Kajian tentang ketimuran (orientalisme) yang mulai muncul pada abad 19 di Barat, merupakan suatu studi yang mencakup bahasa, sejarah dan budaya dari dunia Timur. Kajian-kajian tersebut berdasarkan pada filologi dalam arti yang lebih luas, yaitu kajian-kajian terhadap budaya melalui studi terhadap sumber aslinya, khususnya dari teks-teks yang di anggap otoritatif.

Mengenai kajian Barat terhadap Timur, pada awalnya Islam merupakan sub kajian orientalisme sebelum bergeser menjadi sebuah kajian dalam studi agama yang dianggap legitimatif. Kajian al-Qur’an merupakan sebuah kajian yang memunculkan antusiasme tinggi di kalangan sarjana Barat yang meliputi kajian terhadap sejarah teks, isi, dan orisinalitas al-Qur’an.

Berangkat dari fenomena masifnya kajian al-Qur’an di Barat, salah satu karya kesarjanaan Jerman yaitu Abraham Geiger (1810-1874), seorang rabbi yahudi dengan sebuah tulisan yang berjudul “Was hat Mohammet aus dem Judenthume aufgenommen”, yang mana Geiger menyimpulkan bahwa terdapat 3 masalah utama yang di pinjam al-Qur’an dan konsep agama Islam dari tradisi Yahudi yaitu seperti :

1) Beberapa kosakata al-Qur’an yang berasal dari tradisi Yahudi, yaitu ada 14 kosakata seperti tabut, jannatu ‘adn, jahannam, sakinah, thagut, furqan, ma’un, mashani, malakut, darasa, rabbani, sabt, ahbar dan taurat.

Mengenai kosakata al-Qur’an sendiri, Imam Asy-Syuyuti menyebutkan bahwa ada 120 kosakata yang bukan berasal dari bahasa Arab. Beliau mengatakan bahwa adanya berbagai kosakata yang seperti ini didalam al-Qur’an merupakan penunjukkan bahwa al-Qur’an mencakup ilmu-ilmu para pendahulu maupun generasi yang akan datang kemudian.

2) Konsep Agama Islam, yang mana Geiger menganggap dalam al-Qur’an memuat aspek keimanan dan doktrin keagamaan dari tradisi ajaran Yahudi. Seperti tentang penciptaan langit dan bumi beserta segala isinya dalam enam hari. Geiger mengatakan bahwa dalam hal ini al-Qur’an sejalan dengan Bibel.

Kemudian mengenai tujuh tingkatan Surga. Dalam kitab suci disebutkan bahwa ada tujuh tingkatan surga dan semuanya telah diberi nama. Hal ini tertera dalam Chagiga 9:2. Begitu juga dalam al-Qur’an, sebagaimana yang tertera dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 29.

Mengenai pandangan hidup. Menurut Geiger, ada beberapa hal yang sama antara Islam dan Yahudi dari aspek pandangan hidup seperti: harapan menjadi husnul khatimah yang disebutkan dalam al-Qur’an Surah Yusuf ayat 101 “Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh”, begitu juga dalam Balaam, “Let me die the death of the righteous”.

Kemudian etika saat membuat janji, dalam Islam seseorang dianjurkan untuk mengucapkan kata “Insya Allah”, maka begitu juga dalam ajaran Yahudi. Kemudian amal jariyah yang mana dalam ajaran Yahudi disebutkan bahwa disaat seseorang telah meninggal maka ia akan meninggalkan segalanya,

kecuali amal ibadahnya. Begitu juga dengan ajaran dalam Islam berdasarkan hadis Nabi bahwa ada tiga amal yang tidak akan pernah terputus meskipun seseorang tersebut telah meninggal yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan do’a anak yang sholeh.

dan mengenai balasan perbuatan kebaikan yang dalam ajaran Yahudi disebutkan pada Baba Kamma: 92 yang senada dengan al-Qur’an surah An-Nisa’ ayat 85 yaitu "Barangsiapa memberi pertolongan dengan pertolongan yang baik niscaya dia akan memperoleh bagian dari (pahala) nya".

Geiger juga menyebutkan bahwa terdapat kisah-kisah dalam al-Qur’an yang berasal dari tradisi Yahudi. Pertama, kisah tentang nabi-nabi yang Allah turunkan untuk umatnya, meliputi kisah Nabi Adam hingga Nabi Nuh; kisah Nabi Nuh hingga Nabi Ibrahim; dan kisah Nabi Ibrahim hingga Nabi Musa.

Kedua, kisah Nabi Musa. Ketiga, mengenai kisah tiga raja yang kekuasaannya sangat luas, yaitu Thalut, Nabi Daud, dan Nabi Sulaiman. Keempat, orang-orang suci yang diutus setelah masa Nabi Sulaiman.

Geiger berasumsi bahwa Nabi Muhammad merupakan penulis dari al-Qur'an itu sendiri sehingga mengatakan bahwa Nabi Muhammad dalam menulis al-Qur’an meminjam dari tradisi ajaran Yahudi karena : 1) Saat menjalankan dakwah di Madinah, Nabi Muhammad berhadapan dengan umat Yahudi yang sudah sejak lama memiliki pengaruh yang kuat bagi masyarakat Madinah pada saat itu,

2) Nabi Muhammad memiliki hubungan akrab dengan orang-orang Yahudi di sekitarnya, seperti Abdullah bin Salam dan Waraqah, 3) Pengetahuan Nabi Muhammad mengenai kitab Yahudi berasal dari orang-orang yang telah memahami kitab Yahudi lebih dahulu.

Abraham Geiger merupakan sarjana Barat yang ingin membuktikan keterpengaruhan al-Qur’an atas tradisi Yahudi, hal ini bisa dilihat dari beberapa pemikiran Geiger yang telah dipaparkan. Secara umum, asumsi yang diangkat Geiger adalah ingin mengungkapkan bahwa al-Qur’an tidak lebih kecuali sebuah produk dan buah tangan Muhammad yang disusun berdasarkan Bibel yang sudah berkembang saat itu di Makkah.

Geiger ingin mengatakan bahwa al-Qur’an bukanlah sesuatu yang transenden, karena di dalamnya terdapat kombinasi dan perpaduan berbagai tradisi yaitu Yahudi dan Nasrani. Menurutnya, al-Qur’an hanyalah sebuah tanggapan Muhammad tentang tradisi dan kondisi sosial masyarakat Arab pada saat itu, maka konsekuensinya ia bersifat kultural dan untransenden.

Asumsi Geiger sebenarnya tidak lepas dari keberadaaan Geiger sendiri yang merupakan Rabbi Yahudi Jerman, sehingga tidak heran bila ia memiliki asumsi terhadap al-Qur’an sebagaimana yang telah disebutkan. Namun sikap kritis-objektif harus dikedepankan dalam menilai setiap kesimpulannya, bukan sikap apologis semata terlebih dalam dunia akademis.