Temannya teman saya pernah depresi karena tiga bulan pasca wisuda belum dapat kerja. Telinganya tidak sanggup menahan derasnya gosip tetangga yang terus membicarakannya. Orangtuanya juga turut menekan, mungkin malu punya anak sarjana tapi belum kerja.

Karib saya juga mengalami hal yang sama setelah wisuda. Sebagai mantan aktivis kampus dan akrab dengan bacaan kiri, dia tidak mau jadi kuli di korporasi. Dia lebih suka pulang kampung, mendirikan komunitas untuk memberdayaan anak muda sekaligus potensi desanya. Namun obrolan warga desa yang menyebutnya “sarjana nganggur” makin ramai, bikin merah telinga dan pusing kepala.

Antara tidak kuat dan khawatir menjadi preseden buruk bagi generasi muda di desanya, akhirnya dia kembali ke kota. Lalu bersama teman-temannya yang juga ogah jadi kuli, mendirikan start-up media. Semacam flatform menulis digital untuk anak muda di kota dan juga desanya.

Dua kisah itu adalah potret freshgraduate atau sarjana pada umumnya yang sulit atau belum mendapatkan kerja. Saya, yang tak lama lagi juga jadi sarjana, tentu saja ikut was-was. Jangan-jangan saya adalah pengangguran selanjutnya. Menjadi bagian dari 695 ribu penganguran intelektual.

Saat pikiran semacam itu muncul, saya kerap bingung menghadapi dimasa depan, “habis lulus mau kerja apa ya?”. Saya kira hampir semua mahasiswa tingkat akhir mengalami kegelisan yang persis sama. Karena menjadi sarjana hari ini berbeda dengan jadi sarjana tiga atau empat dekade yang lalu, dimana jumlah orang terdidik masih sedikit. Hari ini sarjana sudah banyak, sehingga tidak terlalu istimewa.

Sarjana Cangkul

Analogi cangkul saya pinjam dari Cak nun dalam salah satu essay-nya, judulnya saya lupa karena bacanya sudah lama. Dia menulis ada tiga tujuan orang sekolah, yaitu mencari cangkul, pedang dan keris. Yang mencari cangkul tujuan pendidikan sebatas untuk mencari pekerjaan atau motif-motif ekonomi lainnya. Sementara yang mencari pedang dan keris, tujuan pendidikan untuk mendapat kekuatan dan menaikan harkat serta martabat kemanusiaannya.

Selanjutnya, kata Cak Nun, mereka yang berhasil dapat pedang pasti mendapat cangkul. Dan, yang mendapat keris, sudah pasti punya pedang dan cangkul sekaligus. Sementara yang hanya mencari cangkul, mustahil punya pedang apalagi keris. Nah, sebagian besar tujuan orang sekolah saat ini adalah mencari cangkul, bukan pedang apalagi keris.

Dengan pendidikan seseorang mungkin bisa mendapat penghidupan yang layak dan enak. Karena kerja mereka dihargai lebih mahal. Tapi jika tujuannya hanya selesai di ekonomi, pendidikan setinggi apapun tidak membuat orang lebih kuat, apalagi bermartabat. Sehingga hari ini, kalau ada profesor yang korupsi atau akademisi yang culas bisa kita pahami karena tujuan pendidikan telah direduksi.

Pendidikan saat ini marwahnya direduksi hanya sebatas untuk kepentingan ekonomi, bukan lagi sebagai alat untuk menjadi manusia yang utuh seperti kata Immanuel Kant. Tujuan orang sekolah setinggi mungkin, adalah untuk bisa bekerja di perusahan besar, dengan gaji besar pula. Tidak semua tentu saja, tapi sebagian besar tujuannya begitu.

Tidak salah dengan tujuan seperti itu, manusiawi saja kok. Memangnya siapa yang tidak ingin kerja apalagi bergajih besar? Jangankan kamu, saya juga mau.  Toh, sistem pendidikan universitas memang mengarahkan mahasiswanya untuk jadi pekerja terdidik dan terampil.

Mereka yang masih mengira tujuan pendidikan adalah untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia, barangkali harus kembali banyak membaca. Karena di era kapitalisme-neoliberal, institusi pendidikan adalah partner strategis bagi korporasi swasta. Universitas menyuplai tenaga kerja terdidik dan terampil, sementara korporasi memperkerjakannya. Kira-kira seperti itu relasinya.  

Perubahan kurikulum pendidikan, inovasi dan modifikasi sedemikian rupa ditujukan untuk menyesuaikan denagan kebutuhan pasar kerja. Profil lulusan dibuat sekompatibel mungkin dengan pembagian kerja yang dibutuhkan perusahaan. Maka logis saja tingginya serapan kerja lulusan dijadikan sebagai salah satu indikator keberhasilan sebuah perguruan tinggi.  

Tapi sayang, tidak semua mahasiswa sadar dengan kondisi ini. Mereka masih terjebak pada imaji-imaji yang, menurut saya,  tidak lagi relevan. Misal ingin menjadi agen perubahan di masyarakat. Padahal di era kompetisi kerja yang maha sengit seperti ini, jangankan jadi agen perubahan, bisa jadi agen pulsa all operator saja sudah bagus. 

Teman-teman saya yang aktivis menuding kampus tidak lebih dari pabrik yang memproduksi para calon buruh. Kalau dipikir-pikir mereka ada benarnya. Saya juga ingin menuding seperti itu, tapi tidak tega menyakiti hati dosen-dosen di fakultas tempat saya belajar. Karena baik saya maupun dosen sama-sama cari cangkul. Bedanya dosen sudah punya lahan garapan, sementara saya belum.

Krisis ekonomi

Di era kapitalisme-neoliberal potret masa depanmu tidak lagi ditentukan oleh seberapa rajin kamu kuliah, seberapa terampil kamu kerja, seberapa luas jaringan, dan seberapa tinggi IPK yang kamu raih, tapi turut ditentukan oleh seberapa bagus kondisi ekonomi makro suatu negara. Kalau ekonomi makronya bagus, alhamdulilah. Tapi kalau buruk, innalillah. 

Karena jika ekonomi lesu, perusahaan banyak yang gulung tikar, atau minim-minimnya melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Alhasil lowongan kerja menipis, tapi permintaan kerja tidka berkurang. Hasilnya persaingan makin ketat dan jumlah pengangguran meningkat. Dan, penyumbang pengangguran itu ya para sarjana atau diploma cangkul tadi.

Para pengamat di media, menjelaskan fenomena  ini terjadi karena jumlah perusahan yang siap menampung tenaga kerja tidak sebanding dengan jumlah lulusan. Disisi lain kampus terus menghasilkan sarjana dalam jumlah besar setiap tahun, dan tidak semuanya terserap. Mereka yang tidak terserap ini mau tidak mau harus banyak bersabar dan rajin baca buku motivasi.

Kalau dipikir-pikir, martabat kaum terdidik sangat ditentukan oleh kondisi makro ekonomi negaranya. Karena kalau ekonomi membaik, cari kerja lebih mudah karena perusahaan membuka lowongan kerja besar-besaran. Kalau punya pekerjaan dengan posisi lumayan, martabat dan kehormatan terjaga di masyarakat. Dan, alhamdulilah negara yang presidennya suka ngasih sepeda dan hobi miara kodok ini, konon ekonomi sedang membaik.  

Tapi bila ekonomi sedang krisis dimana PHK terjadi dimana-mana, maka sarjana juga turut terancam martabatnya. Karena kalau tidak kerja, nasibnya akan sama seperti kawannya kawan saya diatas tadi. Jadi bahan gunjingan warga satu desa sampai depresi karena di cap “sarjana pengangguran”. Bila sudah digunjing hilang sudah sebagian martabat dan kehormatan. Sialnya itu turut ditentukan oleh kondisi makro yang tidak bisa kita lawan seorang diri.

Dan, menurut Joseph Stiglitz, peraih nobel ekonomi tahun 2001, frekuensi krisis saat ini makin cepat. Dia mencatat dalam tiga puluh tahun terakhir telah terjadi seratus  kali krisis ekonomi di berbagai belahan dunia, salah satu diantaranya pernah menimpa Indonesia. Maka sial betul mereka yang wisuda saat ekonomi sedang krisis karena susah cari kerja. Jadi, sebaiknya wisudalah disaat ekonomi negaramu sedang membaik.