Sartono Kartodirdjo, Nugroho Notosusanto, AB. Lapian, RZ. Leirisa, Resink hingga Herodotus adalah nama-nama sejarawan atau penulis sejarah. Bagi saya, ada yang ganjil dari deretan nama-nama tersebut. Seluruh pemilik nama tersebut adalah laki-laki.

History tidak berasal dari kata "his-tory" dalam bahasa Inggris. History berasal dari bahasa Yunani, istoria yang bermakna cerita atau narasi. Jika melacak asal nama history, seharusnya history tidak memiliki gender dan bukan his-tory.

Tapi nama-nama historian yang kita kenal kebanyakan dan hampir semuanya adalah laki-laki. Bahkan ada jokes yang sering dilanturkan oleh senior-senior saya di Sejarah UI, bahwa sejarawan adalah (1) laki-laki atau (2) penyuka laki-laki.

Lantas apakah sejarah adalah milik laki-laki? Saya meminjam metodologi yang digunakan dalam feminisme gelombang ketiga. Feminisme gelombang pertama mengkritik distribusi hak dan kepemilikan yang menguntungkan laki-laki. Sementara itu, feminis gelombang kedua fokus pada struktur masyarakat yang memang menguntungkan laki-laki.

Lain halnya dengan feminisme gelombang ketiga yang mencoba memperjuangkan gender-netral. Feminisme gelombang ini juga dipengaruhi oleh posmodern yang mencoba membongkar struktur berpikir yang phallocentris melalui pembedaan cara berpikir dan menulis.

Menulis sejarah adalah bagaimana kita berpikir (imajinasi merekonstruksi masa lalu) dan menuliskannya. Tapi, bagaimana jika cara berpikir dan menulis kita adalah cara berpikir dan menulis laki-laki? Kelompok sejarawan biasanya mengelak dengan berkata, "Kita punya sejarawan perempuan kok."

Ucapan tersebut tidak sepenuhnya salah. Walau minoritas, setiap tahunnya beberapa universitas di Indonesia memang memproduksi sejarawan berjenis kelamin perempuan. Jika feminisme adalah ilmu tentang pengalaman kebertubuhan perempuan, apakah yang para sejarawan perempuan ini tulis?

Kembali pada asumsi feminis gelombang ketiga, objektivitas yang dianut para sejarawan baik perempuan ataupun laki-laki, selalu dianggap sebagai objektivitas yang netral. Sementara itu, feminisme menolak objektivitas yang dianggap netral karena sesungguhnya struktur berpikir dan menulis kita adalah cara laki-laki.

Helene Cixous memaparkan perbedaan menulis perempuan dan laki-laki. Tulisan laki-laki dianggap 'netral' dan tidak mengungkapkan emosi, sedangkan tulisan perempuan lebih berciri emosional dan mengungkapkan seksualitasnya yang direpresi.

Contoh penulisan sejarah maskulin dan feminin seperti yang diungkapkan oleh Helene Cixous mudah terlihat dalam penulisan peristiwa sejarah perang. Perang Pasifik misalnya. Dalam kasus ini, sejarawan laki-laki berpikir dan menulis tentang bagaimana perang itu terjadi: strategi perang, jalannya pertempuran, penggunaan senjata.

Sedangkan sejarawan perempuan, seperti Anna Mariana dalam buku Perbudakan Seksual terbitan Marjin Kiri, memaparkan apa yang menimpa perempuan ketika perang itu terjadi: penculikan paksa anak-anak perempuan sebagai budak seks tentara Jepang, kepedihan ketika diculik, dipaksa menjadi pemuas nafsu. Hingga ketika perang selesai, para budak seks yang disebut JugunIanfu ini enggan kembali ke kampung halamannya karena dicap sebagai pelacur Jepang.

Apakah kalau begitu hanya perempuan yang mampu menuliskan tentang sejarahnya? Tidak juga. Feminisme sebagai ilmu tentang pengalaman kebertubuhan perempuan menyediakan prespektif gender yang membuat laki-laki dan perempuan bisa menulis tentang sejarah kelompok tertindas dalam analisis gender.

Dan tambahan, gender tidak hanya laki-laki dan perempuan. Semoga era baru ini memberikan banyak alternatif narasi sejarah yang mampu menyuarakan kelompok-kelompok yang tidak mampu bersuara di masa lalu.