Krisis “Filsafat dan Tradisi” direpresentasikan dalam dualismes sumber pemikiran filsafat kontemporer kita yaitu: filsafat yang biasanya diartikan sebagai filsafat Barat Modern dan Kontemporer, tradisi yang biasanya diartikan sebagai tradisi filsafat klasik.

Maka filsafat datang dari Barat Modern dan tradisi datang dari sejarah klasik kita. Dengan kata lain, “yang lain” (al-akhar) adalah modern dan kontemporer, sedangkan “diri” (al-ana) adalah sejarah klasik.

Akibatnya terjadi dikotomi antara “diri” dan “yang lain” dalam bentuk dikotomi waktu yaitu antara yang lama dan yang baru, antara tradisi dan filsafat dan seterusnya yang merupakan terminologi terminologi asa kita dengan tuntutan utamanya adalah mengenai otentisitas dan kemodernan.

Adapun aspek yang ketiga adalah yang direpresentasikan oleh kata sambung huruf “waw” yakni ide otonom yang didasarkan pada nalar murni dan memungkinkan domain interaksi ada di antara yang lama dan yang baru sehingga ia tidak mempunyai eksistensi.

Ia adalah nalar simbolik dari sejumlah ilmu pengetahuan filosofis murni terutama metafisika yang didominasi oleh materi orang-orang kontemporer semisal Kant, Heidegger dan Carnap sebagaimana pengantar filsafat juga telah didominasi oleh watak Barat dalam klasifikasi filsafat menjadi tiga teori yang populer, pengetahuan, ontologi, dan nilai menunjuk pada padanannya yang terdapat dalam tradisi klasik kita (baca: Arab-Islam,ed) tentang Ilmu Ushûl al-Hadîts yaitu: 

Teori ilmu pengetahuan, ontologi dan metafisika yang menggabungkan teori tauhid dan keadilan yakni yang menghimpun nilai terutama otonomi nalar, kebebasan berkehendak, dan proyeksi ke masa depan. Sebenarnya tiga teori yang terdapat dalam filsafat Barat modern ini hadir pada permulaan abad-abad modern sebagai selubung teori baru untuk mengganti selubung teori lama yang muncul pada Abad pertengahan dan yang dibabat habis pada masa Renaisance. 

Pada sisi lain, tiga teori ini juga senantiasa tertanam kokoh dalam teologi yang ada pada tradisi klasik kita. “Asas-asas filsafat” yang dikaitkan dengan generasi kita adalah tiga aspek filosofis yang didefinisikan oleh sikap kultural objektif kita yaitu, sikap terhadap tradisi klasik, sikap terhadap tradisi Barat, dan sikap terhadap realitas.

Penjelasan utama krisis ini adalah kesalahan mengkalkulasi konteks lokalitas zaman, sehingga memproduksi kebingungan mahasiswa-mahasiswa filsafat di antara ayunan tradisi klasik dan filsafat kontemporer. Seiring dengan hal tersebut kami menyesalkan ketiadaan relasionalitas ketetapan-ketetapan filosofis kita dengan spiritualitas zaman dan ketiadaan uraian filosofis terhadap problematika-problematikanya.

Penyebabnya jelas yaitu mahasiswa filsafat terkungkung di antara tiga elemen yaitu: tradisi klasik kita, tradisi Barat modern, realitas zaman kita dan beberapa urgensi perhatiannya tanpa ada hubungan organis maupun interaksi di antara ketiganya.

Karena itu, solusinya adalah membatasi sikap dengan cermat terhadap tiga kelompok itu, menciptakan elemen-elemen interaksi di antara mereka sehingga kesadaran kebangsaan kita tidak cenderung dihadapkan kepada salah satunya saja dengan mengabaikan dan acuh tak acuh sama sekali terhadapnya. 

Dalam konteks inilah muncul salafisme pada kelompok pertama dan rasionalisme-sekuler pada kelompok kedua. Transformasi reformisme lahir pada kelompok ketiga. Masing-masing kelompok eksklusif terhadap dua kelompok yang lainnya atau merasa cukup dengan melawan dan mengkafirkan keduanya, sehingga tidak ada perbedaan yang signifikan di antara mereka.

Kadang-kadang salah satu penyebab krisis ini adalah kelompok pertama dan kelompok kedua (baca: tradisi klasik dan filsafat Barat modern). Artinya, antara tradisi klasik dan filsafat Barat modern tidak ada kesamaan dari segi kedalaman sejarah. Sehingga, dalam kesadaran historis kita, tradisi lebih dalam daripada filsafat.

Sebab, tradisi dalam kesadaran nasional kita membentang lebih dari empat belas abad sedangkan filsafat Barat adalah bayi yang dilahirkan dalam tradisi sejak dua abad yang lampau. Karena itu, filsafat bukanlah tradisi klasik, sedangkan generasi-generasi yang aktif di dalamnya tidak lebih dari dua atau tiga generasi saja.

Bahkan, tradisi Barat dalam pandangan pendukung-pendukungnya senantiasa modern bila dihubungkan dengan tradisi klasiknya yang terdapat dalam Abad Pertengahan atau pada masa Yunani. Demikian juga sampai pada orientasi-orientasi pelestarian pada filsafat kontemporer misalnya Neo-Thomisme yang menganggapnya semata-mata dua tanda petik, interpretasi baru terhadap tema-tema mendasar yang ada pada Abad Pertengahan. 

Kalau tradisi lebih konstan dalam kesadaran historis kita daripasa filsafat, maka ekspresi “Tradisi dan Filsafat” lebih tepat dari pada “Filsafat dan Tradisi”. Maka pengutamaan diberikan kepada tradisi di atas filsafat karena tradisi lebih dalam secara historis dan lebih konstan secara psikologis dalam kesadaran kebangsaan kita. Kadang-kadang salah satu penyebab adanya ketidakseimbangan antara tradisi dan filsafat dalam kesadaran kebangsaan kita adalah bahwa tradisi merupakan pengetahuan identitas.

Yang dimaksud dengan tradisi di sini adalah tradisi klasik kita yang mengekspresikani dentitas “diri”. Pada sisi lain filsafat yang kadang-kadang maksudnyaa dalah filsafat Barat Kontemporer, kurang menjelaskan ekspresi identitas. Identitas siapa? Identitas “diri” ataukah identitas “yang lain”? Jika yang dimaksud adalah identitas “diri” maka apakah identitas “diri” yang klasik ataukah identitas “diri” yang kontemporer? Konsekuensinya di dalam “diri” tumbuh urut-urutan yang bipolar bagi dua identitas yang tidak seimbang yaitu: 

Identitas klasik dengan kemandegan dan kedalaman historisnya, dan identitas kontemporer dengan modernitas serta keterasingannya. Krisis menjadi semakin dahsyat ketika penggabungan antara tradisi dan filsafat dengan kata sambung menjadi absurd. Sebab hubungan di antara keduanya merupakan hubungan pertarungan dan antagoni sejak kebangkitan kita yang objekif. 

Bila tradisi mengekspresikan “diri” dan filsafat mengekspresikan “yang lain” maka hubungan tradisi dan filsafat dibatasi oleh hubungan pertarungan antara “diri” dan “yang lain”, antara pembebasan dan penjajahan, antara doktrin dan non-doktrinal, antara republik dan pemilihan, antara publik yang diperintah dan para pejabat. 

Mungkinkah menyelesaikan pertarungan antara “diri’ dan “yang lain” ini, antara kelompok pertama dan kelompok kedua, kecuali dalam realitas langsung yakni kelompok ketiga, ketika peperangan sedang berlangsung.