3 tahun lalu · 743 view · 3 min baca menit baca · Politik saut-hmi.png
[Foto: redaksikota.com]

Kritik Saut dan Keterbukaan Kita

Sebuah kritik, apa dan bagaimana pun macam atau modelnya, sebisa mungkin harus disikapi dengan bijak. Bahwa keterbukaan (inklusivitas) harus menjadi sikap di saat diri, eksistensi atau gagasan menjadi sasaran dari kritik.

Belakangan sampai hari ini, ungkapan Saut Situmorang yang mengkritisi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke hadapan publik masih menjadi perbincangan sengit dan kontroversial. Hampir semua kalangan, terutama kader HMI dan para alumninya (KAHMI), merespon ungkapan tersebut dengan nada-nada perlawanan.

“Sesat pikir”, “tidak etis sebagai pejabat publik”, “mendiskreditkan HMI”, “pembunuhan karakter”, “cerca dan hinaan”, semuanya terlontar sebagai respon atas argumen (kritik) Saut.

Secara logika, ungkapan seorang Saut memang menampakkan kekeliruan berpikir di dalamnya. Dalam membangun argumentasinya, Saut tampak menggeneralisir segala sesuatu yang memang secara fakta belum/tidak terbukti.

“Ketika di HMI (minimal LK 1), mereka cerdas-cerdas; setelah jadi pejabat, mereka korup, jahat.” Ungkapan inilah yang banyak direspon sekaligus dijadikan alasan untuk menyalahkan Saut. Bahkan oleh berbagai media massa dijadikan sebagai frame utama dalam pemberitaannya.

Mengapa harus HMI? Mengapa bukan yang lain atau Islam sekalian yang ia sudutkan?

Ya, itu memang bernada agak sinis, tendensius, bahkan cenderung politis. Dan siapa pun akan marah jika dituduh demikian. Tetapi bagi mereka yang mampu memberi respon atasnya secara bijak, tidak netral dan memihak hanya pada nilai, tentu ungkapan Saut akan dipandang jauh dari sekadar cerca atau hinaan, melainkan lebih sebagai bentuk dari kritik.

Pentingnya Budaya Kritik dan Komitmen pada Nilai

Secara eksistensi, budaya kritik penting bagi perkembangan manusia. Baik di wilayah intelektualitas, orientasi sikap atau tindakan, budaya kritik sangat menunjang perkembangan-perkembangan itu. Dan mereka yang anti atasnya (anti-kritik) adalah mereka yang mau hidup sekadar hidup, yang tak menghendaki perkembangan dan kedewasaan.

Di samping budaya kritik atau keterbukaan diri pada kritik, komitmen juga harus terbangun secara simultan. Baik yang memberi atau menerima kritik, semua harus berlandas pada komitmen yang sejati, yakni “nilai”.

Dalam konteks kasus Saut, di awal saya hanya mampu menilainya sebagai ungkapan basa-basi belaka. Baru setelah mendengar/melihat respon banyak orang (terutama kader dan alumni HMI), penilaian saya atasnya menjadi lain.

Sinis memang, tendensius bahkan politis, dan itu membuat saya juga ikut tersinggung. Hanya saja, sebagai mahasiswa yang juga pernah ikut training perkaderan di  HMI, ketersinggungan saya sama sekali tidak berlandas pada spirit primordialisme sebagaimana jamak ditunjukkan rekan-rekan itu.

Bahwa ketersinggungan saya dan mengapa saya juga harus ikut merespon ungkapan sinis Saut, lebih disebabkan oleh kesadaran diri sebagai bagian dari Himpunan, sekaligus sebagai bagian dari bangsa atau warga negara. Apakah ini apologia?

Adalah keliru jika ungkapan Saut dinilai mengindikasikan proses LK 1 di HMI sebagai faktor timbulnya tindakan korup di kalangan kader dan alumninya, terutama saat setelah jadi pejabat. Kita tak mampu menilik apa yang jadi tumpuan utama atas ungkapannya tersebut.

Bahwa ia lebih menunjukkan sistem (mekanisme pengelolaan urusan publik) sebagai faktor yang tidak termaksimalkan dengan baik. Bahwa sistem dewasa ini belum mampu sepenuhnya menjamin seseorang untuk tidak berlaku korup.

Kritiknya pada HMI dan kritiknya pada sistem pengelolaan urusan publik (termasuk aktor-aktornya), membuat saya pada akhirnya lebih memilih untuk menilai ungkapan Saut sebagai hal (kritik) yang perlu dijadikan refleksi. Baik sebagai bagian dari HMI ataupun warga negara, keterbukaan senantiasa harus kita bangun. Bahkan ungkapan “terimakasih” pun patut untuk kita ujarkan atasnya.

Berlaku demikian, hal ini tak berarti kita atau saya khususnya, tak punya rasa komitmen. Justru inilah bentuk komitmen, terlebih sebagai seorang kader, terhadap nilai. Dan tentu saja ini jauh lebih penting ketimbang terus-menerus mengikut pada “logika kerumunan”.

Ya, jangankan instruksi dari atasan atau senior, perintah orang-orang tua saja bahkan ajaran moral sekalipun seminimal mungkin tak boleh langsung diindahkan. Itu jika memang berbeda dari sisi penilaian dan pernyataan sikap kita secara pribadi. Karena bagaimanapun, prinsip setiap orang itu berbeda-beda. Tak patut untuk disamakan, apalagi dipaksakan.

Akhirnya, saya hanya ingin berucap bahwa bahwa ada kritik terdalam yang harus kita refleksikan bersama dari ungkapan seorang Saut. Terlepas dari etis atau tidaknya, baik secara logika maupun karena Saut sebagai pejabat publik, tentu ungkapannya tak hanya diperuntukkan bagi kader dan alumni HMI semata. Akan tetapi menjadi anjuran bersama yang harus dijadikan sebagai bahan refleksi bagi semua organisasi dalam “menata” kader dan eksistensi keorganisasiannya, juga bagi pejabat-pejabat publik secara umum.

Artikel Terkait