Tidak semua orang memikirkan bagaimana listrik mengalir sampai rumah kita, bagaimana sekolah, kampus yang biasa kita gunakan untuk belajar, kantor dan pabrik dimana kita bekerja yang hampir seluruhnya didukung dengan listrik tegangan tinggi, bagaimana negara memberikan jaminan energi yang diperlukan oleh kebanyakan masyarakatnya. 

Dikatakan sebagian besar karena masih ada beberapa dari saudara setanah air kita ini yang masih tidak merasakan terangnya lampu di malam hari, proses belajar dan mengajar secara modern, serunya acara hiburan di televisi dan berbagai hal yang biasa kita dapat dari energi listrik di negeri ini. 

Hal ini menjadi semakin menyedihkan ketika kita mengetahui bahwa beberapa desa di Provinsi Sumatera Barat, yang terkenal dengan provinsi yang memiliki banyak pembangkit tenaga listrik, masih mengalami gelapnya malam tanpa penerangan dari lampu sama sekali. 

Seperti kita ketahui, hasil tambang batubara di Sumatera juga digunakan oleh banyak pembangkit di luar Pulau Sumatera itu sendiri. Mungkin juga listrik yang sekarang kita gunakan saat ini juga merupakan hasil dari mengambil batu bara di Sumatera sana, dimana masih ada mereka yang masih belum menikmati hasil pulau mereka sendiri.

Dari data Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, masih banyak desa di Indonesia yang belum teraliri listrik. Nominal disebutkan, masih sekitar 2.500 desa lebih yang belum tersambung dengan energi listrik yang telah disediakan oleh negara. 

Dalam rasio elektrifikasi yang telah direncakan oleh Kementrian ESDM pada tahun 2014 silam, angka tersebut dapat dibulatkan dalam 4% dari seluruh jumlah penduduk Indonesia. Artinya, masih ada 10 juta lebih penduduk  yang belum menikmati energi listrik sama sekali. 

Direktur Aneka Energi Baru dan Terbarukan Kementerian ESDM Harris mengatakan bahwa kebanyakan hambatan yang dialami dalam menyalurkan energi listrik ke daerah-daerah tersebut karena lokasi yang sulit diakses dan jauh dari pusat kota, sehingga solusi yang paling mudah adalah menggunakan energi alternatif yang berpotensi.

Problem di atas merupakan salah satu contoh tantangan krisis energi yang dihadapi Indonesia, lalu bagaimanakah dengan tantangan yang akan datang. Berbicara tentang krisis energi di Indonesia, marilah kita melihat kembali darimanakah asal muasal energi listrik yang selama ini kita gunakan. 

Menurut data Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, total seluruh energi listrik yang kita gunakan 59,2% berasal dari Batu Bara, 22,3% dari Gas Bumi, 12,32% dari Energi Baru dan Terbarukan dan sisanya 6,18% menggunakan BBM. Hal ini terjadi karena Indonesia memiliki potensi batu bara yang tinggi. 

Kepala Bidang Batu Bara Pusat Sumberdaya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) Rita Susilawati menjelaskan bahwa produksi batu bara di Indonesia mencapai 166 Miliar Ton dengan cadangan sebesar 37 Miliar Ton. Dengan kata lain batu bara di Indonesia dapat terus digunakan (tanpa eksplorasi tambahan) selama 76 tahun mendatang.

Per tahun 2019 proyeksi kebutuhan listrik dalam negeri talah mencapai 50.531 MW. Mengacu pada pertumbuha konsumsi masyarakat yang terus bertambah, yaitu target pertambahan kebutuhan listrik sebanyak 8.7% per tahunnya, Indonesia setidaknya membutuhkan 35.000 MW daya tambahan pada tahun 2024 mendatang.

Dengan alasan tersebut PLN mendesak pemerintah untuk menekan harga batubara sebagai pemasok utama cadangan energi listrik di masa depan. Menurut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), hingga 2027 Indonesia masih menggunakan batu bara sebagai pembangkit utama sebesar 54,4%, Gas Bumi 22,6%, dan EBT 22,2%.

Begaimanakah Seharusnya Kita Bersikap?

Lantas benarkah kebijakan seperti ini? Dengan dalih untuk mempercepat pemerataan energi listrik dalam negeri dan mengingat harga produksi sumber daya fosil seperti batu bara yang jauh lebih rendah dari energi baru dan terbarukan, langkah ini dinilai paling cepat dan efisien oleh pemerintah.

Lalu bagaimana kita sebagai pihak konsumen yang setiap hari menggunakan listrik menyingkapi hal tersebut?

Menurut Indonesia Environtment dan Energy Center, dampak negatif dari pembakaran energi fosil berpengaruh terhadap lingkungan, baik itu udara, iklim, air, tanah dan makhluk hidup sekitar. Pembakaran minyak bumi dan batu bara dapat melepaskan karbon dioksida (CO2), nitrogen dioksida (NO2) dan sulfur dioksida (SO­2). 

Dimana zat tersebut meningkatkan polusi berupa racun dalam udara (radikal bebas), perubahan iklim lingkungan tahunan, menyebabkan hujan asam, dan pencemaran tanah dan air yang menjadi konsumsi utama makhluk hidup. 

Tak terkecuali bagi masyarakat, permasalahan terhadap organ pernafasan sampai kematian sudah banyak dialami oleh mereka yang hidup di dekat pembangkit listrik bertenaga fosil. Banyak pihak telah melakukan edukasi terhadap masyarakat, khususnya generasi muda Indonesia dalam mengatasi masalah potensi energi bersih di Indonesia. 

Salah satunya adalah Ricky Elson, pendiri Lentera Angin Nusantara ini selalu giat dalam memberikan pandangan-pandangan baru tentang kemandirian negeri dengan energi bersih dalam negeri. Menurut Ricky, Indonesia memiliki potensi besar energi alternatif atau energi baru dan terbarukan. 

Karena letak geografis Indonesia yang berada pada garis katulistiwa, Indonesia memiliki potensi 810.000 MW mencakup energi panas bumi, ombak laut, angin dan cahaya matahari. Tinggal minat dan konsistensi dari generasi muda saja yang bisa mewujudkan angka fantastis ini dapat direalisasikan dan dinikmati oleh masyarakat luas.

Salah satu penggiat energi bersih tenaga surya di Bali, Gung Kayon berpendapat bahwa jika pemerintah Indonesia dapat memberikan kredit kendaraan pribadi, seharusnya bisa memberikan kredit bagi setiap warga untuk membeli set solar panel untuk pemenuhan energi untuk satu rumah. 

Gung Kayon berusaha melakukan edukasi terhadap masyarakat di sekitar lingungannya bahwa dengan menggunakan pemanfaatan energi EBT, khususnya energi matahari, dapat menghemat jutaan rupiah walaupun menghabiskan modal besar di awal prosesnya.

Lalu sampai di manakah kita, mungkin untuk pihak awam langkah paling minimal dari kita sekarang adalah berhemat listrik supaya tuntutan penggunaan listrik dalam negeri tidak naik secara drastis. 

Bagi kita yang bergelut dalam bidang ini, contohnya bidang teknik, menciptakan berbagai teknologi dengan menggunakan pengetahuan-pengetahuan baru untuk memanfaatkan energi EBT yang belum dimaksimalkan hasilnya. 

Melakukan edukasi terhadap masyarakat untuk melek terhadap krisis teknologi, mendukung berbagai pihak dalam melakukan riset dan produksi dalam pemanfaatan EBT di Indonesia. Dapat kita bayangkan, dengan mengesampingkan modal besar di awal yang harus kita keluarkan, masyarakat akan dengan mudah menikmati EBT di semua tempat.

Mencontoh dari negeri tetangga yang sudah memanfaatkan EBT, seharusnya negeri kita sudah bisa melakukan hal yang sama. Dengan meninggalkan perbedaan kepentingan dan memikirkan kebaikan untuk negeri di masa depan dalam bidang kemandirian energi bersih, mungkin masalah krisis energi bersih kita sudah mulai teratasi. 

Setidaknya memiliki pandangan dan kepedulian terhadap masalah ini sudah menjadi langkah awal bagi kita dalam kontribusi pengembangan dan pemanfaatan energi bersih untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.