“Kita berada diambang kepunahan masal, namun yang kita bicarakan hanya uang dan fantasi pertumbuhan ekonomi yang abadi” ucap Greta Thunberg saat memberi pidato dihadapan para pemimpin dunia dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2019 di New York.

Pidato emosional Thunberg dalam acara tersebut tidak lain merupakan ejawantah dari kekesalannya terhadap inkonsistensi negara-negara dunia dalam memitigasi ancaman perubahan iklim.

Bagaimana tidak, perhelatan yang berlangsung sejak tahun 1992 itu nampaknya hanya menjadi bunga tidur para pemimpin dunia. Selain itu, Perjanjian Paris (Paris Agreement) tahun 2015 dengan tujuan untuk mencegah suhu bumi tidak lebih 1,5 derajat celsius juga belum menunjukan komitmen ke arah yang serius.

Ancaman perubahan iklim ini semakin mengkhawatirkan lewat penelitian para pakar yang menunjukan suhu bumi diperkirakan mendekati angka 2,7 derajat celsius pada akhir abad ini, merupakan angka yang mengarah pada bencana.

Sementara itu, perencanaan pembangunan ekonomi negara-negara di seluruh dunia terus diakselerasi dengan mengerahkan segala sumber daya dan potensi yang ada, dalam hal ini terutama berkaitan dengan sumber daya alam. Akan tetapi, rencana tersebut nampaknya tidak melihat apalagi merasakan sifat dan fenomena alam serta dampak lingkungan yang ditimbulkannya.

Kabar Baik VS Kabar Buruk

Dewasa ini, teknologi menjadi bagian penting dalam hidup manusia. Mulai dari bekerja, belanja, hingga mencari informasi semuanya dilakukan dengan bantuan teknologi. Keniscayaan tersebut tidak terlepas dari sejarah awal berkembangnya teknologi, khususnya pada era revolusi industri.

Sejak paruh kedua abad 18,  yang ditandai dengan ditemukannya mesin uap oleh James Watt, menjadi temuan yang mengantarkan manusia pada era produksi serba mekanis. Era tersebut dikenal sebagai era revolusi industri pertama.

Peralihan dari tenaga otot ke tenaga mekanik telah memicu perkembangan hingga kondisi seperti sekarang, dengan terjadinya era revolusi industri keempat, di mana kekuatan kognitif yang ditingkatkan (Artificial Intelligence-AI) telah mampu menggandakan produksi (Outomaties).

Klaus Schwab (2016) melalui karyanya “The Fourth Industrial Revolution” menjabarkan bahwa kita tengah menyaksikan pergeseran yang mendalam terjadi disemua industri yang akibatnya membentuk kembali sistem produksi, konsumsi, transportasi, dan pengiriman serta menciptakan model baru dalam dunia bisnis.

Hal ini pada gilirannya akan merubah paradigma dalam cara kita bekerja dan berkomunikasi termasuk bagaimana cara kita mengekspresikan dan mencari informasi serta menghibur diri kita sendiri.

Sebuah terobosan yang dalam skala, cakupan, dan kerumitannya belum pernah dialami umat manusia sebelumnya. Sejarah mencatat bahwa hanya dalam kurun waktu kurang lebih dua ratus tahun terakhir, perkembangan teknologi telah memberikan kemajuan signifikan terhadap hampir seluruh aspek kehidupan manusia.

Disisi yang lain, Kemajuan teknologi ternyata tidak selalu membawa kabar baik bagi manusia tapi juga kabar buruk terlebih bagi lingkungan. Hal ini dikarenakan teknologi juga digunakan manusia untuk mengekploitasi alam.

Diantara dampak negatif teknologi terhadap lingkungan yang telah nyata dirasakan adalah pencemaran lingkungan sebagai akibat dari bahan kimia berbahaya, pemanasan global yang dibarengi penipisan lapisan es sehingga meningkatkan permukaan laut merupakan akibat dari asap pabrik pengelolaan dan aktivitas kendaraan, dan kemerosotan sumber daya alam sebagai akibat eksploitasi lahan dari industri-industri ekstraktif.

Fenomena diatas memperlihatkan betapa kemajuan teknologi telah memungkinkan manusia dalam mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran dan intensif. Walaupun demikian, perlu disadari bahwa nasib peradaban manusia selalu berhubungan erat dengan perubahan pada lingkungannya.

Fakta krisis ekologi tidak bisa dianggap sebagai sebuah fenomena yang alami terjadi, sebab pada hakikatnya manusia tidak terlepas dari kesalinghubungannya terhadap lingkungan. Manusia kerap menjadi pemicu pada dinamika kehidupan dari lingkungan sekitarnya. Oleh sebab itu, kepasifan dan keaktifan kita dalam persoalan ekologi sangat berefek terhadap keberlangsungan seluruh kehidupan atau organisme di dunia.

Kepentingan Ekonomi

Persepsi dan cara pandang dalam kegiatan ekonomi kita cenderung mengadopsi model berpikir kapitalististik. Minset berpikir yang mengajarkan bahwa hanya pertumbuhan ekonomi yang dapat menciptakan kehidupan lebih baik.

Pertumbuhan ekonomi seolah-olah menjadi “obat paling mujarab” dalam mengatasi semua jenis penyakit negara-negara dunia hari ini. Kemajuan suatu bangsa selalu dinilai atas keberhasilan pertumbuhan ekonominya, yang diukur dari “pendapatan rata-rata peduduk dan Gross National Product (GNP)”, yaitu jumlah produksi nasional barang dan jasa yang dihasilkan negara dalam setahun.

Ironisnya, pengertian “pertumbuhan” ini dipersempit, direduksi hanya mencakup satu aspek tunggal, yakni “pembangunan ekonomi” saja. Berbagai aspek lain seperti keadilan sosial, unsur HAM, faktor ekologi – daya dukung alam dan lingkungan, bahkan tidak terjamah sama sekali.

Berkaitan dengan itu, Fred Magdoff dan John Bellamy Foster dalam buku mereka yang bertajuk “Lingkungan Hidup dan Kapitalisme” menjelaskan bahwa selama ini sistem ekonomi yang kita anut adalah sistem yang hanya menaruh obsesi akan pertumbuhan dan akumulasi dari inti semua aktifitasnya. Lebih lanjut mereka menjelaskan, adalah  kapitalisme yang dengan senantiasa mendukung teknologi tertentu demi memperbesar laba.

Akan tetapi, kapitalisme juga mempunyai riwayat paling merusak terhadap lingkungan hidup yang secara masif melahirkan teknologi-teknologi penghasil limbah dalam jumlah besar. Hal itu lagi-lagi dilakukan demi kepentingan ekonomi secara keseluruhan.

Gagasan ke dua tokoh diatas, memberikan  pandangan dan membuka wawasan kita bahwasanya pertumbuhan ekonomi tidak bisa tumbuh tak terbatas pada lingkungan yang terbatas. Dengan kata lain, perekonomian akan runtuh jika kondisi lingkungan semakin terdegradasi.

Analoginya, apabila sumber daya alam terus dieksploitasi dengan dalil untuk percepatan pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan aspek ekologi, maka kondisi lingkungan akan semakin rusak.

Hal ini mengakibatkan krisis ekologi berkelanjutan. Alih-alih ingin mengimplementasikan pembangunan berkelanjutan yang terjadi justru pengrusakan yang berkelanjutan.

Akhirnya, meskipun kemajuan teknologi sangat diperlukan, penggunaannya tetap perlu memperhatikan keseimbangan alam karena bagaimanapun juga teknologi tidak dapat berdiri sendiri tanpa peran alam sebagai penghasil sumber daya dan sebagai ruang dimana teknologi tersebut dipakai.

Dan dengan memahami orientasi dari cara berpikir kapitalistik, akan membuat kita menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi layaknya tidak diakselerasi dengan mengorbankan daya dukung alam dan lingkungan hidup.