20078_73371.jpg
Lifestyle Okezone.com
Politik · 2 menit baca

Kritik Itu Jamu

Pekan lalu, ramai aktivis mahasiswa di berbagai daerah yang berunjuk rasa di depan gedung dewan masing-masing. Mereka hendak menyuarakan secara tegas penolakan pengesahan UU MD3 yang sedang ramai dibincangkan itu.

Kita tahu di dalam undang-undang tersebut, ada pasal 122 huruf (k). Pasal itu terkait kewenangan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) yang bisa melaporkan pihak yang “dinilai” merendahkan DPR. Meskipun ketua MKD membantah itu bukan pasal anti kritik.

Kalau dicermati, di pasal tersebut, tiap orang yang dianggap merendahkan wakil rakyat bisa dipidanakan. Artinya, kita sebagai yang diwakilinya perlu pikir-pikir untuk melayangkan sebuah kritikan, jika pekerjaan mereka tak memuaskan.

Padahal, jika kita jeli, wakil rakyat kita sebetulnya sedang sakit berlarut. Kelakuannya sering bikin geleng-geleng kepala. Paling fenomenal nan hangat, tentu skandal bancakan mega proyek KTP elektronik. Praktis, gelombang aksi penolakan disuarakan dimana-mana.

Hasil survey dari Alvara Research Center menunjukkan, kinerja DPR dinilai paling rendah dibanding lembaga negara lainnya. Survey Alvara ini dilakukan secara nasional. Melibatkan 2.023 responden dengan pendekatan kuantitatif. Survey ini dimaksudkan menilik kepuasan publik terhadap kinerja lembaga negara.

Berdasarkan survei yang dilakukan itu, kinerja DPR mendapat tingkat kepuasan paling rendah dibanding lembaga negara lain. Tingkat kepuasan hanya 56,8 persen. Sedangkan tiga besar ditempati TNI dengan 90,7 persen, KPK 81,9 persen, disusul BIN dengan 81,1 persen.

Oleh sebab itu, pengesahan UU MD3 pantas mendapat kecaman dari berbagai kalangan. Sebelumnya masyarakat tentu sudah geram dengan kelakuan para wakil rakyat, meski tak semua wakil rakyat begitu.

Beberapa tahun ini, selain bancakan proyek KTP elektronik itu, sebelumnya kita memang kerap disodori persoalan-persoalan yang memang sangat memilukan. Pantas jika tingkat kepuasan publik terhadap kinerja wakilnya sangat rendah. Mereka memang benar-benar sakit parah. Berderet kasus korupsi tentu tak dapat dilupakan oleh masyarakat. Bahkan gedung dewan lekat sekali dengan narasi sarang tikus berdasi. Tak cukup kedua jari tangan untuk menghitung jumlah mereka yang menilap uang negara. Bayangkan.

Saya kemudian menjadi teringat dawuh salah satu da’i kondang yang masyhur dengan ciri khas qulhu ae lek.  Namanya, KH Anwar Zahid. Da’i asal Bojonegoro. Sering ceramah di pelosok kampung hingga di gemerlap kota metropolitan dunia. Hongkong. Kalau tak salah pada suatu kesempatan, dia pernah melontarkan kalimat yang tentu sangat menyayat. Kalau itu disadari oleh wakil rakyat.

Katanya waktu itu, wakil rakyat kita yang ada di DPR kinerjanya sangat baik. Kesejahteraan dan kemakmuran sudah mampu diwujudkan. Sebagai wakil rakyat, mereka dapat mewakili semua itu. Mewakili kesejahteraan, dan kemakmuran rakyatnya.

Bisa naik mobil mewah, rakyat sudah diwakili. Memiliki uang berlimpah, makan enak, rumah besar, melancong kesana-sini pun sudah diwakili. ”Semuanya terwakilkan oleh mereka wakil rakyat,” Kata KH Anwar Zahid waktu itu. Saya tambahi, hanya satu yang tak terwakilkan. Penderitaan.   

Kalimat itu tentu menjadi kritikan pedas bagi wakil rakyat yang boleh dikata banyak yang sakit. Namun, bisa jadi itu dinilai menjatuhkan marwah anggota dewan. Sesuai pasal 122 huruf (k) UU MD3. Ujung-ujungnya bisa pidana.  

Akan tetapi, mereka tentunya harus selalu mendapatkan kritikan seperti itu. Sakitnya sudah menahun. Terjadi komplikasi. Tapi dengan disahkannya UU MD3 dengan sebuah pasal yang dinilai anti kritik itu, rasanya sakitnya mereka tak mau disembuhkan.

Mereka sakit, namun tak mau meminum obat. Obat memang pahit. Sama seperti kritikan. Siapapun rasanya memang akan sulit menerima kritik, namun sepedas hingga sepahit-pahitnya kritikan rasanya itu akan membawa kebaikan. Kritik akan membangun. Tak ada kritik yang menjatuhkan.

Hanya kesempitan berpikir yang tak merasakan kritik adalah cara untuk membangun. Sederhananya, kritik itu seperti jamu. Pahit namun menyehatkan, juga menyembuhkan. Wakil rakyat yang sudah sakit menahun itu, rasanya memang perlu meneguk jamu kritik secara masif dan tentu istiqomah. Seperti kritik satire dari KH Anwar Zahid itu. Siapa tahu berubah.