Harapan tentang penjelasan yang tidak kita tahu menyebabkan kita menjadi memuja-muja agama dan membuat kita malas berpikir maju. Kenapa kita lebih sibuk mengejar sesuatu yang tak pasti dan mengapa kita terus berselisih dengan saling rebut aku yang paling benar? 

Sesungguhnya asal muasal dari kegaduhan itu adalah keyakinan yang tak dipikirkan. Kenapa tak dipikirkan? Karena ada rasa takut masuk neraka dan disiksa, dipotong leher seperti buku-buku gambar di waktu kecil.

Adakalanya kita lebih baik memiskinkan keyakinan beragama dengan mempertajam pemikiran rasional dan meninggalkan basa-basi semu tentang iman dan pahala yang paling besar jika melakukan satu ibadah. Ini mungkin terlihat berlebihan awalnya, namun perlahan kita harus bisa bangkit dari keyakinan itu.

Kalau kita coba agak radikal sedikit dalam berfilsafat, maka tak jarang kita temukan bahwa Tuhan itu nyata adalah fiksi dan tuhan itu takhayul. Namun janganlah cepat-cepat mengkafirkan ataupun tersinggung dengan perkataan tersebut. Marilah kita pertimbangkan bersama atau kita cerna secara dalam mengapa sesuatu itu takhayul. Pertama, Anda berdoa tanpa berjuang mewujudkan. Kedua, Anda khawatir akan masa depan hidup setelah mati.

Dalam begadang tengah malam, anggaplah start mulai jam 00:00 sampai subuh jam 06:00 waktu Medan sekitar. Anda akan rasakan getaran penuh irama intelektual di mana ide-ide berkumpul di kepala dan Anda tidak butuh tuhan dalam menciptakan suatu karya tulisan. Angin tengah malam begadang itu menghidupkan gairah pemikiran mengenai sesuatu yang tak harus ada dalam diri manusia.

Jika saya mengatakan jangan bawa nama-nama Tuhan di universitas, maka itu adalah hal yang wajar dan para akademisi dalam membangun ilmu pengetahuan tak ingin ada yang namanya campur baur antara keyakinan beragama dengan konsep eksperimental yang tengah ia bangun. Biarlah Tuhan menjadi keyakinan orang beragama dan bukan keyakinan para saintis. 

Ini adalah nyata, dan manusia tak boleh langsung beringas bahwa agamanya paling benar dinistakan. Jika tak percaya kepada Tuhan, maka sering-seringlah masuk rumah ibadah, jangan lanjutkan kuliah. Mohon maaf bila ekstrem, tapi memang seperti itu.

Ada satu buku sejarah yang menyatakan bahwa agama adalah rancangan dari ciptaan orang ateis, orang yang tak mempercayai Tuhan pada zaman dahulu membentuk suatu komunitas untuk menciptakan suatu agama. Tujuannya adalah menguji iman kecerdasan para ateis sampai di mana seseorang tidak percaya kepada Tuhan. Itulah sangkin cerdas para ateis terdahulu dan pada akhirnya ada yang percaya sama Tuhan dan ada yang tidak percaya sama Tuhan.

Tuhan itu adalah fiksi. Kalau kita masuk dalam universitas, maka jawabannya ia bahwa Tuhan itu fiksi. Dan janganlah bawa sesuatu yang ilmiah pada ranah hukum. Jika tak sependapat, lawan dengan ilmiah juga; bila hukum masuk, maka terjadilah seperti Socrates. 

Kepada siapa hukum itu berpijak? Adakah kekuasan di balik hukum sehingga bisa menggerakkan siapa yang salah dengan cepat?

Pembaca boleh naik darah, tapi jangan kehilangan konsentrasi dalam berpikir. Ada baiknya ngopi terlebih dahulu biar agak tenang sedikit karena ada baiknya meminum kopi sebelum membaca terlalu keras. 

Dalam keseriusan itu, selalu ada jeda dalam memasukkan pikiran yang tak tergapai. Kita emosi bukan karena orang pemarah, melainkan ada pikiran yang tak dipikirkan. Jika hidup tanpa memikirkan, maka manusia akan ikut terbawa arus ego yang besar. 

Seseorang yang selama ini, misalnya, terlihat saleh di depan, belum tentu suci di dalam; dan ia yang tanpa ateis di depan, belum tentu tak humanis. Ada orang yang sengaja menyembunyikan kebaikan karena ia tak ingin manusia tahu dan ia tak ingin dipuja, dan ada orang yang berbuat baik hanya karena sengaja agar bisa dikira orang saleh. 

Jadi perspektif mengenai niat dan iman seseorang tak ada yang bisa membaca selain tuhan itu sendiri jikalau ia memang ada. Kita takkan menyalahkan Adam yang memakan buah khuldi; kita tak menyalahkan iblis yang menggoda Adam. Maka pertanyaannya adalah masihkah kita menyalahkan nabi Adam atas kutukan yang kini menimpa kita? 

Tentu tidak. Jika kita ingin melihat secara menyeluruh dari segi filosofis, maka tak akan ada yang salah. Bukankah Tuhan maha pengasih lagi maha penyayang, dan kita sebagai manusia sebenarnya apa pun pasti takkan ingin ada yang melihat penderitaan, baik penderitaan yang ada di dunia dan yang ada di akhirat.

Manusia tak bisa menuntut kepada Tuhan kenapa ia mesti lahir di dunia ini dan kenapa ribuan sel sperma yang lain tak menjadi bayi. Pikiran kita mungkin belum sampai pada pembahasan itu, tapi para filsuf luar sudah jauh dalam mengkaji pertanyaan tersebut. 

Sampai mana kita bisa bertanya jika kita masih terpatok pada keyakinan semu akan laknat api neraka? Bahkan hidup itu harus diperjuangkan tanpa pernah mengenal lelah. 

Ada satu kata motivasi yang menyatakan, "jadilah setegar Metallica yang masih tetap konser membawakan lagu Master of Puppets dalam tour keliling Eropa." Kita tak harus mengeluh pada harapan karena waktu terus berjalan tanpa pernah pamit kepada siapa keberuntungan dari kerja keras itu berbuah hasil.

Esais legenda Indonesia Goenawan Mohamad berpendapat bahwa Rocky Gerung tak boleh dipidanakan dengan tuduhan menistakan agama, sebagaimana seharusnya Ahok tak pantas dihukum dengan undang-undang yang sama. Undang-undang itu membuka pintu buat tindakan sewenang-wenang. Keadilan yang sejati berlaku tanpa pandang bulu. 

Mereka yang bela Rocky Gerung tapi tak bela Ahok sebenarnya tak menghendaki keadilan, hanya inginkan kemenangan politik. Siapakah sesungguhnya yang berhak mengklaim diri jadi “agama” yang merasa dihina? Dari mana hak itu diperoleh?

Masihkah kita berpura akan pemikiran dan meletakkan dasar keyakinan pada perasaan semu tentang agama? Beragama tanpa harus menumpangi kepentingan politik. Merasa dan menyatu dalam persaudaraan, menjadi warga negara yang adil tanpa asal-asalan dalam mengkafirkan. Dunia yang kita tempati adalah dunia universal, manusia hadir untuk berbagi bukan untuk merenggut segalanya, menjadi ada karena berbeda bukan membeda-bedakan. 

Melindungi kemanusiaan tanpa menekan agama karena kesucian pikiran itu di atasnya kesucian yang berpura-pura. Tetaplah menjadi bagian yang peduli terhadap perubahan sehingga kita tidak dihalangi oleh hiruk pikuk agama paling benar.

Saran akhir dari penulisan ini ialah mari kita melapangkan dada tanpa merasa meninggi dalam bidang kesalehan. Meletakkan dan mendahulukan sains dari keyakinan, sebab sains menjadi pegangan teguh dalam kemajuan peradaban.