Wiraswasta
2 tahun lalu · 82 view · 2 menit baca · Politik mmw_global_070109_article.jpg

Krisis Kepemimpinan di Dunia Ketiga

Seiring berjalannya waktu, masa lalu tetap meninggalkan jejaknya untuk tetap bergerak ke masa depan. Bukan berarti masa lalu menjadi penentu kehidupan di masa depan. Dari jumlah manusia di bumi yang kira-kira mencapai angka tujuh miliar, lebih dari empat miliarnya adalah manusia yang mendiami negara dunia ketiga.

Hal ini menunjukkan bahwa masih banyaknya warga negara dunia ketiga yang mengalami keterbatasan hak dan kesempatan dalam memanifestasikan potensi kepemimpinan mereka, dengan adanya pengalaman masa lalu dari kolonialisasi yang masih meningalkan ideologi dengan sistem yang menindas serta diskriminatif.

Dampak terbesar dari hal tersebut bukan pada hal fisik dan kerugian materi yang diderita saja. Akan tetapi kerusakan pola pikir yang mengerikan terhadap mental serta konsep gambar diri, nilai diri dan harga diri yang dampaknya mengharuskan mereka percaya untuk berjuang terhadap diri mereka sendiri mengenai harapan dan impian.

Sudah sejak lama kita mengenal definisi kepemimpinan yang diartikan sebagai sebuah pencapaian berdasarkan jabatan kekuasaan dan kedudukan. Pengertian tersebut tentu saja menimbulkan kesan bahwa kepemimpinan hanya terbatas dan bisa didapat pada orang di golongan tertentu.

Akibatnya banyak orang mengejar kekuasaan dengan mengorbankan prinsip dan Integritas yang bisa dengan mudah ditukar dengan kesenangan sementara. Cara hidup dan pola pikir seperti itu anehnya diterima sebagai hal yang normal dan biasa.

Sehingga, dapat  dibayangkan betapa berbahaya bila kepemimpinan seperti yang disebutkan tadi bertanggung jawab terhadap hidup orang banyak. Inilah yang menyebabkan krisis kepemimpinan di seluruh dunia.

Faktanya kepemimpinan sekarang ini merupakan produk dari pemimpin sebelumnya, oleh karena itu masyarakat tidak dapat menghasilkan pemimpin yang lebih baik dari pada masyarakat itu sendiri.

Kabar baiknya setiap manusia mempunyai potensi menjadi pemimpin. Walaupun setiap orang bisa mendapatkan kekuasaan, uang dan kedudukan tetapi belum tentu bisa di sebut sebagai pemimpin. Potensi kepemimpinan yang ada pada setiap manusia hanya bisa muncul dengan adanya sebuah “Sikap”.

Karena dengan sikap sesorang bisa menciptakan dunianya dan takdirnya. Dalam kehidupan sikap yang menentukan seseorang menjadi berhasil atau gagal. Dengan sikap seseorang dapat menentukkan respon terhadap lingkungan sekitar di masa sekarang yang menentukan kualitas hidupnya di masa depan.

Sikap adalah sebuah produk pola pikir yang alami dari perpaduan nilai gambar diri, konsep diri, harga diri, dan perasaan berharga dan berarti. Dengan kata lain sikap merupakan manifestasi dari siapa seseorang sebenarnya menurut pikirannya.

Sikap lebih penting dari realita masa lalu, jabatan, uang, kegagalan, atau keberhasilan. Dengan sikap masyarakat dunia ketiga bisa menentukan kembali untuk membangun atau menghancurkan.

Dengan kata lain, semua mempunyai pilihan tentang sikap. Sikap bisa disebut juga sebuah aset yang bisa di investasikan dengan memberinya pengaruh yang positif. Masa depan  suatu negara tergantung terhadap sikap dan kepemimpinan warga negaranya untuk membentuk suatu tatanan kehidupan yang baru.​

Artikel Terkait