2 tahun lalu · 229 view · 2 menit baca · Pendidikan silhouette-of-business-peoplemen-vector.png
Ilustrasi: www.umnaw.ac.id

Kritik Kecil untuk Daoed Joesoef

Tulisan Daoed Joesoef (DJ) yang bertajuk “Jangan Permainkan Pendidikan” (Kompas, 22 Juni 2016) memancing saya untuk menulis kritik kecil-kecilan yang serba sederhana ini. Dari inti gagasannya yang dapat saya baca, terang sekali bahwa DJ menolak keras adanya ide tentang rekruitmen rektor asing.

Bagi DJ, sebagaimana dituliskannya dengan nada sinis, ide rektor asing untuk pendidikan universiter di Indonesia merupakan ide yang melecehkan harkat-martabat bangsa. Negara dituding telah dan akan terus mempermalukan cendekia-cendekia Indonesia dengan merekrut, atau sekadar rencana, cendekia-cendekia dari luar. Mereka dianggap tak ada, dianak-tirikan.

“Para rektor Indonesia, bangkitlah! Anda sudah dilecehkan oleh penguasa Anda sendiri,” tulisnya.

Meski belum mendapati bentuknya sebagai keputusan yang harus Negara jalankan, ide aneh di mata DJ tersebut sebelumnya sudah mendapat banyak respon penolakan. Tak terlalu keras memang, tapi cukup menggelikan.

Selaku rektor Universitas Paramadina, Firmansyah menilai bahwa ada yang jauh lebih mendesak yang harus pemerintah lakukan selain rekruitmen rektor asing. Bahwa mendorong penambahan anggaran riset nasional, meningkatkan kerjasama perguruan tinggi dan industri, serta membangun kualitas tenaga pendidik dan sarana-sarana pendidikan, adalah beberapa hal terpenting yang harus diutamakan oleh pemerintah (Tribunnews, 6/6).

Selain dari akademisi, salah seorang anggota DPR Krisna Mukti juga mengajukan penolakannya. Politisi PKB di Komisi X ini menilai bahwa ada kekeliruan dari ide tersebut, sekaligus sesuatu yang belum perlu dilakukan pemerintah alias tidak bijak. Alasan utamanya adalah bahwa masih banyak cendekia-cendekia Indonesia yang mumpuni, yang diyakininya mampu mengawal Tri Dharma Perguruan Tinggi, dan mampu membuat kampus berdaya saing internasional dengan cita rasa khas Indonesia (Sindonews, 6/6).

Ya, saya sepakat bahwa ada banyak cara dalam meningkatkan mutu-kualitas pendidikan nasional kita. Seperti peningkatan komunitas dan integritas ilmiah yang juga diserukan DJ, semua harus dikelola dalam rangka peningkatan aspek pendidikan di bangsa ini. Hanya saja, ketika DJ, kita dan yang lainnya menganggap bahwa rekruitmen cendekia asing bukan sebagai salah satu solusi atas muramnya wajah pendidikan kita, bagi saya, ini sikap yang cukup bahkan sangat kerdil.

Saya tidak sedang minder dengan segala sesuatu yang berbau asing. Saya tidak sedang berusaha menyanjung bau-bauan asing hanya karena perasaan inlander seperti itu. Biar bagaimanapun, bantuan di bidang pendidikan masih menjadi hal yang patut kita ajukan dan terima, sembari sedikit demi sedikit berusaha melepaskan diri dari jerat keterbelakangan itu.

Saya yakin, sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Kabinet Pembangunan III yang cukup kontroversial karena kebijakan NKK/BKK-nya itu, DJ sangat memahami bagaimana pentingnya belajar pada bangsa-bangsa yang dulunya terbelakang. Dulu mereka terbelakang, seperti China, India, dan Singapura, tetapi toh pada akhirnya mereka berkembang dan menjadi bangsa-bangsa yang maju. Bahkan ke depan mereka banyak diprediksi akan menggeser Amerika sebagai negara adikuasa.

Apa yang jadi sebab mereka bisa maju? Salah satunya adalah karena mereka mampu memanfaatkan momentum ketika mereka mendapat bantuan dari pihak luar. Tidak hanya di wilayah politik dan ekonomi, tapi bantuan di bidang pendidikan pun menjadi salah satu faktor utamanya. Bukankah ini pelajaran yang sangat berharga yang harus kita petik hikmahnya bagi perkembangan bangsa kita ke depannya? Berhentilah menganggap bantuan seperti peristiwa Perang Troya itu!

Kita harus akui, Indonesia masih tergolong sebagai bangsa yang terbelakang. Mengakuinya tidak berarti merendahkan derajat atau martabat kita sendiri. Tetapi mengakui dan berusaha memperbaiki diri dari kondisi itu, termasuk salah satunya dengan menerima dan mampu mengelola bantuan asing di bidang pendidikan, adalah hal yang tak kalah bijaknya. Dan lagipula ini hal yang sangat realistis mengingat masih minimnya sumber daya manusia kita yang bermental pendidik.