains. Dengan kemajuan dalam bidang astronomi, tidak ada bukti empiris yang mendukung bahwa pergerakan benda-benda langit berkorelasi langsung dengan mood, kepribadian dan nasib seseorang.

Jauh sebelum sains modern memberikan sanggahan dan pengujian terhadap astrologi, beberapa pemikir di masa lalu juga pernah melontarkan kritiknya terhadap astrologi, salah satunya adalah St. Agusttinus (meski ia mengkritiknya dengan menggunakan pendekatan yang berbeda).

St. Agustinus hidup di masa ketika banyak sekali penduduk Romawi yang memercayai astrologi karena termasuk bagian dari ajaran inti dari kepercayaan mereka. Bahkan sebelum menjadi santo, St. Agustinus juga merupakan pengikut suatu kepercayaan yang bernama Manichaeisme hingga akhirnya memeluk agama Kristen dan diangkat menjadi orang kudus.

Dalam tulisannya Confessions pada buku ke-4, St. Agustinus memberikan perhatian khusus pada astrologi. Dalam pengakuannya, ketika masih muda, ia juga sering menemui para ahli astrologi untuk berkonsultasi. “Aku begitu bersemangat untuk mempelajari buku-buku horoskop”, begitulah ia sangat penasaran terhadap astrologi.

Seiring bertambah dewasa, ia mulai meragukan validitas dari astrologi yang dianut banyak orang pada saat itu. Karena pengaruh dari temannya, Nebridius, Agustinus kemudian berpandangan bahwa astrologi itu sepenuhnya palsu.

Hal ini juga menjadi titik awal sikapnya yang ingin membuang jauh-jauh pengaruh agama lamanya, Manichaesime, di mana astrologi juga merupakan salah satu ajaran penting di dalamnya dan juga melabelinya sebagai false religion. Ahli astrologi yang mencocokan bait demi bait dengan horoskop dianggapnya tidak lebih dari sekadar ahli retorika saja.

Meskipun jika ada ramalan tersebut yang kemudian dianggap tepat memprediksi jalan kehidupan dan realitas seseorang, Agustinus menganggap hal tersebut hanya sebuah kebetulan belaka karena prediksi astrologi bukanlah prediksi matemaris yang lebih bisa diuji.

Dalam bukunya “De Cevitate Dei”, Agustinus mengkritisi lebih lanjut lagi tentang astrologi. Menurutnya, kejayaan kekaisaran Romawi bukan ditentukan oleh nasib yang bersumber dari pergerakan bintang-bintang, melainkan karena kehendak Tuhan.

Mereka yang percaya bahwa pergerakan bintang-bintang mengatur segala lini kehidupan mereka seperti apa yang baik dan buruk untuk kita serta apa yang seharusnya kita lakukan akan semakin menjauhkan diri mereka dari kehendak Tuhan yang sejati.

Penyebab terpecah belanya kekaisaran Romawi salah satunya adalah diakibatkan oleh banyaknya penduduk mereka yang masih menganggap pergerakan bintang-bintang itu melampaui kehendak dan kuasa Tuhan.

Hal ini juga dapat mengindikasikan sikap mereka dalam menyekutukan kuasa Tuhan dengan menganggap horoskop memiliki kuasa melampaui Tuhan.

St. Agustinus juga melihat kelemahan astrologi dengan melihat pada kasus bayi kembar yang ketika semakin dewasa, ternyata sikap dan nasib mereka sangat berbeda antar satu sama lain. Padahal jika memang benar sifat kita ditentukan lewat posisi bintang di saat kita lahir, harusnya orang yang kembar tersebut memiliki sifat dan nasib yang sama pula.

Hal ini menunjukan kegagalan astrologi dalam menjelaskan fenomena tersebut karena seharusnya jika bayi yang kembar lahir pada rentang waktu yang sama, harusnya horoskopnya juga sama sehingga nasib, tindakan dan sifatnya juga sama. Namun kenyatannya, banyak juga orang kembar yang memiliki karakteristik berbeda, bahkan saling berlawanan.

Selain itu, determinisme dalam astrologi juga bertentangan dengan pandangan bahwa manusia adalah makhluk yang diberikan kehendak bebas oleh Tuhan dan manusia harus mempertanggungjawabkan kebebasannya tersebut.

Dapat dikatakan bahwa St. Agustinus memberikan pemahaman pada kita bahwa meski pada zamannya astrologi sering dianggap sebagai suatu ilmu yang benar, tetapi nyatanya kebenarannya sebagai ilmu tidak dapat dipertanggungjawabkan. Ada banyak cela yang dapat dikritisi.

Jadi, untuk teman-teman yang masih percaya dengan astrologi, semoga tulisan ini bisa menjadi bahan tinjauan ulang bahwa baik dari segi religiusitas maupun saintifik, pergerakan dan posisi bintang dalam kerangka zodiak bukanlah penentu dalam kehidupan Anda.