Sebagai kaum yang doyan makan entah mengapa tiba-tiba saya merasa was-was dengan masa depan rumah makan masakan tradisional di kota Padang. Perasaan ini muncul gegara saya suatu kali singgah makan siang di rumah makan Ampera di kawasan muara dekat kampus Bung Hatta.

Sebutan rumah makan Ampera mempunyai arti spesial buat saya. Sesuai dengan kepanjangannya “Amanat Penderitaan Rakyat”, selain punya nilai historis nama Ampera ini lahir di zaman Soekarno, rumah makan Ampera juga identik dengan harga menu yang murah meriah, pas di kantong.

O ya, rumah makan Ampera yang saya maksud ini bukan rumah makan Ampera yang banyak ditemukan di pelosok Jakarta dengan cita rasa khas masakan Sunda. Tapi ini rumah makan Ampera yang banyak ditemukan di kota Padang dan spesifik menyediakan menu masakan tradisional Minangkabau.

Kali ini saya merasa was-was bukan karena harga sepiring nasi dengan lauk gulai ikan dua belas ribu rupiah. Saya was-was saat mengetahui yang memasak menu gulai ikan adalah seorang nenek dengan kisaran usia enam puluh tahunan dan istimewanya gulai ikan si nenek enak banget rasanya.

Kebayang oleh saya, bagaimana kelak nasib rumah makan Ampera tersebut kalau nenek itu sudah tiada? Siapa kelak koki penerus yang bisa memasak gulai ikan seenak masakan nenek itu? Ini bukan satu dua kali saya makan di beberapa rumah makan Ampera dan menjumpai kalau kokinya rata-rata orang tua yang sudah berusia tiga puluhan ke atas.

Saya jadi teringat dengan kejayaan rumah makan “Beringin” yang dulu lokasinya dekat bandara lama Tabing di tahun 90-an. Waktu itu rumah makan Beringin terkenal dengan rendang sebagai menu andalannya. Saya masih ingat betul ketika harus antre bersabar membeli nasi bungkus lauk rendang. Menu rendang Beringin bisa habis terjual cukup dalam waktu setengah jam saja!

Memasuki tahun 2000-an tepatnya tahun 2005, saya kembali ke kota Padang dan muncul gairah bernostalgia lidah di rumah makan Beringin. Ketika mencoba rendang Beringin, lidah saya kurang sreg mengecap bumbunya. Kok sekarang rasanya beda? Olahan daging kurang empuk dan warna bumbu rendangnya juga tidak sepekat dulu warnanya?

Selidik punya selidik ternyata tukang masaknya sudah orang baru. Koki lama pergi, koki baru datang. Tapi teramat sangat disayangkan jika rumah makan Beringin tidak bisa mempertahankan standar cita rasa menu rendang andalannya. Di mana dulu menu rendang pernah menjadi ikon rumah makan Beringin di tahun 90an.

Memasuki tahun 2000an rumah makan Beringin semakin sepi pengunjung. Di iringi dengan munculnya restoran-restoran besar yang berlomba memberikan jaminan menu tradisional, lebih bervariasi dan dengan cita rasa masakan yang lebih enak. Sampai akhirnya Beringin pindah lokasi. Kini saya tidak tahu lagi bagaimana nasib rendangnya Beringin sekarang. 

Dan rendang yang kini menurut saya termasuk paling enak cita rasa bumbunya dimiliki oleh rumah makan rendang Rajo-rajo yang lokasinya tidak jauh dari pelabuhan Teluk Bayur.

Sekarang sudah banyak bermunculan restoran-restoran besar, rumah makan kelas menengah, juga  rumah makan yang masih mempertahankan simbol historis budaya seperti kedai nasi kapau dan rumah makan Ampera, ya Ampera tempat makan favorit saya yang harganya murah meriah seperti harga seporsi makan di warteg yang menjamur di kota Jakarta.

Ngomong-ngomong ketika menyebutkan kata restoran, kedai nasi kapau atau Ampera kadang membuat saya berpikir nyeleneh. Tempat-tempat makan tersebut walau ada kesamaan dalam beberapa menu masakan, mereka sebenarnya menunjukkan kasta status sosial pengunjungnya. Rumah makan besar tempat parkirnya disesaki mobil sementara warung makan Ampera auranya memang lebih nyaman untuk kelas yang punya uang pas-pasan di saku celananya.

Kembali kepada apa yang saya risaukan. Apakah restoran-restoran besar itu, rumah makan kelas menengah itu menjamin memberikan cita rasa berbagai variasi menu masakan tradisional yang enak, lezat dan bikin lidah ketagihan? Belum, belum tentu. Ini dikembalikan kepada kehebatan koki yang mereka miliki di dapur.

Saya bersama istri sesekali pernah bereksperimen makan di tempat yang bikin status sosial naik kasta walau sampai sebatas perut kenyang saja..hehe. Jika sesekali tujuannya mulia untuk membuat hati anak-anak senang riang gembira nggak ada salahnya tokh? Hanya kadang saja saya sering kali mendapati istri dengan kedua mata bulatnya menerawang ke atas langit restoran dan bagaikan matematikawan ulung nampaknya ia sedang mengkalkulasi ulang pengeluaran dengan kalkulator canggih di otaknya.

Ketika saya mencoba menu rendangnya ah ternyata rasanya biasa-biasa saja. Tidak seenak rendang Beringin di tahun 90an itu. Dan begitu pula untuk kedai nasi kapau atau ampera lainnya yang pernah saya kunjungi dalam rangka perjalanan wisata kuliner murah meriah pas di kantong. Tidak semua tempat makan memiliki cita rasa masakan yang bisa memuaskan selera makan.

Saya sanksi apakah profesi sebagai koki masakan tradisional atau istilahnya di kampung “tukang masak” akan menjadi salah satu opsi cita-cita idaman generasi muda Minangkabau di masa mendatang? Karena sepengetahuan saya, anak-anak muda milenial kini cenderung lebih memilih asik kongkow makan di rumah makan cepat saji atau di kafe-kafe free wifi yang memperkuat citra mereka sebagai generasi era digital empat poin nol.

Melihat kebanyakan profesi koki, tukang masak baik di restoran, kedai nasi kapau, Ampera umumnya adalah para orang tua mulai dari usia tiga puluh sampai enam puluh tahunan. Dan mengetahui ternyata tidak semua tempat makan mempunyai rasa masakan tradisional yang benar-benar enak, lezat dan bikin lidah ketagihan. Alias rasa masakan kokinya, tukang masaknya, ya biasa-biasa saja. Di lidah tak terasa istimewa, khususnya masakan rendangnya.

Semua itu sudah cukup membuat saya yang doyan makan jadi was-was dan gusar kepikiran sendiri. Bayangkan betapa langkanya menemukan koki ahli masakan tradisional yang benar-benar handal di bidangnya di masa mendatang? Krisis profesi koki, tukang masak masakan Padang di masa mendatang saya jamin tinggal menunggu waktu saja.