Ikhtisar Kritik

Patut disesalkan ketika mata kuliah logika yang diajarkan di perguruan tinggi hanya menjadi formalitas belaka, hanya untuk mengejar SKS agar terpenuhi ataupun mengejar nilai semata, tetapi banyak yang tidak benar-benar memahami dasar-dasar dari logika, yang padahal merupakan prasyarat dari suatu pengetahuan ilmiah.

Dalam tulisan ini, yang akan dibahas adalah salah satu objek kajian logika, yakni soal kritik. Penulis pribadi cukup sering menjumpai sekelas orang-orang yang bependidikan tinggi, tetapi tak memahami esensi dari kritik.

Kesalahan yang sering dijumpai oleh penulis soal kritik, pertama, adanya anggapan seolah-olah kritik itu tidak absah hanya karena tidak adanya solusi yang ditawarkan oleh pengkritik. Jelas anggapan tersebut adalah anggapan yang keliru. Mengapa demikian? Karena tugas kritik adalah menguraikan permasalahan, menunjukkan suatu kesalahan.

Hal itu sejalan dengan yang dijelaskan oleh Prof. Magniz Suseno dalam bukunya yang berjudul Etika Politik. Prof. Magniz menjelaskan bahwa asal-usul kata kritik yakni dari kata krisis.

Dalam tradisi Yunani, kritik merupakan suatu kegiatan berpikir untuk memisahkan nilai-nilai yang tidak relevan dan nilai-nilai yang relevan dari suatu pandangan ataupun realitas.

Meski demikian, memang benar bahwa pencarian solusi bisa berangkat dari hasil kritik tersebut. Akan tetapi, yang perlu ditegaskan lagi adalah kritik bukan berarti tidak absah hanya karena tidak ada solusi yang ditawarkan. Kritik itu tetap absah selagi didasari oleh prosedur berpikir yang benar. Untuk itu, diperlukan suatu pemahaman logika yang benar agar tidak terjatuh pada sesat pikir (logical fallacy).

Itulah cara kerja kritik, tentu berbeda dengan prosedur berpikir sintetik yang memang mengharuskan adanya suatu solusi, artinya ada suatu argument baru (solusi itu sendiri) yang dihadirkan sebagai bentuk pertentangan dari argument sebelumnya (argument yang dikritik).

Terkadang, orang pun acap kali menganggap kritik itu sebagai suatu yang buruk, karena kritik disandingkan dengan kebencian. Padahal dalam tradisi akademik, kritik itu sangat berbeda dengan kebencian, karena kritik harus dibangun dengan akal sehat. Oleh sebab itu, kritik justru hal yang sangat penting, karena kritik turut menghidupkan ilmu pengetahuan, mencerdaskan peradaban.

Independensi

Seorang kawan pernah menanyakan “apakah kritik hanya bisa dilakukan oleh orang yang memegang independensi?” saya jawab “jelas tidak!”. Misalnya saja dalam sebuah negara demokrasi, sudah menjadi hal yang wajar ketika kelompok oposisi mengkritik pemerintah. Tinggal yang diuji oleh publik adalah sejauh mana relevansi kritik yang diajukan oleh oposisi tersebut? sebarapa kuat bangunan argument atau landasan berpikir ataupun dalil-dalil yang diuraikan oleh kelompok oposisi tersebut.

Tentu setiap pembawa kritik, memegang nilai-nilai etis tersendiri, begitu juga dalam kehidupan politik yang harus berkesesuaian dengan etika politik dalam demokrasi modern, seperti mendasarkan pada rasionalitas dan tidak menggunakan instrumen-instrumen yang dapat mengundang sentimentalisasi publik dan sebagainya.

Saya ambil contoh, misalnya saja Fadli Zon mengkritik pemerintah, saya sebagai bagian dari publik, terlebih lagi posisi saya sebagai akademisi, tentu saya tidak akan mempertanyakan ataupun mengkritisi independensi dari seorang Fadli, tetapi yang akan saya ataupun publik uji adalah kesahihan dari dalil-dalik ataupun kritik yang dilancarkan oleh Fadli maupun melihat seberapa jauh seorang Fadli memegang teguh etika politiknya.

Lain halnya ketika kritik itu datang dari seorang yang menggunakan jubah akademisi, pengamat dan sejenisnya yang di dalamnya sudah pasti mempunyai nilai etis yang harus selalu dipegang juga, yakni indepedensi. Lalu apa yang disebut independensi itu?

Independensi artinya ketidakberpihakan pada apapun, selain berpihak pada kebenaran itu sendiri dengan mendasarkan pada kajian akademik, objektivitas akal ataupun penalaran. Hal itu juga yang membedakan nilai etis dari seorang akademisi yang tentunya tidak mempunyai keterikatan dengan politik praktis dengan politisi yang sudah barang tentu statment publik yang diucapkannya tidak terlepas dari tugasnya sebagai fungsioner partai, sejak awal dia sudah di drive oleh parpol bersangkutan.

 Contoh kongkretnya, di tengah kekacauan budaya politik ataupun kegaduhan dalam ruang publik kita akibat ulah elite politik maupun karena minimnya kritisisme dalam masyarakat kita. Sudah barang tentu menjadi tanggung jawab kaum akademisi juga untuk memberikan pencerdasan kepada publik.

Sederhananya mengatakan itu salah jika memang itu suatu kesalahan, mengatakan benar jika memang itu sebuah kebenaran, baik yang berkaitan dengan pemerintah maupun oposisi. Mengapa ? karena dalam hal ini akademisi bertanggung jawab untuk merawat ruang publik, turut serta menumbuhkan penalaran publik.

Dari pemaparan-pemaparan mengenai independensi tersebut, kita akan menemukan sebuah konklusi bahwa makna independensi bukanlah tidak memihak, bukan juga tanpa sikap, melainkan bersikap dan memihak yakni pada kebenaran dengan mengafirmasikan objektivitas akal, penalaran ataupun kajian ilmiah. 

Perlu diingat bahwa ketika kita tidak bersikap (tidak melakukan kritik) ketika kita mengetahui ada ketidakbenaran, berarti kita pun menjadi orang yang yang turut melestarikan ketidakbenaran tersebut.

Selanjutnya, saya akan sedikit mengulas tentang metodologi keilmuan yang diajarkan oleh teori kritis atau mazhab frankfurt Jerman, yang masih ada sedikit keterkaitan dengan ulasan saya pada paragraf sebelumnya. 

Dalam perspektif teori kritis, metodologi positivisme yang bebas nilai justru dapat semakin memapankan/melestarikan status quo (dalam hal ini ketidakbenaran, ketidakadilan dsb), karena pengetahuan yang dihasilkan oleh metodologi positivisme hanya berupa deskripsi semata, tidak bisa menunjukan keberpihakan (misalnya saja pada masyarakat tertindas) dan tidak bisa melakukan suatu kritik imanensi.