"Teruntuk kita yang sama-sama masih mencari arti dan tujuan dari hidup ini."


Krisis Identitas dalam Hidup Manusia 

Krisis identitas adalah keadaan di mana manusia merasakan ketidakpastian tentang peran, tujuan, dan maknanya dalam kehidupan. Keadaan ini khas terjadi pada masa remaja dan cenderung diselesaikan pada akhir masa remaja atau dewasa awal ketika telah memperoleh rasa tempat dan tujuan dalam masyarakat yang lebih besar dan memperoleh rasa komitmen terhadap peran sosial dan seksual (The Cambridge Dictionary of Psychology). 

Walaupun umumnya terjadi di masa remaja, krisis identitas sebenarnya bisa terjadi pada siapa pun dalam sepanjang masa hidupnya. Umumnya, pada usia remaja, manusia mulai mempertanyakan makna hidupnya karena mengkhawatirkan masa depannya. Terkadang pikiran manusia menjadi terbebani karena tidak tahu ingin menjadi apa, dan takut untuk mencari jawaban dengan mencoba untuk keluar dari zona amannya. 

Ketika berefleksi pada diri, perilaku ini sesungguhnya disebabkan oleh ketidakyakinan dan rasa takut saya akan konsekuensi dari langkah yang akan diambil, sehingga akhirnya meragu untuk melangkah lebih maju.

Untuk sembunyi dari rasa malu akan ketidakmampuan maupun ketakutan saya dalam mencari jawaban, saya terbiasa menyalahkan keadaan dan ketidaksiapan saya secara materi, mental, maupun fisik yang di luar kendali saya. Alasan-alasan tersebut, sebenarnya merupakan coping mechanism agar saya merasa lebih baik tentang diri saya. 

Namun buruknya, bukannya berusaha keras untuk menyelesaikan krisis itu, saya selalu mencari alasan dan menunda langkah menuju pencarian dan pengembangan diri. 

Tentu tidak semua manusia melakukan ini, tidak semua orang tenggelam dalam rasa takutnya akan masa depan. Namun melihat sekitaran saya, hal ini saya yakini juga banyak dirasakan oleh manusia lainnya. 

Entah dalam berusaha memahami dirinya, mengambil keputusan besar maupun keputusan kecil, manusia memiliki banyak keraguan dan kecemasan akan tanggung jawab yang nantinya harus Ia pikul saat memilihnya. 

Memang benar adanya, terkadang kita hidup dalam keadaan yang tidak kita pilih. Tapi tak serta merta kita tidak bisa mengubahnya. 

Contohnya Nicholas Vujicic, atau biasa dipanggil Nick Vujicic, seorang evangelist, motivational speaker, dan penulis buku, yang lahir dengan sindrom tetra-amelia. Seseorang yang secara medis divonis memiliki ‘kelainan’ fisik karena lahir dengan tangan dan kaki yang belum terbentuk dengan sempurna. 

Pada awal kehidupannya, dengan kondisinya yang dianggap berbeda, ia sering mengalami diskriminasi dan bullying di sekolahnya. Sempat tenggelam dalam keterpurukan, Nick mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Walaupun sekarang menjadi seseorang yang dianggap sukses, Nick juga pernah mengalami krisis identitas dalam berproses dalam hidupnya. 

Dahulu, Ia juga kerap mempertanyakan dengan kondisinya yang seperti ini, “Apakah hidupku ini ada artinya sama sekali?” 

Eksistensialisme dari Mata Jean-Paul Sartre 

Jika berbicara mengenai Sartre, kita tidak akan lepas dari konsep ‘Existence precedes Essence’ yang kurang lebih berarti; Manusia hanya sekedar lahir dan ada, tanpa memiliki esensi. 

Manusia lah yang bertugas untuk memberi makna dan tujuan kepada hidupnya. Maka dari itu, Sartre menekankan subjektivitas pada eksistensi manusia dan kemampuannya untuk menginterpretasi diri dan sekitarnya dengan bebas.

Walaupun tiap manusia hadir dalam ‘keterlemparan’ yang membatasi manusia dalam beberapa faktor tertentu, Sartre menekankan manusia memiliki kebebasan absolut dalam menginterpretasi dan memilih. Melalui kebebasannya, manusia memiliki kekuatan untuk menentukan esensi atau karakternya; memaknai eksistensinya. 

Namun sayangnya, karena kebebasan absolut yang dimiliki manusia diikuti dengan tanggung jawab yang begitu besar, tak jarang manusia cenderung merasa cemas dan terbebani dalam menentukan langkahnya. 

Kebebasan absolut yang dimaksud Sartre berarti manusia bertanggung jawab sepenuhnya akan konsekuensi dari pilihan yang akan dihadapinya kelak, tanpa bisa mendelegasikan tanggung jawab itu kepada siapa pun.

Beratnya tanggung jawab ini yang membuat Sartre berkata bahwa kebebasan sesungguhnya adalah beban bagi manusia. 

Sehingga terkadang, lebih mudah bagi manusia untuk menutup mata dan menipu diri akan kebebasan yang dimilikinya. Maka tak jarang, manusia menyalahkan keadaannya. Atau mungkin meyakini bahwa Ia sudah ditakdirkan sebagaimana adanya. 

Inilah yang disebut Sartre sebagai Bad Faith; kondisi di mana manusia menolak fakta bahwa ia memiliki kebebasan untuk membebaskan diri dari beratnya tanggung jawab yang mengikutinya. 

Jean-Paul Sartre meyakini bahwa ketika manusia mengakui kebebasan dan tanggung jawabnya, maka ia berada dalam jalan menuju hidup yang otentik.

Menjadi otentik berarti mengakui apa yang telah kita perbuat dan akibat yang mengikutinya. Yang artinya, mengakui bahwa manusia mampu untuk mengubah dirinya sendiri. 

Eksistensi yang otentik bagi Sartre artinya manusia hidup dengan kesadaran yang penuh dan bertanggung jawab akan jalan yang ia pilih dalam hidup ini.

Pembebasan Krisis Identitas Melalui Kebebasan Absolut

Dalam krisis identitas, pertanyaan yang umumnya muncul adalah ‘Apa tujuan aku ada?’ atau mungkin extreme-nya seperti yang dipertanyakan oleh Nick Vujicic, ‘Apakah ada tujuan dari aku hidup?’

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tentang alasan adanya seseorang tentu saja beragam. Siapa pun bisa memberi jawaban namun setiap jawaban itu tidak bisa dipastikan kebenarannya. 

Jean-Paul Sartre sendiri mengatakan tidak bahwa ada esensi yang diberikan kepada manusia sebelum ‘hadir’ di bumi. Namun, secara umum, dikatakan untuk mengetahui makna adanya sesuatu, maka harus ditemukan terlebih dahulu esensinya. 

Jika menilai dari konsep ‘Existence precedes Essence’ milik Jean-Paul Sartre, maka sudah jelas, satu-satunya cara untuk menemukan makna hidupnya, seseorang tersebut haruslah membentuk esensinya sendiri melalui kebebasan yang dibebankan padanya.  Semua bergantung pada cara manusia menggunakan kebebasannya. 

Seperti Nick Vujicic, yang dalam perjalanannya untuk mencari makna hidupnya, sempat merasa tak berdaya berada dalam keterbatasannya dan mencoba untuk mengakhiri hidupnya. 

Memang benar ia memiliki keterbatasan fisik. Hal tersebut merupakan suatu hal yang tidak bisa berubah mau bagaimana pun ia mencoba. 

Namun seperti yang dikatakan Sartre, manusia yang hidup dalam keterlemparan pun masih memiliki kebebasan absolut untuk memilih. 

Akhirnya Nick memilih untuk keluar dari kenyataan itu dan memilih untuk menggunakan dirinya sebagaimana adanya untuk mencari makna eksistensinya agar ia bisa hidup secara penuh, otentik, dan bermakna. 

Krisis identitas bisa saja terjadi saat manusia dihadapkan dengan perubahan yang begitu cepat sulit, atau bahkan ketika berhadapan dengan manusia-manusia lain yang sudah menemukan makna eksistensinya. 

Terkadang ada rasa takut, malu, atau pun khawatir yang muncul ketika manusia belum menemukan pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang hidupnya. Sayangnya, ketika dihadapkan dengan pertanyaan yang jawabannya tidak diketahui, manusia cenderung cemas dan menghindari; bukan memikirkan solusi dari pertanyaan tersebut. 

Hingga tak sadar, terkadang manusia memilih untuk pasrah, menyerah, mengatasnamakan takdir, atau mungkin mengikuti arus yang disiapkan oleh orang lain. 

Seakan-akan mereka tak berdaya. 

Tentu saja tidak ada yang salah dengan melakukan hal-hal tersebut. Sesuai dengan yang ditekankan Sartre, semua tanpa terkecuali, memiliki kebebasan untuk memilih. 

Namun, yang perlu ditekankan juga, dari pilihan tersebut, tentunya akan ada konsekuensi yang ditanggung. Ketika manusia memilih untuk diam dalam kebingungannya, atau mengikuti arus, maka Ia akan hidup dengan ambang ketidakpastian dan secara terus menerus terombang-ambing dalam dunianya tanpa tahu pasti makna dan tujuan dari hidupnya. 

Memaknai Hidup dalam Kebebasan Absolut Menurut Jean-Paul Sartre

Dilihat melalui lensa Sartre, dalam memaknai hidup ini, secara singkat, mungkin dapat dijelaskan dengan kalimat, "Hidup ini adalah pilihan." Maka ketika manusia mempertanyakan apa makna dari eksistensinya, sesungguhnya, jawabannya ada pada dirinya sendiri. 

Dalam hidupnya, manusia secara konstan berubah sesuai dengan tindakannya. Karena kebebasan manusia dalam menginterpretasi keadaan dan cara mereaksinya, sesungguhnya adalah yang membentuk esensi manusia itu sendiri.

Pada dasarnya, yang harus dipahami adalah setiap manusia memiliki kondisi keterlemparannya masing-masing. Namun jika manusia tidak keluar dalam kondisi tersebut, maka hal itu sepenuhnya adalah tanggung jawabnya. 

Kemungkinan kehidupan yang tiada batasnya, terkadang menghadirkan kabut atau justru pencerahan dalam pandangan kita untuk menentukan langkah dalam hidup ini. Entah menghambat atau justru mendorong, semua akan kembali pada tiap pribadi; pilihan yang diambil berdasarkan caranya menginterpretasikan keadaan.

Pertanyaan mengenai mengapa kita hadir di dunia ini, sesungguhnya tidak akan pernah terjawab. Tentu tiap manusia memiliki arti, namun jika dilihat menggunakan kacamata Sartre, bagaimana cara manusia hidup lah yang seharusnya dipertanyakan. 

Karena pilihan manusia lah yang membentuk makna dan esensi dari eksistensi nya. Karakter manusia secara konstan berubah mengikuti perbuatannya karena manusia tidak lahir dengan ‘cetakan’. 

Melalui kebebasannya, manusia menulis sendiri jalan cerita dan ‘takdir’nya. 


Daftar Pustaka 

Matsumoto, D. (2009). The cambridge dictionary of psychology (1st ed.). Cambridge University Press. 

Nick biography. (27 Maret 2021). Life Without Limbs. Diambil 28 Oktober 2021 dari https://lifewithoutlimbs.org/about/nick-biography/

Wicks, R. (2003). Modern french philosophy: From existentialism to postmodernism. Oneworld Publications.