76125.jpg
Gambar diambil dari akun FB yang bersangkutan.
Gaya Hidup · 4 menit baca

Kresna, Titik
Tentang profile seorang jurnalis portal berita online yang sedang beken

Wartawan muda yang baru saja memasuki usia 30 itu bernama Kresna. Kresna saja, titik.

Tidak dijelaskan oleh ayah dan ibunya mengapa ia diberi nama Kresna. Namun, ia berusaha mencari tahu apa makna di balik namanya.

“Ayahku seorang pendeta. Ia pengagum Romo Mangun. Salah satu tulisan yang ia sangat sukai dari Romo Mangun adalah novel yang berjudul Burung-burung Manyar.”

Burung-burung Manyar menceritakan kisah-kisah di balik revolusi Indonesia. Romo Mangun menyuguhkan sejarah yang dianggap memiliki penyimpangan cerita dari realitas dengan balutan kisah cinta dua anak manusia, Setadewa dan Larasati.

“Kakakku bernama Setadewa. Seharusnya anak kedua dalam keluarga kami adalah perempuan, sehingga bisa dinamai Larasati. Sayang, anak kedua bukan perempuan, lalu diberilah aku nama Kresna. Adikku perempuan, namanya Larasati.”

Dilahirkan di Yogyakarta, namun dibesarkan dengan berpindah-pindah wilayah. Ia menamatkan Sekolah Dasar di Lampung, lalu Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jambi. Maklum, ayahnya seorang pendeta pada sebuah denominasi Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan (GKSBS).

“Ya, namanya juga pendeta, tugasnya dipindahkan dari satu gereja ke gereja lain, dari satu daerah ke daerah lain. Kayak PNS gitu.”

Selepas SMA, ia pindah ke Yogyakarta pada tahun 2006 dan melanjutkan studi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Pendidikan Bahasa Jerman adalah jurusan yang ia pilih. Tidak disangka, ternyata ia saat ini berprofesi sebagai seorang jurnalis.

Menjadi Pewarta 

Guru bukan cita-citanya. Ia juga tak pernah bermimpi menjadi seorang pengajar. Sebuah kebetulan saja ia diterima dan lulus di jurusan pendidikan.

Kresna gemar menulis. Ia menulis sejak hari-hari pertama kuliah. Pada masa orientasi mahasiswa baru atau biasa dikenal dengan OSPEK, ia tak suka dengan penugasan-penugasan yang diberikan kakak tingkatnya. Ketidaksukaan tersebut ia utarakan pada seorang senior, yang kemudian mengenalkannya pada sebuah lembaga pers mahasiswa.

Melalui lembaga tersebutlah ia rajin memproduksi tulisan. Kuliah hampir 7 tahun ia habiskan dengan menulis, baik sebagai pewarta mahasiswa maupun pekerja di sebuah koran. Ia tak hanya gemar menulis. Ia juga memaksimalkan kemampuannya untuk menjadi seorang penata letak grafis.

Sekitar tahun 2011, ia bekerja sebagai pekerja lepas di sebuah perusahaan media, Jawa Pos, sebagai layouter. Ia menghabiskan waktu di perusahaan tersebut selama satu setengah tahun. Ia berhenti bekerja karena harus menyelesaikan skripsi.

Seusai menyelesaikan skripsi, ia ditawari oleh sebuah portal media daring merdeka.com untuk menjadi kontributor wilayah Yogyakarta.

Terlepas dari aktivitas Kresna sebagai seorang awak media, ada satu hal yang menjadi sumbangsih besar bagi perkembangan portal media daring di Yogyakarta. Kresna bersama sembilan temannya pada tahun 2012 mendirikan https://www.beritajogja.id, sebuah portal berita online pertama di Yogyakarta.

“Ayo… masing-masing kita patungan sejuta-sejutalah per orang, bersepuluh jadi dapet 10 juta. Itu duit bisa kita pakai buat kontrak tempat, beli domain, bikin akta notaris.”

Tapi sayang, sulit untuk mengumpulkan uang satu juta rupiah per orang, sementara 10 orang tersebut berstatus sebagai mahasiswa. Dari ajakan tersebut, hanya dua orang yang sanggup memberikan satu juta rupiah, selebihnya hanya mampu 25.000. Dana yang terkumpul itulah yang kemudian dijadikan modal awal untuk membangun portal berita daring yang cukup terkenal dan menjadi incaran pemilik modal di Yogyakarta.

Kresna menghabiskan waktu untuk mengolah beritajogja, sementara malam ia bekerja pada sebuah koran, Jawa Pos. Gajinya dari tempat ia bekerja di koran habis untuk kebutuhan hidup sehari-hari, sementara dari penghasilan dari beritajogja ia gunakan untuk membiayai teman-temannya yang bekerja aktif menghidupkan beritajogja.

Perkembangan portal media online di Yogya ia rasakan sangat lamban. Beritajogja tidak menjadi besar. Kresna bersama teman-temannya mulai frustasi. Mereka berembug untuk menutup portal tersebut. Muncul ide juga untuk menjualnya.

“Ada seorang politisi dari partai banteng menawar seharga dua ratus juta, tapi untuk apa? Aku dan kawan-kawanku akan menanggung reputasi kami yang nanti akan rusak karena beritajogja berubah warna,” katanya dengan penuh semangat.

Ia dan kawan-kawannya kemudian memutuskan untuk mengakhiri upaya menghidupi beritajogja. Empat tahun setengah adalah usia yang cukup, portal media tersebut kemudian dikelola secara sukarela oleh salah satu di antara mereka, sementara yang lain melanjutkan tapak hidup masing-masing. Kresna kemudian memutuskan pindah ke Jakarta, mengambil tawaran menarik dari sebuah portal media daring yang kini sedang naik daun.

Babak Baru dari Kisah Cinta Terlarang

Awal tahun 2017, Kresna menuju Jakarta, menjadi wartawan untuk liputan mendalam pada media online tirto.id.

Di balik kepindahannya ke Jakarta, Kresna menyimpan kisah cinta yang kelabu.

Ia mengenal seorang perempuan. Sebut saja Cinta. Seorang mahasiswi yang manis, ramah nan santun, juga pintar.

Cinta-lah yang membuat hatinya berdebar-debar penuh emosi, emosi yang bercampur aduk. Cinta-lah yang ia pilih sebagai kekasih tujuh tahun lamanya. Kresna bahkan sudah menyisihkan tabungan untuk mereka menikah.

Lika-liku cinta yang terjal mereka lalui. Kresna mendapat tantangan yang luar biasa berat. Cinta anak seorang kiai, sementara ia anak seorang pendeta. Sebuah pertentangan besar yang memaksa mereka berpisah.

Cinta menyerah pada usaha merayu dan membujuk orangtuanya untuk menerima Kresna sebagai pasangan hidupnya. Cinta memilih untuk mengakhiri hubungan mereka dan pasrah pada kehendak orangtua.

Kresna patah hati. Patah hati juga yang membuat ia memutuskan untuk meninggalkan Yogya. Kresna hendak menghapus setiap kenangan pada tiap perlintasan dan liku jalan yang ia lalui bersama Cinta. Kresna hijrah ke Jakarta untuk menepis hati yang lara dan menyongsong babak baru kehidupannya.

“Tabungan nikahku sudah kuhabiskan dalam waktu sekejap, kubelikan pada minum-minuman yang sejenak bisa membuat aku lupa,” ujar Kresna dalam nada yang gundah dan galau.