Hadits merupakan sumber hukum Islam yang kedua setelah al-Quran. Namun, tidak semua hadits dapat dijadikan sebagai pijakan bagi umat Islam, hadits memiliki empat macam tingkatan, yaitu hadits shahih, hasan, dhaif, dan maudhu.

Hadits shahih adalah yang paling kuat dan kredibel kualitasnya. Sering kali kita mendengar dari para penceramah atau membacanya di suatu tulisan yang menyebut kata hadits shahih yang berfungsi sebagai penguat dari hadits yang dicantumkannya.

Suatu hadits dapat dikatakan shahih apabila memenuhi syarat-syarat yang sudah ditetapkan oleh para Muhadditsin. Adapun kriteria yang harus dipenuhi oleh suatu hadits agar masuk kedalam kategori shahih adalah sebagai berikut:


1. Bersambungnya Sanad Hadits

Kriteria pertama yang harus dipenuhi oleh suatu hadits adalah tersambungnya sanad hadits tersebut. Sanad yang dimaksud adalah hubungan antara orang-orang yang telah meriwayatkan suatu hadits.

Para periwayat hadits harus jelas diketahui ketersambungannya, mulai dari Mukharrij sampai dengan periwayat hadits dari kalangan sahabat yang mendapatkan hadits tersebut langsung dari Rasulullah.

Ketersambungan sanad riwayat suatu hadits dapat diketahui dengan melihat shigah at-tahammul wal ada atau suatu kata yang digunakan oleh para periwayat hadits, seperti kata haddatsana, akhbarana, anna, dan kata-kata lainnya.

Shigah at-tahammul wal ada berfungsi untuk mengetahui apakah antara perawi yang satu dengan yang sebelumnya mendengar langsung hadits tersebut atau tidak. Syarat ketersambungan hadits ini akan berkaitan erat dengan syarat hadits shahih selanjutnya.


2. Periwayat Hadits Bersifat Adil

Setelah diketahui para perawi yang meriwayatkan suatu hadits, maka syarat selanjutnya berorientasi pada kepribadian dari para perawi tersebut. Para perawi tersebut harus dipastikan memiliki sifat adil.

Perawi hadits dapat dikatakan adil adalah dalam artian apabila ia beragama islam, baligh, berakal, bertakwa, menjaga muru’ah atau wibawa, tidak melakukan dosa besar, dan melaksanakan ketentuan agama.

Adil-nya seorang perawi dapat diketahui melalui popularitasnya di kalangan para ahli hadits, contohnya seperti Malik bin Anas yang sangat populer keutamaannya di kalangan ulama hadits, maka dapat dipastikan beliau bersifat adil.

Cara yang kedua apabila perawi tersebut tidak populer adalah dengan melihat pendapat para ulama terkait kepribadian perawi tersebut. Apabila adil-nya seorang perawi masih diragukan, maka digunakanlah cara al-jarh wa ta’dil.


3. Periwayat Hadits Bersifat Dhabit

Perawi hadits selain harus adil, mereka juga harus dhabit. Dhabit disini mencakup dhabit fi as-sadr yakni terpeliharanya riwayat hadits semenjak menerima hadits sampai menyampaikannya. Dan dhabit fi al-kitab yakni terpeliharanya kebenaran riwayat hadits dalam bentuk tulisan.

Perawi hadits dapat dikatakan dhabit dengan sempurna apabila perawi memahami dengan baik riwayat hadits yang diterimanya, perawi menghafal dengan baik hadits yang diterimanya, dan perawi tersebut dapat menyampaikan riwayat hadits kepada perawi lainnya dengan baik.

Periwayat hadits yang kurang ke-dhabit-annya adalah perawi yang hafal riwayat hadits namun terkadang keliru dalam menyampaikannya. Sedangkan perawi yang tidak dhabit adalah perawi yang tidak hafal riwayat hadits dengan baik, atau banyak keliru dalam menyampaikannya.


4. Terhindar dari Syadz atau Kejanggalan

Syadz berarti menyendiri atau terpisah dari mayoritas. Menurut para ahli hadits, suatu hadits dianggap memiliki syadz apabila diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah, namun bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh para perawi yang lebih tsiqah.

Menurut Imam As-Syafi’I, hadits syadz adalah yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah, namun bertentangan dengan riwayat hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang lebih tsiqah. Hadits tidak dikatakan syadz apabila diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah, sedangkan perawi yang tsiqah lainnya tidak meriwayatkannya.

Imam As-Syafi’I juga menyebutkan kriteria hadits yang dikatakan syadz adalah apabila suatu hadits memiliki lebih dari satu sanad, perawinya semuanya tsiqah¸ dan matan atau sanad hadits tersebut mengandung pertentangan. Para ulama hadits berbeda-beda pendapatnya dalam hal ini.


5. Terhindar dari Illat atau Kecacatan

Illat atau kecacatan suatu hadts adalah apabila hadits tersebut mengandung unsur kecacatan yang tersembunyi, yang dapat merusak shahihnya suatu hadits. Apabila sebab kecacatannya terlihat jelas dan tidak tersebunyi, maka tidak disebut dengan illat.

Illat dapat terjadi pada sanad maupun matan hadits, atau keduanya sekaligus, namun illat lebih sering dijumpai pada aspek sanad dari suatu hadits. Hadits-hadits yang mengandung illat biasa disebut dengan hadits mu’allal.

Menurut para ulama hadits, illat biasanya berbentuk seperti sanad yang terlihat bersambung dan marfu’, namun ternyata bersambung tapi mauquf, kemudian sanad yang terlihat bersambung dan marfu’, namun ternyata bersambung tapi mursal.

Bentuk illat juga seperti apabila terjadi percampuran hadits dengan hadits yang lainnya, dan apabila terjadi kesalahan penyebutan nama perawi, dikarenakan adanya kemiripan nama namun tidak memiliki kualitas yang sama-sama tsiqah.


Kriteria hadits shahih yang pertama sampai ketiga terletak pada sanad hadits, sedangkan keempat dan kelima terletak pada matan suatu hadits. Hadits dapat dikatakan shahih apabila memenuhi kelima syarat tersebut secara keseluruhan.

Tulisan ini bertujuan untuk memberikan sedikit wawasan kepada para pembaca tentang ilmu hadits, agar mengetahui apa yang dimaksud dengan hadits shahih, dan kapan suatu hadits dapat dikatakan sebagai hadits shahih.

Menentukan kualitas hadits tidak bisa dilakukan dengan asal-asalan, maka untuk mengetahui suatu hadits berkualitas shahih atau tidak, kita dapat merujuk kepada kitab-kitab hadits yang sudah ditulis oleh para ulama, seperti Kutub at-Tis’ah (9 kitab hadits pokok).

Wallahu A’lam.