Cukup lama tak bersua dengan Qureta. Malam ini saya tergerak untuk membacanya. Salah satu tulisan di artikel popular selesai saya baca. 

Selanjutnya, saya mulai berkelana menuju topik iptek yang memang menjadi favorit topik tulisan di Qureta.

Saya coba scroll ke bawah layar, ada judul tulisan menurut saya kurang match dengan foto yang dipakai dalam tulisan tersebut. Judulnya “Duit Mas Cukup Mas”.

Foto tulisan berupa keterangan mengenai perbandingan dua jenis vaksin yang meliputi : keefektivan, tipe vaksin, dosis yang dibutuhkan, efek samping, suhu penyimpanan dan transportasi, serta harga per dosisnya.

Penulisnya adalah Mas Ahmad Nur Tantowi. Tulisan diawali dengan kutipan menarik yang mungkin terinspirasi dari surat Asy-Syura ayat 29. Fakta kebenaran inspirasi kutipan tersebut hanya mas Tantowi (izin memanggil ya mas) dan Tuhan yang tahu.

Berikut akan saya sampaikan beberapa kalimat yang kurang tepat (menurut saya) serta akan saya beri tanggapan secara langsung.

Bakteri benda hidup berkategori hewan, mulai dari yang bersel tunggal hingga multisel, kebanyakan mikroskopik.”

Bakteri merupakan mahkluk hidup bersel tunggal dan tidak termasuk dalam kategori hewan. Silahkan para pembaca yang budiman buka di internet atau buku biologi SMP sampai perguruan tinggi, semua akan menjelaskan bahwa bakteri itu hanya uniseluler (bersel tunggal).

Ilmu Taksonomi (cabang biologi) juga menjelaskan bahwa mahkluk hidup diklasifikasikan (salah satunya) menjadi 5 yaitu : animalia (hewan), plantae (tumbuhan), fungi (jamur), Protista, dan prokariota (bakteri). 

Bakteri masuk dalam kategori prokariota dikarenakan material genetik dari bakteri tidak dipisahkan oleh membran inti sel.

Semua bakteri merupakan makhluk mikroskopik dan tidak ada yang makroskopik (menyinggung pernyataan, “kebanyakan makroskopik”)

Sebaliknya, jamur masuk kategori tumbuhan yang keberadaanya bisa mikroskopik juga bisa nampak dengan mata telanjang.”

Kembali lagi mengacu pada ilmu taksonomi, jelas jamur diklasifikasikan berbeda dengan tumbuhan. Perbedaan yang menonjol jamur tidak mampu berfotosintesis dan dinding sel mangandung kitin sedangkan tumbuhan mampu berfotosintesis dan dinding sel mengadung selulosa.

Karena pada dasarnya bumi hanya ditempati oleh makhluk hidup yang mampu berperilaku dan benda mati yang bisa dieksplorasi dan eksploitasi, sebagai penunjuang per kehidupan si makhluk hidup, khususnya yang paling berakal yaitu manusia.”

Faktanya sekarang virus ada di bumi ini sebagai salah satu makhluk ciptaan Tuhan dan saya mengimani hal itu. Kita mungkin cukup familiar dengan sebutan makhluk peralihan, itulah virus. 

Virus akan hidup jika menempati benda hidup dan akan mati jika berada pada benda mati.

Virus itu aneh. Cenderung berkriteria sebagai benda mati, namun mampu menebar kode genetic ‘jahat’ dalam Asam Ribo Nukleat, RNA, yang tertanam dalam setiap kaki-kaki virus.”

Virus itu makhluk yang unik dan bukan aneh. Kriteria virus sebagai makhluk peralihan telah dijelaskan sebelumnya. Sebutan “..menebar kode genetic ‘jahat’..” terasa cukup jahat menurut saya. 

Toh virus sebenarnya hanya makhluk ciptaan Tuhan yang mencoba meneruskan hidup dengan menumpang pada sel makhluk hidup.

Dia (virus) akan mati ketika berdiam pada benda mati. Demikianlah Tuhan menakdirkan garis hidupnya.

Kritikan selanjutnya mengenai DNA dan RNA virus. Perlu saya jelaskan bahwa virus itu ada yang memiliki material genetik DNA saja dan ada yang memiliki material genetik RNA saja. Tidak ada virus yang memiliki kedua material genetik tersebut secara bersamaan.

Jadi mempertanyakan apakah virus ini berasal dari something out there menggunakan pertanyaan dari DNA mana dan DNA siapa RNA virus itu adalah hal yang kurang tepat.

“..bahwa mata rantai sintesa protein dalam makhluk hidup melelui peran peran fungsi DNA dan RNA serta asam-asama amino kode genetik yang terlibat di dalamnya.”

Membaca kalimat tersebut cukup pusing untuk memahaminya, mungkin karena bahasa yang digunakan ilmiah campur puitis. Intinya, kode genetik berupa DNA akan diubah menjadi kode genetik RNA (transkripsi). 

RNA akan dibaca oleh ribosom untuk mengahasilkan asam amino. Begitulah proses sintesa protein terjadi di sel makhluk hidup.

Menjawab “Banyak Tanda Tanya”

“Lalu, bagaimana bisa dalam kondisi pandemi kali ini ada klaim produk vaksin untuk virus?”

Kenapa cara berpikir, mindset kebanyakan orang diajak untuk memahami bahwa pandemi kali ini biangnya hanya virus semata, Sars-Corona?

Sampai saat ini, semua vaksin Covid-19 yang telah mendapat persetujuan dari WHO untuk diedarkan telah terbukti dapat merangsang kekebalan tubuh terhadap SARS-CoV2, mengurangi risiko penularan, dan mengurangi dampak berat dari virus SARS-CoV2.

Faktanya memang pandemi kali ini disebabkan oleh virus SARS-CoV2 dan kebanyakan orang tahu akan hal itu. Adapun hal lain yang menyertai misalkan adanya infeksi bakteri tertentu yang menyebabkan penyakit pada saluran pernapasan, saya kira kebanyakan orang juga mengetahui.

Mungkin mindset penulis (Mas Tantowi) saja yang merasa diajak seperti yang diungkapkan dalam tulisannya.

Jikalau pun vaksin telah mendapat klaim sebagai bagian terapan imunologi dalam pandemi kali ini, kenapa tak fokus pada vaksin hasil perlemahan (Inactivated) bakteri saja?”

Masalah utamanya adalah virus, lalu mengapa kita harus membuat vaksin inactivated bakteri? Analoginya, kita punya masalah yang sudah kita pastikan penyebabnya A dan jelas sudah teruji bisa diselesaikan dengan solusi A. 

Lah mengapa kita harus selesaikan dengan solusi B, yang jelas belum tentu menyelesaikan masalah A?

Vaksin yang diklaim untuk virus, dengan beragam merk dan jenis itu semua, apakah dalam setiap Lembar Data Keselamatan Material, MSDS, telah dicantumkan dengan gamblang perihal sumber dan bahan utamanya apa saja?”

Berkaitan dengan informasi virus semua telah dijelaskan secara gamblang oleh perusahaan produsen. Sebelum vaksin beredar, semua data berkaitan dengan sumber, bahan utama vaksin dan informasi penting lainya telah produsen sampaikan ke WHO.

Bahkan foto yang digunakan oleh mas Tantowi sendiri merupakan salah satu contoh informasi yang diberikan di antaranya oleh produsen vaksin, lembaga Kesehatan di suatu negara dan juga WHO sebagai induk lembaga kesehatan dunia.

Karena virus masih belum dimungkinkan untuk dilemahkan, maka untuk jenis vaksin Inactivated, maka substansi hidup yang dilemahkan apa? Jika bakteri, maka jenis dan nama bakterinya, apa?”

Proses inaktivasi virus dapat menggunakan senyawa kimia tertentu maupun secara fisik. Intinya proses inaktivasi ini merusak material genetik dari virus yang berguna sebagai proses replikasi virus di dalam sel hidup. Jadi vaksin dari virus yang diinativasi aman dan dapat memunculkan respons antibody.

Untuk vaksin jenis m-RNA (RNA-messenger/pengirim pesan kode genetik), maka kode genetik yang di'suntik'kan pada biang senyawaan vaksin tersebut, itu berupa rangkaian asam-asam amino apa saja?

m-RNA vaksin itu berupa kode genetik yang menyandi protein target (misal protein S) virus dan bisa dibawa oleh viral vektor yang aman. Jadi tidak tepat kalau m-RNA vaksin itu berupa rangkaian asam amino.

Rangkaian kode genetik, sejauh ini masih terbukti berupa hasil rangkaian mendasar 4 macam asam amino, yaitu; berupa pasangan-pasangan tetap Adenin-Timin dan Sitosin-Guanin.

Bukan sebuah pertanyaan namun hal ini sangat perlu saya luruskan. Kode genetik itu bisa berupa rangkaian basa nitrogen Adenin, Guanin, Timin, dan Sitosin pada DNA atau rangkaian basa nitrogen Adenin, Guanin, Uracil, dan Sitosin pada RNA.

Kode genetik bukan rangkaian asam amino. Asam amino merupakan hasil dari pembacaan kode genetik yang dibawa oleh m-RNA oleh ribosom.

Nah, vaksin m-RNA itu mengandung kode genetika yang bagaimana?”

Vaksin m-RNA membawa kode genetik yang menyandi protein tertentu yang menjadi bagian dari virus (misal gen S). Setelah m-RNA masuk ke dalam sel, proses pembacaan m-RNA virus dilakukan oleh robosom sel dari inang virus. Hasilnya berupa protein tertentu yang dapat menimbulkan respon imun dari sel tersebut.

Jika vaksin m-RNA diterapkan di Eropa, apakah jenis yang sama juga bisa langsung diterapkan misalnya di kawasan UEA, tanpa uji kesesuaian 'daya terima' kode genetika manusia ras Eropa ke UEA?”

Setipa vaksin yang diedarkan sebelumnya telah melalui tahapan uji klinis. Uji klinis suatu jenis produk vaksin dapat dilakukan di beberapa wilayah berbeda. Hasil uji klinis di wilayah yang berbeda tersebut juga menghasilkan respon yang berbeda. Namun, semua hasilnya sama-sama menimbulkan respon imun.

Bukankah penggunaan vaksin jenis m-RNA tanpa ada uji klinis kesesuaian 'cetak biru' kode genetik antar ras bisa berpotensi membuat cacat kode genetik dalam sel manusia penerimanya?”

Tidak ada bukti ilmiah satupun yang mendukung bahwa vaksin m-RNA dapat menimbulkan cacat kode genetik sel manusia. Segala material genetik yang masuk ke dalam sel tubuh dibawa oleh vaksin akan diubah menjadi protein tertentu yang dapat menimbulkan respon imun.

Jika ada materil genetik yang tidak diproses, maka akan dihancurkan oleh enzim-enzim yang ada di dalam sitoplasma sel.

Sepertinya sudah cukup kritik atas tulisan “Duit Mas Cukup Mas”. Saya sangat menghargai setiap karya tulisan dari orang lain. Namun ketika ada isi tulisan yang bertentangan dengan fakta atau keilmuwan tertentu, saya rasa wajib bagi kita yang tahu untuk mengkritisi.

Saya sangat terbuka menerima kritik balik atau tanggapan jika memang dalam tulisan saya ini ada hal yang kurang berkenan atau keliru berdasarkan keilmuwan.