Kriminalitas sudah bukan menjadi hal yang asing lagi, khususnya bagi masyarakat Indonesia. Kriminalitas merupakan perilaku penyimpangan sosial yang dilakukan oleh seseorang atau oknum dengan maksud dan tujuan tertentu.

Menurut Abdulsyani, kriminalitas adalah suatu perbuatan yang dapat menimbulkan masalah- masalah dan keresahan bagi kehidupan di dalam masyarakat. Di negara hukum seperti Indonesia ini, kriminalitas menjadi sebuah permasalahan sosial yang sering terjadi dan sulit untuk dicegah. Banyak munculnya pelaku kriminalitas dengan berbagai model dan pola yang digunakan dalam melakukan aksinya. Tentu saja, hal tersebut akan mengancam keamanan masyarakat.

Pada dasarnya tindakan kriminalitas dapat dilakukan oleh siapapun, baik wanita atau pria, dan pelaku tersebut tidak hanya orang dewasa saja, melainkan juga terjadi pada usia remaja, dan lanjut usia. Terdapat dua kategori faktor- faktor yang mendasari mereka dalam melakukan tindakan kriminalitas yakni faktor internal dan faktor eksternal.  

Faktor internal dapat muncul karena adanya keterdesakan kebutuhan ekonomi, status pengangguran, pola pikir matrealistis, kondisi psikologis seperti stress atau depresi, dll.

Sedangkan pada faktor eksternal, hal yang mendasari pelaku yaitu adanya kesenjangan sosial, rendahnya pendidikan, pergaulan yang tidak sehat, disintegrasi budaya, kemajuan teknologi dsb.

Banyak peningkatan kasus kriminalitas yang ramai diperbincangkan di media sosial dan media informasi televisi seperti kasus pembunuhan, penyalahgunaan narkoba, penipuan, dan korupsi. Hingga kini kasus yang sedang marak terjadi adalah kasus kekerasan seksual dan pembegalan.

Berdasarkan data Komnas Perempuan, tercatat 2.363 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dalam ranah personal. Kekerasan seksual dapat dibagi menjadi dua yaitu pemerkosaan/ pencabulan dan pelecehan seksual.

Pada kasus kekerasan seksual, didominasi pelaku yang berusia di bawah 18 tahun. Hal tersebut diperkuat dengan fakta psikologis yang menyebutkan bahwa pada usia terjadi transisi hormonal yang akan memengaruhi cara berpikir remaja. Selain itu, terdapat faktor lain yang memengaruhi seperti pergaulan yang tidak sehat, penyalahgunaan kemajuan teknologi untuk  hal negatif, serata nafsu seksual individu.

Mereka akan berusaha untuk memenuhi nafsu seksualnya dan melampiaskan pada orang lain bahkan orang terdekat seperti keluarga ataupun saudara.

Selanjutnya, yakni kasus pembegalan. Pembegalan merupakan aksi pencurian atau perampokan yang disertai dengan kekerasan.  Pada umumnya, aksi begal banyak dilakukan oleh kaum laki- laki.

Saat ini, masyarakat sedang diresahkan dengan aksi pembegalan. Jenis kasus pembegalan kini semakin bervariasi tidak hanya begal harta benda saja. Dan kasus yang sedang viral yakni maraknya kasus begal payudara dan kenakalan remaja yang berujung pada aksi begal atau sering disebut klitih. Semua tindakan tersebut di latar belakangi oleh faktor gangguan psikologis pelaku dan kenakalan remaja atau persaingan antar kelompok.

Setelah melihat kasus kriminalitas yang ramai terjadi di kehidupan masyarakat. Lalu, apa saja dampak yang akan diterima baik dari sisi pelaku maupun korban?

Kriminalitas tentu saja memberikan dampak negatif dan kerugian pada korbannya. Kerugian yang ditimbulkan dapat berupa materil, fisik, atau pun psikis korban. Kerugian materil merupakan kerugian pada harta benda dan contoh kasusnya seperti, pencurian, pembegalan, penipuan, dsb.

Dari semua dampak kriminalitas tersebut, yang memberikan efek paling berat pada diri korban adalah kerugian fisik dan psikis. Kenapa demikian? karena setelah peristiwa terjadi korban akan mengalami trauma, rasa ketakutan atau kekhawatiran yang berlebih dan dapat berujung pada gangguan kejiwaan.

Sedangkan dari sisi pelaku, mereka akan menerima dampak positif dan negatif dari tindakan yang dilakukannya. Dampak positifnya yaitu mereka mendapatkan pencapaian tujuan dan kepuasannya. Dalam melakukan aksinya, mereka sudah dibutakan oleh ambisinya dan tidak mempertimbangkan dampak lain.

Untuk dampak negatifnya sendiri, sudah pasti pelaku akan diberikan sanksi hukuman pidana. Pemberian sanksi pidana akan ditentukan berdasarkan kasusnya. Sanksi pidana berlaku pada semua pelaku baik anak- anak usia 14-18 tahun hingga lanjut usia.

Selain sanksi pidana, pelaku juga akan mendapatkan sanksi sosial di masyarakat. Sanksi sosial dapat berupa pengucilan di lingkungan masyarakat. Serta terdapat rasa penyesalan yang terus menghantui pikiran pelaku. Apabila pelaku tersebut tidak sanggup menerima keadaan yang ada, maka akan memicu stress atau depresi.

Kita sebagai manusia biasa tidak bisa mengetahui kejadian apa yang akan terjadi di masa mendatang. Sedangkan tindakan kriminalitas dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Kita mungkin tidak menyadari bahwa orang terdekat kita bisa saja melakukan tindakan tersebut.

Ditegaskan kembali bahwa tindakan kriminalitas dilakukan tanpa memandang usia dari pelaku maupun korban. Dalam beberapa kasus yang sudah ada, ditemukan data korban-korban kriminalitas mulai yakni dari usia balita, anak- anak, remaja, dewasa/ produktif, hingga lanjut usia. 

Nah, untuk mewaspadai atau mencegah terjadinya hal- hal yang tidak diinginkan seperti tindakan kriminalitas, ikuti tips dan solusi berikut ini!

1. Hindari tempat atau jalan yang sepi. Tempat yang sepi akan menjadi sasaran tepat bagi pelaku untuk melakukan aksinya.

2. Jangan menggunakan perhiasan dan membawa harta benda secara berlebihan karena hal tersebut dapat memancing pelaku kriminal.

3. Memakai pakaian yang sopan dan tertutup di tempat umum untuk menghindari tindakan pelecehan seksual.

4. Usahakan tidak keluar rumah sendirian karena pelaku akan cenderung memilih target korban yang berada dalam keadaan sendiri dan tidak ada orang lain disekitarnya.

5. Jadilah orang yang cepat dan tanggap. Apabila Anda menjadi atau melihat korban kriminalitas, maka segeralah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak yang berwajib.