Menarik bahwa, sesudah 15 tahun kepergian sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer (30 April 2006 – 30 April 2021), kesadaran akan kritik sastra belumlah surut, tertinggal jauh, bahkan sekarat dan hampir mati. Hal itu diperlihatkan melalui publikasi dari karya para pemenang dan naskah terpilih dalam Sayembara Kritik Sastra 2020 yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud dengan judul Teks, Pengarang, dan Masyarakat (2020). Itu artinya, kritik sastra sama sekali tidak pernah mangkir atau menghilang dari kehidupan sehari-sehari, baik secara akademis, kulturalis, maupun politis.

Boleh jadi memang ruang untuk kritik sastra telah semakin langka dan beralih rupa. Dengan semakin terdesaknya media cetak dan semakin populernya media digital, ruang untuk berekspresi, apalagi berinteraksi, tentu semakin terbatas akibat tuntutan dari kemajuan teknologi dan informasi di masa kini. Dengan kata lain, media digital tampak semakin merajalela dan berkuasa, sedangkan media cetak semakin terpinggir dan tersingkirkan. Hal itu mengakibatkan ruang untuk berdialog secara publik dan tercetak, khususnya dalam konteks kritik sastra, menjadi semakin terkucilkan, meski masih tetap mampu menyintas di ruang-ruang digital secara privat dan tanpa publisitas, seperti Facebook atau Twitter.

Penyintasan kritik sastra di ruang-ruang seperti itu telah memprivatisasi daya dan kuasa imajinasi dari berbagai karya sastra yang sesungguhnya berperan sebagai panggung bagi "komunitas-komunitas terbayang" (imagined communities). Dalam bukunya yang berjudul Imagined Communities. Komunitas-komunitas Terbayang (Insist & Pustaka Pelajar, 2001), Benedict Anderson menjelaskan bahwa karya-karya sastra, seperti novel, cerpen atau puisi, berperan amat penting dalam menggerakkan perjuangan antikolonial. 

Hal itu disebabkan karena karya-karya itu telah membantu dan memberi cerita tentang cita-cita untuk menjadi negara bangsa (nation state) yang sebelumnya tak pernah terbayangkan. Jadi, berkat cerita-cerita dari berbagai karya sastra itu, para nasionalis awal yang berjuang untuk lahirnya Indonesia misalnya, dapat menghasilkan beragam pembayangan mengenai gagasan kebangsaan (nasionalisme) yang antikolonial. Itulah mengapa Mas Marco Kartodikromo atau Pramoedya Ananta Toer selalu berhadapan dengan para penguasa yang amat berambisi untuk membangun koloni-koloni demi semakin memperkokoh daya cengkeram kekuasaannya. Akibatnya, mereka pun harus keluar masuk bui atau penjara, bahkan berisiko untuk dibuang atau diasingkan.

Dalam konteks ini, kritik sastra amat berkepentingan untuk mengungkap perjuangan dari para sastrawan seperti itu dan memaknainya untuk mengobarkan semangat perlawanan di masa kini. Sebab dengan perubahan zaman yang semakin cepat dan serba tak terduga ini, perlawanan terhadap para pemburu kekuasaan yang semakin mengglobal tetap perlu dikerjakan agar tidak mudah terlena oleh bujuk rayu ideologi beraroma pasca-kolonial, atau bahkan pasca-kebenaran. Maka menjadi penting untuk selalu diingat dan dicatat bahwa kritik sastra dari masa ke masa sebenarnya adalah panggung dari perlawanan global yang dalam kajian lain dari Anderson dinamai anarkisme.

Dalam bukunya yang berjudul Di Bawah Tiga Bendera. Anarkisme Global dan Perlawanan Antikolonial (Marjin Kiri, 2015), hal itu diperlihatkan melalui perjuangan Jose Rizal di Filipina yang pada mulanya membangun basis perlawanannya melalui karya-karya sastranya. Pertama, dengan novelnya yang berjudul Noli Me Tangere (Jangan Sentuh Aku). Kedua, dalam novelnya yang berjudul El Filibuterismo (Merajalelanya Keserakahan). Melalui kedua novel itu, Rizal mampu menyediakan sebuah cara pandang dalam bentuk "teleskop terbalik" (spectre of comparisons) bagi para pembacanya. Dengan teleskop itulah, pemandangan dari kenyataan hidup sehari-hari di sebuah negara kolonial seperti Filipina menjadi sedemikian kontras. Kontrasnya, seperti memandang dari balik kaca pada kabin pesawat atau gerbong kereta api di mana segalanya menjadi tampak indah dan menyenangkan di depan mata. 

Namun sesungguhnya ada banyak pemandangan yang mengenaskan saat turun dari pesawat atau kereta api lantaran di sana tampak dengan jelas dan tajam (clear and distinct), kehidupan masyarakat yang miskin, tersingkir, dan terbuang. Hal itu telah dibahas dengan jeli dalam buku Anderson sebelumnya yang berjudul Hantu Komparasi. Nasionalisme, Asia Tenggara, dan Dunia (Qalam, 1998) yang mampu menyediakan cara pandang yang unik atau khas terhadap realitas hidup sehari-hari.

Cara pandang seperti itu yang mampu membongkar panorama dan gaya hidup kolonial dan/atau global adalah sebuah bahasa perlawanan yang perlu direpresentasikan melalui kritik sastra. Sebab dengan bahasa yang mampu meretakkan, apalagi memporak-porandakan, segala sesuatu yang tampak rapi dan teratur seperti susunan batu bata dari sebuah tembok pada bangunan dapat ditunjukkan apa yang bolong-bolong daripadanya. Sama seperti jalan beraspal yang terasa halus dan mulus untuk dilalui oleh mobil misalnya, tetap dapat berisiko menimbulkan terjadinya kecelakaan. Itulah bahasa yang perlu ditampakkan dalam kritik sastra sebagai daya dan kuasa perlawanan terhadap segala bentuk kolonialisme di muka bumi ini.

Tentu, tetap perlu untuk diwaspadai bahwa kritik sastra hanyalah ibarat penyambung lidah dari para sastrawan yang menyampaikan dering peringatan kritis demi semakin berkobarnya api perlawanan. Karena itulah, kritik sastra mesti dapat mengambil peran di atas panggung sebagai intelektual publik (public intellectual). Itu artinya, peran yang dimainkan adalah lebih sebagai seorang "pawang singa" (lion tamer) daripada sekadar "peniup seruling" bagi ular (snake charmer). Peran yang tidak mudah untuk dipentaskan, namun cukup efektif dan operatif sebagai teladan dalam membangun perlawanan dari bawah.

Perlawanan yang rela untuk berkorban demi sesama daripada mengorbankan nyawa orang lain sebagaimana telah diperankan oleh para sastrawan dari zaman ke zaman. Di sinilah kritik sastra dapat menjadi wahana untuk menyemai benih-benih perlawanan terhadap kekuasaan yang semata-mata hanya melayani kemegahan, dan bukan sebaliknya (power served pomp, not pomp power), demi kepentingan sesaat dan sepihak belaka.