Apa sih saintisme itu? Definisinya ada seabreg. Salah satunya adalah pandangan yang menganggap sains sebagai jalan absolut dan satu-satunya untuk mengetahui kebenaran.

Ada juga yang bilang bahwa saintisme itu adalah kepercayaan bahwa metode ilmu alam atau hal-hal yang dikenal dalam ilmu alam membentuk satu-satunya unsur yang patut untuk mencari tahu. Yang agak "nelangsa" definisinya adalah pandangan yang mengeliminasi dimensi psikologis atau spiritual pada pengalaman.

Apakah ada orang-orang yang menyebut diri mereka menjalankan saintisme? Sejauh yang saya bisa ketahui, tidak ada. Saintisme sepertinya julukan, atau lebih tepatnya, ejekan terhadap orang-orang yang terlalu percaya diri dengan metode sains, lalu merambah ke hal-hal yang menurut para pengkritik mereka sudah di luar wilayah sains.

Contohnya adalah Stephen Hawking. Salah satu ucapannya yang menjengkelkan banyak orang adalah bahwa peran filsuf tidak ada lagi dalam sains. Yang tersisa bagi mereka, tulis Hawking, adalah analisis bahasa. Itu ditulis Hawking dalam buku The Brief History Time.

Hawking sebenarnya sedang menjelaskan bagaimana sains berkembang. Dulu sains dimulai oleh para filsuf. Mereka adalah orang-orang yang berbeda dari orang kebanyakan. Mereka mengamati, berpikir, dan membuat kesimpulan. Sayangnya, mereka tidak melakukan pengukuran. Akibatnya, banyak kesimpulan mereka yang salah.

Para pemikir di masa selanjutnya mengambil jalan yang berbeda. Mereka melakukan pengamatan kuantitatif, lalu menyusun rumusan hukum-hukum alam. Lahirlah sains. Lalu sains berkembang.

Lha, memang kenyataan bahwa tidak ada lagi porsi kerja filsuf. Kalau mau dipandang dari sudut sains, filsuf cuma ngoceh-ngoceh memberi makna pada temuan-temuan sains, tidak berkontribusi pada proses perumusannya, dan sering kali makna yang mereka tempelkan pada rumusan sains itu tak tepat pula. Masuk dalam kelompok ini adalah para pemikir agama.

Ungkapan Hawking itu terdengar menyakitkan bagi para filsuf yang merasa mewarisi hak untuk mengklaim diri sebagai inisiator sains. Ibaratnya, mereka mau bilang, tanpa kami para filsuf, mana ada sains. Mirip dengan klaim sebagian orang Islam, bahwa tanpa didahului orang Islam, sains Barat tidak akan pernah ada.

Betul bahwa sains diinisiasi oleh filsuf. Betul pula bahwa sains modern berpijak di atas pencapaian yang dibuat oleh para ilmuwan muslim. Tapi semua itu sudah berlalu. Itu tinggal sejarah saja.

Apakah filsuf tidak boleh berkontribusi? Ya monggo saja. Apakah agamawan boleh berkontribusi? Silakan. Tapi sanggupkah mereka mengikuti protokol sains? Itu mungkin masalahnya.

Tulisan Hawking yang lain, yang juga memicu kemarahan, adalah ketika dia mengatakan bahwa Tuhan tidak terlibat dalam penciptaan alam semesta. Ketika Hawking bicara Tuhan dengan metode sains, ia bisa dituduh telah melampaui sains, karena Tuhan bukan lagi wilayah kajian sains.

Namun saya memahami ungkapan Hawking itu. Sederhana saja. Bawalah narasi-narasi agama yang membahas tentang bagaimana Tuhan versi agama itu menciptakan dan mengatur alam semesta, niscaya yang akan kita dapatkan adalah narasi-narasi yang tak cocok dengan sains modern. Karena itu, Hawking berkesimpulan, Tuhan yang dipercayai melalui agama-agama itu bukan Tuhan yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini.

Orang lain yang juga disorot adalah Sam Harris. Harris melakukan sejumlah eksperimen yang menunjukkan bahwa gagasan soal agama dan Tuhan, ritual-ritual, adalah hasil kerja otak belaka. Artinya, gagasan tentang Tuhan adalah produk pikiran manusia belaka.

Temuan-temuan Harris ini sudah banyak dibantah. Tapi sejauh yang saya tahu, bantahan itu tidak spesifik mengatakan bahwa gagasan tentang Tuhan tidak berasal dari otak. Yang dibantah adalah klaim bahwa di otak ada spot khusus yang berperan mengolah gagasan tentang Tuhan.

Riset mutakhir menunjukkan bahwa gagasan tentang Tuhan bisa diproses di bagian yang sama dalam otak dengan gagasan tentang sains.

Orang tak suka dengan kesimpulan bahwa gagasan tentang Tuhan itu diproduksi otak. Mereka percaya bahwa gagasan tentang Tuhan dibisikkan atau disampaikan oleh Tuhan sendiri kepada manusia, khususnya melalui orang-orang suci. Ya monggo sih. Silakan buktikan bahwa pengetahuan itu berasal dari Tuhan. Gimana cara membuktikannya?

Apakah saya pongah dengan pertanyaan itu? [*]