Di tengah berbagai krisis bangsa saat ini, kita semua tentu menaruh sebagian harapan lewat pendidikan. Karena lewat pendidikanlah, kemajuan dalam berbagai sendi kehidupan bangsa  dan bernegara dapat kita capai sepenuhnya.

Namun belakangan ini, tak sedikit orang yang merasa khawatir dengan sistem pendidikan kita. Bagi mereka, banyak orang saat  ini memiliki keterampilan khusus dan gelar yang tinggi. Tapi sayang sekali, hanya sedikit dari mereka yang punya watak atau perilaku baik. Lalu kita bingung dan bertanya apa yang harus dilakukan? 

Jawabannya adalah dengan membongkar sistem pendidikan kita kurang tertata dan yang tidak merata. Kita yang hidup dan tinggal di kota merasakan pendidikan yang memang seharusnya dimiliki setiap orang. 

Namun, pernahkah kita lihat apa yang di dapat oleh orang yang hidup dan tinggal di desa-desa terpencil? Ya, hanya sedikit dari mereka yang dapat menginjakkan kaki ke tanah pendidikan. 

Lalu bagaimanakah nasib mereka yang tidak mendapatkan pendidikan yang layak? Mereka hanya bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan orang dewasa, seperti berjualan, beternak, melakukan pekerjaan rumah, bahkan sebagian mereka disuruh turun kejalan untuk mengemis uang. 

Dari sini sudah dapat disimpulkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya dimiliki semua warga di Indonesia. 

Hal ini dapat terlihat dari jumlah sekolah yang didirikan dan tenaga pengajar yang terdapat di sekolah perkotaan dan sekolah pedesaan. Jumlah sekolah maupun guru yang mengajar lebih banyak di perkotaan dibandingkan dengan di pedesaan. 

Serta alasan rendahnya minat guru yang mengajar di pedesaan dikarenakan oleh minimnya akses transportasi serta fasilitas sekolah yang masih di bawah standar. 

Selain itu kesenjangan pendidikan antara perkotaan dan pedesaan dapat terlihat dari sekolah-sekolah di perkotaan yang mempunyai fasilitas baik pastinya juga memiliki pengajar yang berkompeten sehingga nantinya menghasilkan siswa-siswa yang cerdas. 

Hal ini berbanding terbalik terhadap sekolah-sekolah yang terdapat di pedesaan yang mempunyai fasilitas sekolah yang kurang baik dan tenaga pengajar yang kurang kompeten. Lantas Bagaimana Pandangan sosiologi terhadap kesenjangan dalam dunia pendidikan?

Sosiologi pendidikan memandang kesenjangan dalam dunia pendidikan merupakan masalah sosial yang di dalamnya terjadi ketidakmerataan, ketidakadilan, dan ketidaksesuaian yang terjadi dalam masyarakat.

Indonesia sekarang ini sedang melakukan banyak usaha pemerataan pendidikan, namun usaha tersebut nampaknya masih belum terwujudkan, melihat sampai saat ini masih banyak terjadi kesenjangan dalam dunia pendidikan Indonesia baik dalam mutu maupun fasilitas.  

Kesenjangan sosial sendiri diartikan sebagai keadaan yang tidak sesuai dengan harapan, terjadi perbedaan yang begitu mencolok dan dapat dilihat dengan sangat jelas. 

Pemerataan pendidikan dalam arti pemerataan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak telah lama menjadi masalah yang mendapat banyak perhatian, terutama di negara-negara berkembang. Pendidikan harus mampu menjadi wadah bagi pembangunan bangsa dan membentuk manusia berkulitas.

Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidkan tersebut menjadi wadah atau bekal yang akan membangun negara yang lebih baik di masa depan kelak.

Faktor yang menyebabkan pendidikan di Indonesia kurang merata adalah kemiskinan, SDM (sumber daya manusia),rendahnya kualitas guru, rendahnya prestasi dan sarana dan prasarana sekolah. Dan saat ini daerah di Indonesia yang kualitas pendidikannya yang kurang terdapat di Indonesia bagian timur, baik itu pendidikan formal maupun informal.

Dengan ini kita perlu lebih banyak pemerataan pendidikan terutama di sekolah-sekolah pedesaan. Belum lagi selama masa pandemic ini kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online di mana hal tersebut membutuhkan akses internet yang stabil. 

Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan karena, dengan pendidikan kita dapat menjadikan Indonesia sebagai negara maju mau itu dari kotanya ataupun desanya.

Dan saat ini pemerintah dengan segala upayanya khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dalam hal ini sedang berupaya untuk mengatasi kesenjangan pendidikan yang terjadi di pedesaan dan perkotaan yaitu dengan mengeluarkan Program Sarjana Mendidik di Daerah (SM3T) yang bertujuan untuk mengatasi masalah kesenjangan pendidikan antara desa dan kota. 

Tentunya dengan pekerja sosial bisa membantu mengontrol hasil dan ikut berperan dalam pelaksanaan kebijakan pemerataan pendidikan.


Berbagai faktor yang dapat mendukung upaya pemerataan pendidikan di Indonesia seperti kualitas tenaga pendidik, biaya pendidikan, sarana dan prasarana pendukung, sister school serta kurikulum. Sedangkan usaha-usaha yang dapat dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah pendidikan di daerah terpencil antara lain: Pertama, menyediakan bantuan anggaran dalam pendidikan seperti BOS, bantuan operasional sekolah, bantuan bidik misi, Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan lainnya.

Melalui pendidikan, manusia disadarkan akan perannya di dunia. Melalui pendidikan, manusia dibebaskan dari kemiskinan dan kebodohan. Dan melalui pendidikan pula, manusia menjadi semakin manusiawi dalam memandang kehidupan. 

Dengan cara di atas, kita semua bisa membangun kurikulum pendidikan yang bersifat integral antara pendidikan intelektual dengan pendidikan karakter. Karena, kedua hal tersebut sama sekali tidak terpisahkan. 

Jika semua itu bisa terjadi, generasi Indonesia akan menjadi lebih cerdas, sekaligus memiliki karakter yang baik. Sehingga bisa menjadikan Indonesia sebagai negara yang pandang tinggi.


"If we focus on  the results, we will never change. If we focus on the change, we will get the results."