Klub yang menyandang nama Madrid menjadi momok bagi Liverpool pada fase knockout  Liga Champion. Musim ini The Red dihempaskan Real Madrid di perempat final, musim lalu keok dari Atletico Madrid di babak 16 besar.

Sementara melawan Barcelona di musim 2018-2019, Liverpool berhasil mengubur ambisi besar tim asal Catalan itu melaju ke partai pamungkas. Meskipun dihajar dengan skor 3-0 di leg pertama, anak asuh Jurgen Klopp bisa melakukan comeback dengan sempurna. Barcelona dihujani empat gol tanpa balas di leg kedua.

Apakah secara mistis kegagalan Messi dan kolega ada korelasi dengan Barcelona yang tidak menyandang nama Madrid atau tidak, hanya cenayang yang tahu. Apa yang saya singgung sepintas ini lebih menggambarkan analisis otak-gatik-gatuk yang beraroma ilmu magik.

Sekarang lupakan analisis otak-gatik-gatuk itu. Mari kita meneropong dari dekat kenapa Liverpool musim ini melempem di Liga Champion, jeblok di Liga Inggris. Apa yang salah dari racikan taktik pelatih asal Jerman ini sehingga The Red mengakhiri kompetisi dengan puasa gelar.

Jangankan merengkuh tropi, melengserkan Manchester United di posisi runner-up saja tidak sanggup. Saat ini Liverpool malah harus berjuang keras agar tidak terlempar dari zona empat besar.

Klopp tidak bisa menutup mata terhadap penampilan apik Leicester City. Leicester City pekan demi pekan mampu memperlebar jarak dengan Liverpool. Chelsea juga harus diperhitungkan. The Blues, di bawah polesan pelatih anyar, Thomas Tuchel, baru sekali mencicipi kekalahan di Liga Premier. Belum lagi ada West Ham United, Tottenham Hotspur dan Everton yang turut meramaikan persaingan.

Menyisakan lima laga lagi (kecuali Everton yang menyisakan enam pertandingan lagi), mereka masih bisa saling sikut untuk mengamankan posisinya di empat besar. Liverpool, Chelsea, Leicester City, West Ham United, Tottenham Hotspur dan Everton saling mengincar jatah untuk meraih tiket Liga Champion.

Tapi dibanding Leicester City dan Chelsea, Liverpool bersama-sama Tottenham Hotspur, West Ham United  dan Everton lebih terseok-seok menapaki tangga di tabel klasemen. Penampilan Liverpool yang tak kunjung stabil, ditambah posisinya yang tertahan di urutan keenam, membuat kans Salah dan rekan-rekan makin tipis menembus the big four. 

Embrio Kegagalan

Ketika kompetisi musim 2020-2021 baru bergulir, Liverpool masuk dalam deretan klub yang difavoritkan meraih tropi. Capaian gemilang di dua musim terakhir menjadikan kesebelasan yang berbasis di kota Liverpool ini bakalan mampu mempertahankan gelar Liga Inggris. The Red juga digadang-gadang akan bisa berbicara banyak di kompetisi kasta tertinggi Eropa.

Tapi semua prediksi itu meleset, menyusul krisis bek yang mendera Liverpool. Kekuatan lini pertahanannya yang terkenal solid dan tangguh tiba-tiba pincang. Satu demi satu bek tengah terbaik The Red cedera, mulai dari Virgil van Dijk, Joe Gomez disusul kemudian Joel Matip.

Van Dijk menjadi korban tekel keras yang dilancarkan kiper Everton, Jordan Pickford, pada  Oktober 2020. Cidera di bagian ligamen lututnya benar-benar fatal. Operasi pemulihan bek Timnas Belanda ini tidak sesuai harapan hingga divonis tidak bisa merumput sampai akhir musim.

Satu bulan berikutnya Liverpool harus kehilangan Joe Gomes. Gomez mengalami cedera lutut saat tengah melakoni sesi latihan bersama Timnas Inggris. Bekas jahitan panjang yang pernah diperlihatkan ke publik menandakan cideranya tergolong serius. Diapun mengikuti jejak van Dijk; menepi lebih awal.

Nasib buruk tak berkesudahan kembali menimpa pasukan pertahanan Liverpool. Joel Matip terpaksa ditarik keluar ketika melawat ke markas Tottenham Hotspur di penghujung Januari 2021. Pada laga itu, Liverpool berhasil mencuri poin dengan skor 1-3. Tapi kemenangan harus dibayar mahal karena Matip cedera pergelakangan kaki. Akibat cidera itu, dia dipastikan absen pada sisa pertandingan musim ini. 

Badai cidera inilah yang menjadi embrio ketidakberdaayan Liverpool bersaing dan mengulang prestasi seperti dua musim sebelumnya. Untuk menutup lubang menganga besar di lini pertahanan, manajemen klub kurang bekerja dengan sigap. Baru di hari terakhir penutupan bursa transfer, Ben Davies dan Ozan Mohammed Kabak diboyong ke markas Anfield. Lebih parahnya lagi, dua pemain ini hanyalah pesepakbola kelas semenjana. Ben Davies  dan Kabak terlalu jomplang dibandingkan Van Dijk, Gomes dan Matip.

Krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 dan lesunya bursa transfer di musim dingin 2020-2021 turut memicu Liverpool tidak melakukan manuver gila-gilaan dalam pembelian pemain. Tidak hanya Liverpool, klub-klub papan atas yang lain juga menahan diri untuk membuka brangkas demi mendatangkan pemain mahal.   

Tidak Fleksibel

Nathaniel Phillips, Rhys Williams, Ben Davies dan Ozan Mohammed Kabak, itulah stok bek tengah yang dimiliki Liverpool. Keempat pemain ini tentu tidak mudah beradaptasi dengan skema permainan Klopp yang mengandalkan pertahanan tinggi. Sejauh ini strategi pertahanan tinggi berjalan mulus karena disokong oleh pemain tangguh dan mumpuni.

Di balik kesuksesan Klopp menggunakan taktik pertahanan tinggi, ada sosok Van Dijk yang berperan besar menerjemahkannya dengan sempurna di lapangan. Saking piawainya merealisasikan kemauan sang pelatih dan begitu kokohnya menjaga barisan belakang, banyak kalangan berkomentar bahwa Klopp memiliki ketergantungan pada Van Dijk. Di Liverpool era Klopp, Van Dijk menjelma menjadi pemain yang tidak tergantikan.   

Selain Van Dijk, masih ada Matip dan Gomes. Keduanya disebut-sebut mengerti filosofi dan seluk beluk gaya bertahan ala Klopp. Tidak heran kalau Matip dan Gomes menjadi skuad inti di posisi bek tengah.  

Ketika Van Dijk, Matip dan Gomes absen akibat cedera, Klopp tetap saja memaksakan diri menggunakan skema pertahanan tinggi. Eks manajer Dortmund ini tidak bersikap fleksibel dengan krisis bek yang mendera Liverpool.

Pola pertahanan tinggi terbukti tidak berjalan maksimal saat lini belakang dikawal oleh pemain lapis kedua. Klopp sudah berusaha memplot Jordan Henderson (gelandang tengah) atau Fabinho (gelandang bertahan) untuk diduetkan dengan Phillips atau Obak di posisi bek tengah, tapi eksperimen taktik ini belum menjadi solusi mengatasi sektor pertahanan yang keropos.  

Akibat kekakuan menerapkan taktik ini, Liverpool yang tampil tanpa diperkuat bek tengah andalannya menjadi tim yang sangat rentan kemasukan gol. Dari pekan ke 21 (terhitung sejak Matip terakhir absen) hingga pekan ke 33 Liga Inggris, anak asuh Klopp kebobolan 16 gol. Tingkat kebobolannya mencapai 1,23%. Dari 13 laga yang dilakoni ini, The Red menderita lebih banyak kekalahan; 6 kali kalah, menang 5 kali, seri 2 kali.

Tersungkurnya Liverpool di perempat Liga Champion tiada lain juga akibat kengototan Klopp menjalankan taktik pertahanan tinggi. Gol pembuka Madrid di leg pertama (7/4/2021) berawal dari ketidaktangkasan barisan belakang Liverpool menutup pergerakan gesit Vinicius Junior.

Kabak dan Phillips berani keluar jauh dari sarang pertahanan, tapi pada saat mendapat serangan balik, keduanya tidak sigap mengamankan area yang menjadi tanggungjawabnya. Bukan hanya tidak sigap, Kabak dan Phillips juga tidak jeli membaca alur serangan yang dilancarkan Madrid.

Seharusnya Klopp bisa menakar sejauh mana kemampuan pemain lapis kedua bisa beradaptasi dengan skema pertahanan tinggi. Kalau berulang kali dicoba tapi hasilnya mengecewakan, kenapa pria kelahiran 16 Juni 1967 ini tidak mencari opsi lain.

Pertahanan tinggi dan gegenpressing memang menjadi kunci sukses Klopp dalam dua musim terakhir ini. Tapi apakah taktik itu akan terus dipaksakan jika pasukan pertahanannya dalam kondisi timpang. Menurut saya, Phillips, Rhys Williams, Ben Davies dan Kabak bukanlah bek tengah kelas kakap. Mereka belum mencapai level mumpuni bermain dengan skema pertahanan tinggi ala Klopp. Philips dan Kabak yang lebih sering diturunkan masih tampil serba canggung mengawal lini belakang.

Alhasil, musim ini Liverpool tidak akan berpesta pora alias merana tanpa gelar. Lebih merana lagi kalau sampai tidak mengantongi tiket Liga Champion. Saya tidak segan menilai, apa yang dialami Liverpool hingga merana seperti ini merupakan korban dari taktik Klopp yang kaku.