Kritik terhadap klaim empirisisme dan saintisme telah banyak diajukan oleh para Filsuf, Teolog, maupun dari kalangan Ilmuan sendiri. Tulisan-tulisan yang membahas mengenai hubungan dua hal ini juga telah banyak beredar, namun sayang hanya sedikit tulisan yang mengkritisi dari sudut epistemologi mengenai klaim-klaim kebenaran yang diajukan oleh kedua mazab tersebut. Tulisan singkat ini mencoba untuk mengisi kekosongan pada gap tersebut.

Setidaknya terdapat dua alasan mengapa tulisan ini disajikan. Pertama, kita sedang hidup di dalam era sains modern dengan filosofinya yang seringkali berbenturan dengan keyakinan-keyakinan dasar masyarakat timur yang religius. Kedua, kita seringkali tertipu oleh klaim-klaim yang mengatas namakan sains, namun ternyata merupakan sebuah filsafat, atau bahkan hanya fiksi. Ketiga, sebagai kritik epistemologi dalam usaha untuk menempatkan secara proporsional kedua kajian filosofi tersebut.

Berbicara mengenai Empirisisme(1) kita pasti akan menyinggung pula mengenai metodologi sains dan saintisme(2). Demikian pula sebaliknya, bebicara mengenai sains dan saintisme, kajian-kajian empiris akan menjadi data serta metodologi yang mendukung klaim kebenaran dalam sains dan saintisme.

Maka pembahasan dan kritikan terhadap empirisisme tidak dapat dipisahkan dari metodologi sains modern, namun pada bahasan ini, penulis sengaja memisahkan keduanya agar penjabarannya lebih spesifik dan jelas.

Empirisisme

Empirisisme yang mengandalkan penelitian melalui pengamatan indrawi manusia, telah mendatangkan banyak kritik. Salah satunya kritik yang diberikan oleh Suriasumantri. Ia menjelaskan bahwa, indra manusia begitu terbatas dan tidak dapat diandalkan secara mutlak dalam menganalisa suatu objek. Kelemahan ini terlihat misalnya dalam contoh pengamatan-pengamatan seperti, Sebuah tongkat lurus yang sebagiannya dimasukan kedalam air akan terlihat bengkok. 

Bila kita naik kendaraan yang melaju kencang maka pepohonan akan terlihat seperti berlari.  Demikian juga dengan bumi yang sebenarnya mengelilingi matahari namun justru terlihat sebaliknya. Dengan contoh-contoh sederhana tersebut, klaim kebenaran empirisisme yang mengandalkan panca indra tidak dapat secara mutlak menjangkau kebenaran fakta empiris. Bahkan dengan tegas ia mengatakan, “panca indra kita bukan hanya terbatas namun juga dapat menyesatkan.”

Menyuarakan kritikan yang serupa Poespowardojo dan Seran yang menganalisa pemikiran Karl Popper menjelaskan bahwa, pengalaman sebagai data indrawi yang kita miliki tentang angsa tidak menjamin kebenaran kesimpulan bahwa semua angsa berwarna putih (bukankah kita tidak memiliki semua data tentang angsa karena keterbatasan pengalaman dan pengetahuan?).”

Keterbatasan penelitian dan pengamatan terhadap data dan fakta, memberikan batasan yang tegas tentang kebenaran indrawi. Keterbatasan-keterbatasan ini pada akhirnya diselesaikan dengan prinsip generalisasi data yang harus diakui sangat terbatas. Maka jelas bahwa pengalaman indrawi sebagai sarana empirisisme dalam menganalisa data, tidak dapat diandalkan keakuratannya secara mutlak.

Kemudian, memasuki ranah nomena objek (Kritik Kant), empirisisme terbukti terbatas dalam hipotesis-hipotesis yang subjektif.  Rapar menjelaskan bahwa kemampuan manusia untuk menangkap suatu objek secara utuh, tidaklah mungkin. Manusia hanya sampai pada beberapa pengetahuan mengenai objek tersebut, dengan demikian maka  jelaslah bahwa amat sulit untuk mencapai kebenaran yang lengkap dari objek tersebut.

Sejalan dengan Rapar, Suriasumantri menjelaskan demikian, “Apakah pendekatan empiris ini membawa kita lebih dekat kepada kebenaran? Ternyata juga tidak, sebab gejala yang terdapat dalam pengalaman (indrawi) kita baru mempunyai arti kalau kita memberikan tafsiran terhadap mereka.  Fakta yang ada sebagai dirinya sendiri tidaklah mampu berkata apa-apa.  Kitalah yang memberimereka sebuah arti.”

Apa yang dijabarkan oleh empirisisme pada akhirnya hanyalah berupa kegiatan filsafat yang subjektif dari seorang Ilmuan. Fakta sebenarnya mengenai noumena dari objek tersebut tetaplah bisu. Dalam istilah Kant, “Ding an sich” (thing in itself) dimana realitas dari suatu objek pada dirinya sendiri (Ding an sich) mustahil untuk benar-benar diketahui dan dihayati 100%, meskipun realitas tersebut sudah dapat menjadi objek dari pikiran peneliti.  Atau dalam pemahaman Sartre, dimana realitas yang sesungguhnya dari “En Soi” (atau Ding an sich dalam terminologi Kant) tidak pernah dapat ditangkap secara sempurna oleh rasio manusia.

Pada akhirnya kita dapat menyaksikan bahwa empirisisme secara metodologis pun memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan, baik itu objek penelitian (fakta dan data) maupun subjek penelitinya (manusia sebagai pengelola data). Karena tidak ada sesuatu yang bersifat final dan baku dalam suatu metodologi (baik filsafat mapun sains), maka kita perlu memahami bahwa kebenaran dalam prinsip dasar empirisime bersifat terbuka, berkembang, dan memerlukan kritik sebagai koreksi, sebagaimana metode Falsifikasi yang dirintis Popper.

Saintisme

Saintisme merupakan bentuk lanjutan dari mazab Empirisisme, atau dapat disebut sebagai neo empirisisme. Dalam beberapa tafsiran, saintisme sering kali juga dipandang/disamakan dengan Positivisme karena sama-sama bertolak dari metodologi yang memutlakan empirisisme sehingga menolak segala sesuatu yang tidak memiliki data serta fakta empiris seperti klaim-klaim teologis dan metafisika. Perbedaan keduanya hanya terletak pada bidang kajian masing-masing, saintisme pada ilmu alam sementara positivisme pada ilmu sosial.

Mengutip Jean Peaget, Heath mengatakan, kekeliruan sains modern yang pertama terletak pada tersamarnya istilah “Ilmiah” dan “Empiris”. Ia kemudian menjelaskan bahwa, kalau tujuan kita ialah mencari pengetahuan, tentunya kita harus berpikir secara ilmiah (logis), namun tidak wajar jika kita mempersempit lingkup penelitian dan pemikiran kita untuk mengikuti kriteria yang bersifat empiris semata-mata.

Kelemahan pertama sains modern terletak pada hal ini. Sains modern (etah sengaja ataupun tidak) telah mengabsolutkan metode empiris menjadi Sains empirisisme. Rekayasa ini tanpa sadar telah mereduksi sifat ilmiah dan menggantinya dengan suatu filsafat dengan topeng sains modern. Hal tersebut terlihat dari berbagai macam penolakan dari kalangan saintisme mengenai unsur-unsur supranatural dalam konsep agama-agama, yang kemudian dipaksakan dengan alur logika mereka dimana klaim-klaim demikian menjadi gugur karena tidak bersifat empiris.

Bukankah menuntut klaim demikian justru kontradiktif dengan metodologi sains? Bukankah menuntut suatu fenomena yang non empiris dengan data empiris justru menjadi tidak logis? Namun inilah wajah dari saintisme modern yang dirintis oleh kalangan ateis generasi kedua. Penekanan pada sikap demikian  bukanlah suatu kejujuran dari seorang saintis, akan tetapi cendrung kepada suatu sikap sentimen dari kalangan pemuja saintisme.

Selain itu, Heath juga menganalisa berbagai kelemahan yang terdapat dalam metode sains modern yang senada dengan Suriasumantri. Ia menjelaskan bahwa metode sains modern sesungguhnya tidak pernah lepas dari kegiatan fisafat. Hal ini dapat dijumpai dengan langkah pertama mengenai perenungan suatu objek, hingga langkah terakhir dalam mengambil kesimpulan, yang pada hakekatnya merupakan kegiatan berpikir yang didasari atas filsafat. Maka perlu dipertanyakan kembali, mungkin terdapat semacam sains modern yang benar-benar murni tanpa unsur dan kegiatan fisafat? Tentu saja tidak ada.

Permasalahan berikutnya muncul ketika saintisme mengatas-namakan ilmu pengetahuan kemudian mengklaim suatu ranah kajian ilmu yang bukan pada bidangnya. Misalnya kajian-kajian teoritis mengenai asal mula kehidupan, alam semesta, manusia, jiwa dan roh yang adalah milik disiplin keilmuan non-empiris (Teologi dan Filsafat) namun kemudian disabotase oleh saintisme dengan klaim-klaim yang seolah-olah “ilmiah”, namun tidak lebih dari suatu spekulatif filosofis.

Contoh-contoh demikian  terlihat dengan jelas pada kajian-kajian saintisme sepeti teori evolusi, big bang, lubang hitam yang dengan mengatas-namakan sains, dipublikasikan sebagai kebenaran ilmu pengetahuan hanya karena yang mengsung ide tersebut adalah seorang “ilmuan”. Ini merupakan bentuk kamuflase saintisme dalam sains modern. Sebuah penyesatan terselubung yang sangat halus.

Perlu diperjelas bahwa kajian mengenai asal mula semesta, manusia, dan alam, merupakan kajian yang meskipun bersifat empiris namun sekaligus bersifat nir waktu. Sederhananya sains modern yang objektif harus membatasi diri sekaligus dibatasi oleh ruang serta fakta dan data yang ada. Mencoba untuk keluar dari “data” dan “waktu” saat ini, serta melompat ke jutaan waktu lampau, itu bukanlah sains, tetapi suatu spekulasi saintis! Hal ini lebih mirip dengan kisah “kantong ajaib Doraemon”  yang mondar-mandir sesuka hati melampaui dunia waktu. Ini adalah sebuah fiksi ilmah, bukan fakta ilmiah.

Lantas jika kalangan saintimse tidak dapat/dan tidak menyaksikan data dan fakta-fakta pada kejadian asal mula tersebut maka apakah hipotesa mereka tersebut dapat diterima sebagai suatu ilmu pengetahuan? Tentu tidak. Hal demikian justru memperlihatkan suatu bentuk pelanggaran metodologis yang serius namun tidak pernah/jarang disadari (atau mungkin juga diabaikan) oleh kalangan akademisi. Kegagalan untuk mengkritisi hal-hal demikian menyebabkan publik tidak lagi dapat membedakan antara fakta ilmiah dan fiksi ilmiah.

Penutup

Permasalan-permasalahan epistemologis dari para pemuja saintisme jaman ini tidak dapat dipertahankan ketika diuji dengan prinsip-prinsip pokok epistemologi yang ketat.  Pembuktian ini memberikan satu konfirmasi bahwa empirisisme dimana saintisme memperoleh dasar pijakan dan metodologinya harus puas dengan data dan fakta empiris yang terbatas pada ruang dan waktu.

Mencoba keluar dari metode eksperimentasi yang nir-empiris dan nir-waktu, akan berakhir pada anti tesis dari hakikat dasar sains itu sendiri. Keterbatasan dan pembatasan metodologis serta epistemologis tersebut seharusnya menyadarkan para saintis untuk berlapang dada berbagi bidang kajian dengan disiplin ilmu lainnya yang non empiris, sekaligus menyadari bahwa kebenaran ilmu pengetahuan pun terbatas pada dirinya sendiri, serta terbuka terhadap kritik dan perkembangan. (yb)_

Catatan.

(1) Empirisisme. Istilah ini berasal dari kata Yunani empeiria (=pengalaman), emperikos (=berpengalaman). Sejak abat ke-19 dan seterusnya, kata tersebut telah digunakan untuk menunjuk pada macam-macam filsafat yang menekankan pengalaman sebagai sumber pengetuhuan yang valid.

(2) Sains dan Saintisme. Perlu diperhatikan bahwa istilah “Sains” mememiliki perberbedaan yang signifikan dengan “Saintisme”.  Sains membatasi metodologinya dengan serangkaian analisa yang terbatas pada data dan fakta empiris, maka meskipun terbatas namun sifat objektifitasnya dapat diterima sebagai suatu kebenaran ilmu. Sementara Saintisme bukan merupakan kegiatan ilmiah yang objektif karena dikendalikan oleh pemikiran empirisisme radikal sehingga mengasilkan suatu sistem pemikiran tertutup dan sikap sentimentil terhadap hal-hal yang bersifat supranatural.

___________

Kepustakaan

  • Colin Brown, Filsafat dan Iman Kristen. Vol. 1 (Surabaya: Momentum, 2011).
  • Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1996).
  • Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2012).
  • T.M. Soerjanto Poespowardojo dan Alexander Seran, Filsafat Ilmu Pengetahuan: Hakekat Ilmu Pengetahuan, Kritik terhadap Visi Positivisme Logis, serta Implikasinya (Jakarta: Kompas, 2015).
  • W. Stanley Heath, Psikologi Yang Sebenarnya (Yogyakarta: Andi,1995).
  • ________________, Sains, Iman, dan Teknologi (Yogyakarta: Andi,1997).
  • Yakub B. Susabda, Teologi Modern—1 (Jakarta: LRII, 1990).