32810_93251.jpg
Ekonomi · 5 menit baca

Krisis Pangan Dunia dan Dampaknya bagi Indonesia

Ketika membahas tentang pangan, maka tidak luput dari sektor pertanian salah satunya. Pangan merupakan kebutuhan primer manusia, kalau manusia sudah tidak dipenuhinya atas kebutuhan pangan, maka akan terjadi krisis kehidupan. Sederhananya, manusia tidak menkonsumsi makanan akan terjadi kelaparan dimana-mana, tidak ada tumbuh kembangnya manusia dalam segi apapun, apalagi jika tidak terpenuhinya pangan yang bergizi kepada manusia, maka mental dan nutrisi yang dimiliki manusia akan lemah atau dibilang kurang sehat.

Pangan menjadi kebutuhan utama manusia, agar tidak terjadi krisis maka ketahanan pangan yang menjadi salah satu solusi tepat. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 1992, mendefinisikan ketahanan pangan sebagai situasi di mana semua orang memiliki kecukupan jumlah atas pangan yang aman dan bergizi demi kehidupan yang sehat dan aktif.

Apakah setiap negara memiliki kecukupan pangan? Apakah setiap daerah memiliki kecukupan pangan? Dan apakah setiap individu sudah mendapatkan kecukupan pangan yang bergizi agar terwujudnya kehidupan yang sehat dan aktif?

KONDISI KETAHANAN PANGAN DUNIA

Pada tahun 1996 World Federation of Orthodontists (WFO) melakukan pertemuan di Roma Italia, pada pertemuan itu Official Development Assistance (ODA) memaparkan data, bahwa pada tahun 1979 post anggaran serta investasi rata-rata disetiap negara mencapai 18%, lalu perkiraan  di tahun 2009 berkurang menjadi 6%.

Kalau di analisa dengan data yang ada dan melihat kondisi dunia serta negara negara berkembang, maka bisa dikatakan bahwa pada tahun ini telah terjadi penurunan investasi di sektor pangan disetiap negara. Negara atau pemerintah harus hadir dalam pembuatan kebijakan serta perhatian  di sektor pangan agar isu ketahanan pangan ini bisa diselesaikan.

Namun, fokus negara yang seharusnya membuat kebijakan taktis maupun strategis di sektor pangan itu diabaikan. Finlandia misalnya, fokus investasi dan post anggaran di sektor Industri 4.0 yang menargetkan kepada modernisasi, ketika sektor pangan hanya menjadi perhatian kecil di negara tersebut, ataupun di belanda dan negara-negara yang lain.

Sebelum masalah pangan urgen untuk dibicarakan, pada tahun 1945 sebelum berakhirnya perang dunia (PD) II, penyelesaian konflik yang berkecamuk diantara 3 benua, yakni: benua Afrika, Asia, dan Eropa. Merupakan hal yang sangat penting untuk dibicarakan demi mencari solusi penyelesaian pada saat itu. Betapa tidak, saat itu, konflik ini mengancam keamanan jutaan umat manusia. Konflik tersebut juga mempengaruhi hubungan kerjasama diantara berbagai Negara di belahan dunia. Setelah PD II tersebut usai, perang dan konflik bukan lagi dua hal yang harus ditakuti melaikan isu tradisional tersebut menjadi pelajaran berharga bagaimana bersikap untuk keduanya.

Persoalan tersebut kini tergantikan oleh persoalan krisis pangan yang melanda dunia. Semakin bertambahnya populasi penduduk dunia otomatis kebutuhan akan pangan juga semakin meningkat. Menjadikan setiap Negara harus mampu menjaga ketersediaan pangan yang dimilikinya, agar terhindar dari ancaman kelaparan yang akan menimpa penduduknya. Perkembangan yang ada saat ini, krisis pangan dan bahaya kelaparan sedang membayangi dunia.

Jumlah kasus kekurangan pangan dan kelaparan tahun ini paling tinggi sejak tahun 1970-an. FAO-UN (2009) memperkirakan sekitar 1,02 milyar jiwa di seluruh dunia saat ini sedang mengalami kekurangan pangan dan kelaparan. Kondisi yang paling parah terjadi di negara-negara Afrika dan Asia Selatan. Bahkan, menurut UN Population Fund (2000) memprediksi pada tahun 2050, akan ada tambahan sekitar 2,32 milyar jiwa yang tersebar di seluruh dunia yang harus dipenuhi kebutuhan pangannya di bawah tekanan ancaman perubahan iklim yang semakin berat.

Setiap harinya penduduk dunia terus bertambah, Menurut International Fund Agriculturale Development (IFAD) 925 Juta penduduk dunia kelaparan dan  Populasi pada 2050 mencapai 9,1 Miliar penduduk serta 1,4 Miliar penduduk memperoleh penghasilan kueang dari 1,25 USD/Days. Beberapa masalah yang menyebabkan terjadinya krisis pangan, bukan hanya persoalan penduduk dunia semakin meningkat, namun, alih fungsi lahan pertanian berubah menjadi lahan infrastruktur dan properti, stabilitas harga yang terus menaik, dan bencana yang mengakibatkan terjadinya krisis pangan di lokasi bencana tersebut.

DAMPAK KRISIS PANGAN TERHADAP INDONESIA

Tragedi yang terjadi pada tahun 1997 merupakan awal dari perubahan pemerintahan di Indonesia yang sekian lama di belenggu oleh kepemimpinan Soeharto. Disisi lain perubahan yang di nanti oleh masyarakat ini tidak sesuai keinginan masyarakat itu sendiri. Betapa tidak, beberapa harga kebutuhan bahan pokok mulai tidak stabil termasuk harga 9 bahan pokok melonjak naik. Kenaikan harga ini kemudian memicu ketidak stabilan politik di Indonesia yang akhirnya mengeluarkan berbagai kebijakan oleh pemerintah. Salah satu kebijakan pemerintah termasuk pengadaan impor gula, daging, beras, dan beberapa pangan lainnya dirasa kurang menggembirakan bagi masyarakat Indonesia hingga saat ini.

Kebijakan pemerintah akan impor beras sebagai kebijakan pangan untuk mengatasi krisis pangan, dirasa merugikan bagi Indonesia secara terus-menerus. Hal ini didasari pada daya saing produk pangan Indonesia dirasa masih kalah jauh di banding Negara-negara Malaysia, Thailand, dan Filipina. Jika terus menerus terjadi impor beras, Indonesia nantinya akan mengalami ketergantungan terhadap Negara-negara lain, akibatnya sektor pertanian kita semakin terpuruk.

Pada tahun 2007-2008, harga pangan di pasar internasional kembali melonjak. Hal ini menjadi perhatian bagi Negara-negara di dunia khususnya Negara-negara berkembang untuk memberi perhatian lebih pada aspek ketersediaan pangan. Menipisnya ketersediaan pangan atau terjadinya krisis pangan akan mempengaruhi roda perekonomian Indonesia.

Ketika terjadi krisis pangan, pangan akan langka, kelangkaan ini menyebabkan harga terus melonjak. melonjaknya harga ini akan memicu terjadinya konflik sehingga mempengaruhi roda perpolitikan. Dampak lain yang terjadi di Indonesia akibat terjadinya krisis pangan adalah kelaparan. Tidak hanya di Indonesia, melainkan kelaparan juga terjadi dibelahan dunia. Hasil penelitian FAO (Food Agriculture Organization) tahun 2010 menunjukkan penduduk dunia yang mengalami kelaparan mencapai 925 juta jiwa.

Selain kelaparan, dampak lain dari krisis pangan yang terjadi di Indonesia adalah ketergantungan akan impor. Saat ini Indonesia termasuk pengimpor beras terbesar dengan jumlah 2,5 juta ton beras per tahun. Selain beras juga mengimpor 2 juta ton gula dan 1,2 juta ton kedelai. Jika ini tidak secepatnya di antisipasi oleh pemerintah, maka tidak mustahil Indonesia akan mengalami seperti yang terjadi di Negara Haiti yang menjadi salah satu negara krisis pangan dengan penghasil beras produksi 170.000 ton beras per tahun masih mengalami krisis pangan.

Sementara Indonesia diprediksi akan mengalami krisis pangan tersebut pada tahun 2017 di 150 kabupaten/kota dari 480 kabupaten/kota di Indonesia melihat populasi penduduk yang menjadi 237 juta jiwa per 2010 serta melihat peristiwa yang terjadi di indonesia mengenai kelangkaan kedelai pada awal 2008, serta impor beras dan gula begitu juga dengan komoditi pangan lainnya. Menurut data hasil sensus pertanian yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2013, telah terjadi penurunan rumah tangga petani dari 31,17 juta pada 2003 menjadi 26,13 juta pada 2013 atau turun 1,75 persen per tahunnya.