Dari dulu sampai sekarang banyak yang bertanya-tanya tentang keberadaan Tuhan. Hal itu seering terjadi tampa sadar. Bukan hanya dialami oleh orang dewasa, akan tetapi juga dialami oleh anak kecil.

Munculnya para mutakallim adalah untuk membentengi akidah para muslim agar tidak tercerabut dari akarnya hingga ikut terseret ke pandangan para filsuf yang sesat. Walaupun tidak semuanya pandangan mereka sesat. Hal tersebut pada hakikatnya adalah bentuk ihtiyath (kehati-hatian atau pencegahan).

Artikel ini akan membahas polemik argumen pembuktian eksistensi Tuhan di mana Asy’ariyah sebagai perwakilan mutakallim dan Ibnu Rusydi sebagai perwakilan filsuf paripetik.

Pada mulanya Asy’ariy hanya membahas persoalan teologi. Namun, para pengikutnya mengembangkan corak pemikirannya untuk mempertahankan akidah dan harmonisasi akal dengan wahyu, sehingga olah pikir yang dihasilkan oleh Asy’ariyah dapat menjawab kerancuan pemikiran filsuf dan Mu’tazilah. [Lihat di M. Abdul Hye, “Aliran Asy’ariyah”, dalam M.M. Sharif, (Ed.), Aliran-Aliran Filsafat Islam (Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, Thahawiyah, Zhahiriyah, Ihwan al-Shafa), (Bandung: Nuansa Cendekia, 2004), 83-84].

Salah satu yang dikembangkan oleh mereka adalah tentang teori al-jawhar al-fard yang biasa disebut atom. Namun  hakikat dari  al-jawhar al-fard  adalah entitas terkecil yang ada di dunia ini dan tidak terbagi-bagi lagi.

Pernyataan tersebut untuk membuktikan bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi, Dialah yang membangkitkan manusia dari kuburnya pada hari kiamat. Kemudian mereka menjadikan pernyataan tersebut sebagai dasar iman kepada Allah dan Hari Akhir. [Lihat di al-Syamsudin al-Qurtubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Jil. 6, (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1384/1964), 386]

Hakikatnya, setiap tubuh atau benda fisik terdiri daripada al-jawhar al-fard. Itulah yang menyebabkan suatu benda itu ada dan terlihat. Semua benda atau tubuh itu dapat dibagi dan pada akhirnya kalau dibagi terus menerus akan berhenti pada satu yang tidak akan dapat dibagi lagi yang disebut dengan al-jawhar al-fard. [Lihat di Fakhrudin al-Razi, al-Matalib al-‘Aliyah, Jil. 2, Tahqiq: Ahmad Hajazi al-Saqa, (Dar al-Kutub al-‘Arabi, T.Th), 37-38]

Teori tersebut dibangun dari tiga premis, yakni 1) al-jawahir al-fard tidak akan lepas dari aksiden-aksiden; 2) aksiden-aksiden itu baru; 3) sesuatu yang tidak lepas dari yang baru adalah baru.

Kritik Ibnu Rusydi Terhadap Konsep al-Jawhar al-Fard Asy'ariyah

1.  Penyerupaan Kadar Bilangan dengan Kadar Ukuran

al-Jawahir al-fard tidak akan lepas dari aksiden-aksiden?

Hal ini akan menjadi rancu bahkan akan memunculkan pemikiran yang berlawanan jika yang dimaksud adalah entitas yang tidak dapat dibagi lagi karena al-jawhar al-fard seperti itu tidak dikenal dengan sendirinya.

Berbeda lagi jika yang dimaksud oleh mereka al-jawahir al-fard adalah berdiri dengan dzatnya sendiri, maka akan bisa dianggap benar.

Asy’ariyah tidak bisa menetapkan apa itu al-jawhar al-fard kecuali dengan dalil retorika di mana perumpamaan yang mereka gunakan pijakan, seperti ukuran gajah yang lebih besar daripada semut, di mana mereka menarik kesimpulan bahwa bagian-bagian gajah lebih banyak dari pada bagian-bagian semut. Premis seperti ini salah menurut Ibnu Rusydi.

Dimana letak kesalahannya?

Menurut Ibnu Rusydi, kesalahan premis mereka terletak pada penyamaan kadar ukuran dan kadar bilangan, di mana hal ini akan mendorong orang berpikir bahwa sesuatu yang terjadi pada kadar ukuran pasti juga akan terjadi pada kadar bilangan “ما يصدق على الكم المتصل لا يصدق على المنفصل”.  Padahal kalau ditelisik lebih lanjut, ukuran sebuah benda tidaklah semuanya sama. Hanya dari hal itu akan menemukan kerancuan premis mereka.

2) Tergesa-gesa Mengambil Konklusi

Semua aksiden adalah baru?

Kita hanya menyaksikan hanya sebagian aksiden, tidak semuanya. Dengan tenang mereka mengatakan bahwa semua aksiden adalah baru? Sungguh ini adalah kerancuaan.

3) Penyamaan Gerak Lurus dan Berputar

Sesuatu yang tidak lepas dari yang baru maka ia adalah baru?

Hal ini dapat dipahami dengan dua makna, yakni 1) sesuatu yang tidak lepas dari jenis-jenis yang baru dan dari kesatuan dan 2) sesuatu yang tidak lepas dari salah satu jenis yang baru, dikhususkan pada sesuatu yang ditunjukkannya.

Makna yang kedua dianggap benar, sebab aksiden terebut sebagai identitas sesuatu. Sedangkan makna yang pertama dianggap salah karena hal itu mereka akan mengharuskan bahwa yang membawa adalah sesuatu yang baru. Sesuatu masih ada kemungkinan tempat itu berbentuk seperti jism di mana satu aksiden tidak bisa menjadi identitas tetap, sebab akan tergantikan oleh aksiden lain. [Lihat di Muhammad Abid al-Jabiri, al-Kashfu ‘an Manahij al-Millah fi ‘Aqaid al-Millah, (Beirut: Markaz Dirasat al-widadah al-Murabbiyah, 1998), 76-78]

Argumentasi Eksistensi Tuhan Ibnu Rusydi

Setelah mengkritik argumen beserta premis-premis Asy’ariyah, Ibnu Rusydi reskontruksifnya adalah selama tujuannya adalah untuk menetapkan adanya sang “Pencipta”, maka secara langsung kita bisa berargumen melalui alam tersebut, seperti dalil inayah (pemeliharaan), dalil Ikhtira’ (penciptaan) dan  gerak.

1) Dalil inayah memiliki dua premis, yaitu semua entitas dii dunia ini cocok dengan manusia dan kecocokan ini adalah sebuah keniscayaan dilihat dari subjek pelaku yang menghendaki hal tersebut. Benang merah yang dapat ditarik adalah adanya subjek pelaku yang berkehendak menjadikan entitas-entitas ini cocok bagi manusia. Ini yang dimaksud adalah Tuhan.

2) Dalil ikhtira’ juga berdasar pada dua premis, yaitu entitas-entitas alam ini diciptakan dan segala yang diciptakan pasti ada penciptanya.

3) Dalil gerak. Dalil ini menjelaskan bahwa gerak ini tidak tetap pada satu keadaan tetapi selalu berubah-rubah. Seluruh gerak pasti berakhir pada gerak dan ruang. Gerak pada ruang akan berakhir pada gerak pada dzatnya dengan sebab gerak pertama yang tidak bergerak sama sekali, baik itu pada dzat-Nya maupun pada sifat-Nya.

Alam ini bergerak, berarti harus ada penggeraknya yang qadim juga azali. Jika tidak demikian maka ia bukanlah penggerak yang awal. Penggerak awal inilah yang maksud Ibnu Rusydi sebagai Tuhan. [Lihat di Ahmaad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1989), 161-162].

Tiga argumen tersebut menurut Ibnu Rusydi lebih bisa diterima oleh masyarakat, bahkan ini adalah argumen yang ditawarkan syariat kepada masyarakat umum. Wallahu a’lamu bi al-shawab.