Suatu kali saya menemukan selebgram bercadar yang saya sendiri gak kenal, tapi akunnya sudah ada ceklis birunya. Mbak bercadar ini posting foto close up full make up dan bercadar, full make up-nya kelihatan dari mata yang pakai softlens, eyeshadow, eyeliner, eyebrow, bulu mata, maskara, dsb. Fotonya ada tigad engan angle yang berbeda.

Lalu si mbak ini menulis caption, “monggo di-swipe”. Seakan-akan bilang, monggo dilihat-lihat. Banyak komentar yang memuji namun juga mengingatkan karena bisa jadi objek syahwat laki-laki. Ingat, tujuan sebagian orang memakai cadar adalah menutupi wajah yang bisa jadi menjadi objek syahwat. Mungkin mbak ini berpikir kalau sudah pakai cadar gak bakal jadi objek, kan gak terlihat.

Gak cuma itu, banyak mbak bercadar atau berhijab syari yang menjadi selebgram wanna be. Rajin posting foto dengan gamis syari yang menawan, atau pose yang sangat syari. Posting foto pribadi saat memegang Alquran, atau lagi berdoa, lalu bikin caption yang menyentuh. Kadang pakai ayat Alquran dan hadis. Lalu di akhir kita bisa lihat hashtag khas selebram hijrah wanna be

Nggak cuma itu. Lebih dahsyat lagi, ada pula yang sampai membuat iklan berbayar untuk akunnya demi dapat follower dan like sebanyak-banyaknya. Gak laki-laki gak perempuan, yang laki-laki pakai koko, peci, gamis. Tampil rapi, jenggot tipis, kalau perlu pakai tanda bekas sujud di kening, eh yang udah senior pakai jenggot tebal ding. 

Dari sini kita jadi berpikir, sebenarnya apa yang sedang dicari oleh para selebgram ini? 

--------

Gerakan hijrah yang sebenarnya sudah menggeser makna hijrah kini memang sedang sangat digandrungi oleh banyak kalangan. Umumnya mereka adalah orang-orang yang baru belajar agama atau ingin memperdalam agama. Mereka memutuskan hijrah dan belajar pada ustaz ahli hijrah karena dikemas dengan menarik dan elegan.

Kadang saya khawatir dengan keadaan ini, miris dengan agama yang berfokus pada bungkusnya. Terkadang juga ustaz hijrah itu memiliki agenda lain, macam ideologi khilafah yang gak masuk akal itu. Mungkin sebenarnya mereka tidak tahu apa yang terjadi.

Ustaz hijrah yang mengenalkan khilafah hanya sebatas mengenalkan kebaikan dari khilafah. Pengikutnya ikut-ikutan saja, mungkin tidak tahu apa itu khilafah dan bukan khilafah. Yang penting sendiko dawuh apa kata ustaz. Sejatinya mereka cuma butuh orang yang bisa ditanyai tentang agama, atau mungkin membenarkan apa yang mereka lakukan.

Kalau kita melihat artis yang hijrah, kita akan melihat kebanyakan dari mereka (ada yang tidak) akan lebih terkenal dari sebelum hijrah. Kini hijrah menjadi trend lifestyle, tidak banyak yang berubah dari mereka kecuali penampilan dan kegiatan.

Para artis itu tetap bekerja seperti biasa, namun kini ditambah kegiatan ngaji dan jualan pakaian syari. Kesuksesan setelah hijrah membuat mereka makin mantap memilih jalan ini, Tuhan meridai keputusan mereka, buktinya sekarang mereka sukses, jauh lebih sukses dari sebelumnya.

Sering kali saya lihat artis hijrah yang kini terkenal namun sebelumnya sangat tidak dikenal. Katakanlah Kartika Princess, saya gak tahu dulunya dia ini model atau pemain film, atau apa, kini jadi ikon dan diikuti banyak orang. Apa yang mereka katakan akan diikuti, terlepas dari benar atau salahnya.

Ya, hijrah mungkin sekarang sudah menjadi bisnis. Bisnis jualan khilafah, jualan demo, jualan pakaian syari, perumahan syari, makanan syari, kosmetik syari, dll. Jika dilihat dari hal ini, maka hanya satu hal pasti yang dicari, eksistensi.

Setiap orang butuh eksistensi, diakui, dihargai, dianggap, dsb. Begitu pula dengan mbak dan mas hijrah ini, mereka sedang dalam fase krisis eksistensi, mereka mencari panggung eksistensi. Dan jalan eksistensi yang laku saat ini adalah dengan hijrah.

Jika dengan ikuti kajian hijrah, ustaz hijrah, mereka jadi terkenal, mengapa tidak? Jika dengan mengiklankan bela Palestine atau khilafah mereka jadi terkenal, kenapa tidak? Apalagi eksistensi ini berbanding lurus dengan ekonomi.

Yang awalnya cuma punya follower, lalu dapat proyek endorse, lalu jadi youtuber. Setelah itu launching buku kisah hijrah, dan mungkin launching album religi. Jadi brand ambasador gamis syari, travel syari, bank syariah, kosmetik syari, sampai akhirnya produksi sendiri. Bikin rumah makan syari, hotel syari, dan perumahan syari.

Meskipun miris dengan hal ini namun mungkin ini baik-baik saja bagi mereka. Toh memang tidak dosa kalau belajar agama sambil mencari eksistensi. Tapi carilah ustaz yang memang betul-betul paham agama dan tidak ada maksud apa pun di balik dakwahnya. Bukan agen khilafah, HTI, atau ISIS, juga bukan yang sekadar numpang terkenal.