Era globalisasi terus berkembang pesat banyak menyisihkan perilaku dan kebiasaan baik yang dianggap kuno. Dunia digital kini telah menyatu pada peradaban manusia, bahkan tak jarang menjadikannya empu untuk tuntunan hidup. 

Ribuan konten disuguhkan setiap harinya dari berbagai platform dan dari seorang content creator kepada para milenial penikmat digital. Tak ada pembatas dan penasihat untuk dapat memilihkan konten yang bermanfaat. Hanya diri sendiri yang harus peka untuk memilah mana yang sesuai.

Namun, sangat disayangkan remaja kini tak sedikit yang salah langkah ketika menyodorkan diri pada suatu tontonan. Banyak sekali para remaja yang menjadi penikmat konten yang menyeleweng. 

Wajar jika banyak orang terutama para remaja tidak mengindahkan norma dan bersikap tidak bermoral terlebih pada kehidupan maya di sosial media. Sudah menjadi fakta umum bila tontonan dapat menjadi sebuah tuntunan di dalam kehidupan seseorang. 

Banyak sekali hal positif dari adanya perkembangan digital yang begitu cepat dan pesat ini. Tetapi dari banyaknya hal positif yang ada, ternyata segudang hal negatif berjalan beriringan. 

Perilaku sopan santun yang dibentuk sedari kecil, bahkan juga ketika mengenyam bangku sekolah, tiba-tiba lenyap tak berbekas ketika menyelami dunia digital terlebih sosial media. Kerap pula rasis, cemoohan, dan diskriminasi terlontar tanpa dosa melalui ketikan jari-jemari pada kolom komentar milik karya orang lain.

Bahkan yang paling parahnya, krisis identitas dan moral telah melanda kaum remaja kini. Seolah-olah mereka harus menjadi apa yang orang damba-dambakan, berusaha mengikuti tren masa kini yang dianggap lagi ‘viral’ , serta dianggap lumrah dan hal biasa ketika kisah dua orang remaja yang memadu kasih tanpa ikatan pernikahan menghiasi beranda sosial media.  

Pasti nggak asing, kan, ketika mendengar judul film “Dua Garis Biru”, apa yang langsung terlintas cepat di benak kalian? Yap, mungkin kalimat itu tak jauh beda seperti apa yang kubayangkan, bahkan bisa jadi serupa. 

Film yang bercerita tentang kisah percintaan sepasang muda-mudi yang duduk di bangku SMA. Film yang dikemas begitu halus yang menceritakan insiden pasangan muda-mudi yang sedang bercinta berujung munculnya dua garis biru alias hamil di luar nikah. 

Naudzubillah, para milenial saat ini disuguhkan dengan tontonan yang tidak sesuai syariat-nya. Padahal dalam islam saja, seseorang yang belum siap menikah dilarang untuk berpacaran karena hal itu mendekati zina dan dapat menciptakan mudharat, lah ini malah ditayangkan tontonan hamil di luar nikah. 

Maka wajar bila remaja kini yang melakukan hal serupa malah memublikasikan kronologi kejadian yang mereka alami ke ruang publik melalui sosial media. Bukannya malah malu dan merasa hina atas perbuatan yang telah dilakukannya. 

Satu hal yang sangat disayangkan, ternyata banyak orang yang malah mengasihani perbuatan mereka dan memberi semangat. Seolah-olah perilaku mereka dianggap lumrah begitu saja. Padahal hal tersebut sungguh dilaknat oleh Sang Pencipta. 

Dahulu saat zaman masih dapat dibilang kuno dan teknologi digital belum berkembang pesat, perilaku menyimpang dari moral yang salah satunya hamil di luar nikah sangat membuat malu keluarga. Bahkan sampai-sampai hal semacam itu akan ditutup rapat agar tetangga sekitar tak mengetahui. Orang tua menganggap hal tersebut tidak hanya menjadi aib bagi putrinya yang hamil di luar nikah, tetapi juga aib bagi keluarga. 

Ketika kita menengok masa kini, boro-boro menjadi aib, malahan hal tersebut diungkapkan secara gamblang bila tidak perawan lagi dan pernah melakukan hubungan badan dengan kekasihnya di luar ikatan pernikahan. Mirisnya, hal tersebut malah menjadi candaan ketika kita menelisik beberapa konten muda-mudi ibu kota dan para artis.

Beberapa konten video yang membahas tentang MBA (marriage by accident) di kalangan para remaja ibu kota, mereka mayoritas menganggap hal tersebut merupakan pilihan masing-masing. Mereka mengatakan tidak ada yang salah dan benar, semua itu kembali kepada pasangan tersebut, mau dibawa ke mana dan seperti apa hubungannya akan dijalani. 

Dalam konten tersebut, mereka juga mengatakan, mereka tidak peduli apa yang dikatakan para warganet tentang hidup mereka, karena mengangap hidup ini masing-masing yang menjalani. Orang tidak berhak untuk menghakimi dan mengomentari hidup orang lain. Mereka mengatakan hal tersebut seperti merasa tidak ada tuhan yang kelak akan menghakimi perbuatannya di hari akhir nanti.

Miris sekali saat kita melihat fakta di lapangan. Ketika tuntunan agama dan moral benar-benar dijaga, tetapi diluluh lantakkan perihal hak individu terhadap diri mereka masing-masing. Mengatakan orang lain tak pantas mengomentari perilaku mereka. 

Namun, mengapa perbuatan merusak moral harus dipertontonkan di ruang publik? Seolah perilaku yang diperbuat tidak akan dipertanggungjawabkan. Sungguh krisis identitas dan moral benar terjadi nyata di kalangan para milenial. 

Perilaku menyimpang yang dilakukan oleh para remaja kini, tidak lain dan tidak bukan salah satu faktornya adalah tontonan, entah di sosial media atau bahkan di media elektronik. 

Sistem saat ini sangat sulit untuk dapat menaungi perilaku dan moral yang baik, bahkan malah sebaliknya dengan menyuguhkan hal yang merusak. Hanya kedekatan individu kepada Tuhanlah yang menjadi pengikatnya. Rasa takut dan merasa terawasi oleh Tuhanlah perilaku seseorang akan dapat terjaga. 

Masa remaja merupakan transisi menuju dewasa seharusnya dapat memilah mana yang sesuai aturan atau tidak, karena saat remaja kecerdasan akal dan berpikir telah sempurna. Tinggal bagaimana diri kita, apakah akan menggunakannya untuk hal yang sesuai aturan atau hanya digunakan untuk mengikuti hawa nafsu saja. 

Jika dapat disimpulkan, bukan hanya kesalahan remaja yang tidak dapat mengikuti dan mencontoh hal yang baik. Bukan seluruhnya salah para milenial pula ketika krisis moral dan identitas terjadi di kalangan remaja kini. 

Namun, kondisi dan tatanan dalam sosial masyarakat juga berpengaruh besar terhadap kualitas pembentukan remajanya. Tayangan bermanfaat sebanyak apapun tak akan cukup berpengaruh bila konten yang buruk dan tidak senonoh masih banyak beredar. Ditambah lagi kondisi lingkungan sekitar yang masih banyak mengacuhkannya. 

Perbaikan identitas dan moral para milenial tidak hanya dilakukan oleh setiap individu saja, tetapi tatanan sosial masyarakat harus pula mengalami perbaikan. Perlu adanya penanaman pemahaman dan penguatan ideologis pada diri para remaja agar ia menjadi pribadi yang memiliki identitas diri yang kuat. 

Ketika remaja telah memiliki identitas diri, ia tak akan mudah tergoyahkan terhadap tren buruk dan menjadi pribadi yang selektif sebagai pondasi peradaban negeri.