Kita boleh sangat bangga dengan kemajuan peradaban manusia modern yang telah menciptakan revolusi sains dan teknologi super canggih sebagaimana yang digambarkan oleh Yuval Noah Harari.

Dalam karya-karyanya yang begitu fenomenal, Sapiens dan Homo Deus, ia memberikan narasi optimistik atas segala pencapaian yang telah dibuat oleh manusia modern semisal kemenangan mereka atas tiga buah musuh bubuyutannya—kelaparan, epidemi, dan kekerasan (perang), sesuatu yang belum pernah terjadi di masa-masa sebelumnya.

Tetapi bukan ini letak keistimewaannya, menurut Harari ada satu proyek tertinggi yang hendak dicapai dalam revolusi ini, yakni memberikan manusia potensi kehidupan yang abadi melalui jalan rekayasa biologis, rekayasa cyborg, dan rekayasa benda-benda non-organik, tentunya di samping pembuatan artificial intelligence (AI).

Betapapun demikian, seperti yang juga disadari oleh Harari, bagaikan koin mata uang, kepesatan pencapaian ini juga menghasilkan ketimpangan ekologis yang tak kalah dahsyatnya, dan keserakahan manusia membuatnya telat menyadari keadaan ini kalau enggan berkata tak peduli sama sekali.

Akibat penggunaan teknologi dan sains yang agresif atas nama kemajuan sembari mengenyampingan moralitas sumber daya bumi semakin tipis, emisi karbon dioksida meluber, kualitas air semakin buruk, dan keanekaragaman hayati terus berkurang dengan laju yang begitu cepat.

Survei menujukkan bahwa dalam dekade belakangan ini telah terjadi peningkatan emisi COsebesar 2.7% yang jika didiamkan begitu saja, maka menurut para pengamat, sebagaimana dikutip oleh Hashim Kamali dan Harari, suhu rata-rata global akan meningkat lebih dari 2° C.

Situasi ini akan mengganggu produksi pertanian, meningkatkan risiko banjir, hilangnya lapisan es, menciptakan badai dan angin topan yang merusak, kekeringan, membuat sebagian besar dunia tidak bisa dihuni, dan mengirim ratusan juta pengungsi untuk mencari rumah baru.

Siapa sangka bahwa meningkatnya kegemaran mengonsumsi daging—yang terjadi tidak hanya di negara-negara maju seperti Amerika dan Jerman tetapi juga negara berkembang seperti Indonesia, Malaysia, Brazil—bukan lagi sekadar menimbulkan kesengsaraan yang tak terhitung jumlahnya bagi makhluk hidup melainkan juga menjadi penyebab utama dari pemanasan global yang diperkirakan menyumbang 20% dari seluruh emisi COdunia.

Untuk memproduksi satu kilogram daging sapi dibutuhkan sekitar 15.000 liter air tawar, berbanding jauh dengan satu kilogram kentang yang hanya membutuhkan 287 liter air.

Contoh lain adalah penggunaan fosfor besar-besaran seperti yang dilakukan oleh industri pertanian modern sebagai pupuk. Alih-alih menjadi sumber nutrisi melainkan malah menimbulkan limbah racun pada sungai, danau, maupun laut.

Harari memisalkannya dengan petani yang menanam jagung di Iowa mungkin secara tidak langsung telah membunuh ikan di Teluk Meksiko. Jika hal ini dibiarkan berlarut, maka sangat masuk akal jika seluruh ekosistem—khususnya hewan dan tumbuhan—akan punah.

Di bidang lainnya, sebagaimana dilaporkan oleh Justin Gillis (Kamali, 2015) perusahaan energi telah memesan cadangan batu bara dan minyak bumi yang sangat besar, dan mereka menghabiskan sekitar 600 miliar dolar per tahun untuk menemukan lebih banyak lagi.

Perusahaan-perusahaan utilitas dan minyak masih membangun pembangkit listrik tenaga batu bara dan kilang-kilang minyak, dan pemerintah menghabiskan 600 miliar dolar secara langsung untuk menyubsidi konsumsi bakar bakar fosil.

Industri pangan dan sejenisnya dengan aneka kemasan plastik juga tidak luput dari penyumbang besar kerusakan lingkungan. Dampaknya sudah dapat terlihat bahkan sampai di tempat-tempat yang tidak terduga sekali pun seperti penumpukan plastik di area terpencil di kutub selatan.

Ada juga penemuan mengagetkan di mana isi perut bangkai burung-burung laut memuntahkan 90% plastik. Beberapa waktu lalu kita pun digegerkan oleh sebuah video seorang penyu yang hidungnya tertusuk plastik. Demikian pula pada kasus lain di mana ikan-ikan dan binatang lainnya yang telah keliru menganggap plastik sebagai makanan.

Bahkan bukan hanya mengakibatkan banjir, menurunkan kesuburan tanah, menjerat hewan, meracuni makhluk hidup (yakni hewan dan tumbuhan karena mengandung zat adiktif kimia dan plasticisers), mencemarkan air dan udara, plastik pun—dalam jumlah penggunaan tertentu—memiliki dampak yang negatif bagi kondisi tubuh manusia, seperti menyebabkan kanker, mengganggu sistem saraf, gangguan reproduksi, dan lain sebagainya (kumparan.com).

Walaupun dampaknya telah nyata dan tak dapat dipungkiri, tetapi ternyata persoalan ekologi ini jauh lebih rumit daripada sekadar tantangan bom atom atau nuklir—satu persoalan yang saat ini juga masih menjadi perhatian publik dunia.

Setidaknya hal ini dikarenakan oleh dua faktor, yakni keegoisan dan perbedaan prioritas. Yang pertama selayaknya sikap egois demi meraih kekayaan jangka pendek yang ditunjukkan oleh negara-negara maju yang menjadi penyumbang terbanyak emisi CO2. Mereka malah, sebagaimana diungkapkan oleh Mohan Munasinghe (Kamali, 2015), pemenang nobel sekaligus seorang ahli terkemuka di bidang energi dan lingkungan, telah mundur dalam mengatasi persoalan pemanasan global.

Sedang yang kedua memang sulit untuk dielakkan kecuali jika negara-negara tertentu—yang setidaknya dalam jangka waktu dekat tidak terkena dampak langsung—memiliki rasa empati yang tinggi terhadap rekan negara lainnya yang lebih rentan. Harari menggambarkan:

"Rusia memiliki aset pantai yang relatif sedikit, oleh karena itu jauh lebih tidak khawatir dibanding Tiongkok atau Kiribati kalau berkenaan dengan naiknya permukaan laut. Lalu, jika suhu yang lebih tinggi cenderung mengubah Chad menjadi gurun, di sisi lain malah mengubah Siberia menjadi lumbung roti dunia. Ketika es mencair di ujung utara, jalur laut Arktik yang didominasi Rusia mungkin akan menjadi arteri perdagangan global dan Kamchatka mungkin dapat menggantikan posisi Singapura sebagai persimpangan dunia."

Pelbagai Solusi

Masalahnya, kerusakan ekologi adalah sebuah persoalan global yang mustahil dapat diselesaikan jika hanya diupayakan oleh satu dua negara saja, sebab, sebagaimana ungkapan Harari, negara-negara seperti Tiongkok atau Jepang tidak akan dapat menyelamatkan Shanghai, Tokyo, dan Hong Kong, jika tanpa membujuk Amerika atau Rusia untuk melakukan usaha yang seirama.

Perlu ada kesadaran dan gerakan global jika memang kita mencintai alam ini, setidaknya demi keberlangsungan hidup anak cucu kita. Ada banyak cara yang dapat dilakukan, tetapi penulis cukup membatasinya pada dua pendekatan, yakni agama dan internasionalisme.

Pada awalnya banyak pengamat yang memprediksikan kehancuran agama yang terkalahkan dengan nilai-nilai kemoderanan, materialisme, dan sekularisme, tetapi siapa yang menyangka bahwa pada kenyataannya di dekade belakangan ini banyak orang yang kembali pada agama sebagaimana yang disampaikan oleh Haidar Bagir dalam salah satu bukunya.

Pengkajian terhadap agama-agama, termasuk Islam, mulai semarak. Di kolong jembatan, warung-warung kopi, hingga universitas, pembicaraan suka menyentuh aspek agama. Oleh karena itu momen ini perlu dimaksimalkan dengan kembali memvitalkan peran agama dalam menghadapi tantangan kontemporer, termasuk urusan kerusakan ekologi.

Di sini penulis hanya bisa memaparkan secuil pandangan Islam, sebab bukan hanya karena Islam masih menjadi agama terbesar kedua hingga tahun 2050 mendatang (prediksi Pew Research Center) melainkan juga karena, setidaknya sampai hari ini, Indonesia masih menjadi penganut Islam terbanyak di dunia sekaligus memiliki religion oriented yang kuat.

Tidak ada kitab suci yang berbicara tentang alam dan bumi sebanyak Al-Quran. Kitab ini berisi banyak pedoman tentang perlakuan kita terhadap bumi dan ciptaan Tuhan lainnya yang dihubungkan dengan gagasan kesucian alam.

Tidak sekadar sampai di sana, pengamatan yang lebih cermat atas teks suci akan memperlihatkan keberlimpahan etika lingkungan yang kaya akan konsekuensi sosial-ekonomi dan politik yang luas. Prinsip tauhid dalam Islam juga menyiratkan integrasi dan kesatuan dunia dengan segala isinya. Tauhid pun didasarkan pada visi holistik manusia dan lingkungan serta ketertarikan bawaan dari semua yang ada di alam.

Sebagai contoh adalah konsep khalifah dan amānah yang menunjuk manusia, secara individu dan kolektif, sebagai pemelihara bumi dan menempatkannya sebagai penanggung jawab tidak hanya hak-hak sesama manusi tetapi juga terhadap alam dan makhluk lainnya. 

Oleh karena itu Alquran menyatakan, “Dan [salah satu nikmat Allah adalah] Dia membentangkan bumi untuk (semua) makhluk-Nya” (al-Rahman, 55: 10), dan juga mereka dituntut bertanggung jawab untuk bersikap adil terhadap semuanya (Kamali, 2015).

Dalam komentarnya tentang beberapa ayat Al-Quran perihal konservasi sumber daya alam (khususnya al-Baqarah, 2: 205; al-A’raf, 7: 85; al-Rum, 30: 41), al-Qaradawi mengidentifikasi perlindungan alam (ḥifẓ al-bay’ah) sebagai salah satu bentuk maqasid syariah, berdampingan dengan perlindungan kehidupan (ḥifẓ al-nafs) dan perlindungan harta (ḥifẓ al-māl).

Kesemua nilai ini pada akhirnya membentuk sebuah pemahaman bahwa pada sejatinya manusia, dalam rangka menjaga amānah dan gelar khalifah (wakil) yang diterima dari Allah, harus memiliki hubungan harmonis dengan teman-teman makhluk hidup lainnya, alih-alih menaklukkan.

Visi besar ini harus segera disebarkan terutama oleh para pemimpin muslim dan cendekiawan-cendekiawannya melalui berbagai macam bentuk aksi nyata sehingga dapat berdampak positif bagi kehidupan global.   

Pada akhirnya pendekatan keagamaan ini akan melebur dengan pendekatan kedua yang lebih generik dan aplikatif. Sesuai dengan penyebutannya, internasionalisme di sini dipahami sebagai gerakan yang mengusung kerja sama antar bangsa di berbagai bidang demi kemaslahatan global tanpa lagi menyekatkan diri pada aspek-aspek primordial seperti budaya, ras, jenis kelamin, agama, negara, dan faktor pembeda lainnya.

Hal ini disebabkan karena persoalan yang dihadapi begitu menyeliputi semua lapisan sehingga jika ada satu pihak tidak ikut andil, maka peran pihak lain akan terkesan sia-sia.  

Dari sekian banyak hal yang dapat dilakukan semuanya harus berhulu pada perubahan gaya hidup ramah lingkungan. Dan mulai dari petani, korporat, pabrik pengolahan makanan, pemilik restoran, media, otoritas pemerintah, individu dan keluarga, semuanya memiliki peran dan tanggung jawab untuk memastikan, merevisi, dan mengendalikan atas segala tindakan yang sekiranya dapat mengancam ekosistem.

Salah satu upaya sederhana yang diilustrasikan oleh Harari dan Kamali ialah soal solusi alternatif dalam mengonsumsi daging. Jika yang terakhir disebut menganjurkan seseorang untuk menjadi vegetarian atau setidaknya mengurangi jumlah konsumsi daging semampunya supaya dapat memperlambat kelangkaan pangan dan perubahan iklim dunia, Harari malah melihat pemeliharaan alam tidak melulu harus dengan cara-cara konvensional sembari menyingkirkan gerak kemajuan teknologi. Keduanya bisa saja berjalan beriringan asalkan tetap menjaga nilai moralnya.

Semisal kemunculan daging hewan yang sudah dibuat dalam rekayasa laboratorium yang diambil dari sel. Produk yang dijuluki clean meat ini dengan demikian tidak hanya dapat menyelamatkan miliaran hewan dari akhir kehidupan yang menyedihkan, mengurangi biaya pembiakan ternak dan limbah, serta membantu menyediakan makanan bagi miliaran manusia yang kekurangan gizi tetapi secara bersamaan juga dapat membantu mencegah kehancuran ekologis.

Referensi

Harari, Yuval Noah. (2017). Sapiens. Jakarta: Alvabet

________________.(2018). Homo Deus. Jakarta: Alvabet

 ________________.(2018). 21 Lessons. Manado: CV. Global Indo Kreatif

Kamali, Mohammad Hashim. (2015). The Middle Path of Moderation in Islam. Oxford: Oxford University Press

Rostendi Tendi. “Bahaya plastik bagi kesehatan tubuh dan lingkungan,” Kumparan.com, 25 April 2018 (diakses pada 29 Januari 2019).