...diijinkan mengambil Pentol sama Siomai dan Tahu berapa pun...

Jujur itu Total

Asyik bertualang menikmati dunia perpentol-baksoan di kota Surabaya, maka pilihan yang bijak untuk melangkahkan kedua kaki berkunjung ke kedai bakso Trunojoyo. Pentol sama Siomai gorengnya masuk kriteria juara.

Selain bisa membuat lidah bergoyang-goyang ke sana dan kemari bagai tengah mengikuti irama kendang, maka bakso Trunojoyo juga punya keunikan. Yaitu, setiap pelanggannya diijinkan mengambil Pentol, Siomai goreng dan Tahu berapa pun, nanti totalan harganya belakangan seusai menikmati hidangan. 

Oleh karenanya, kedai bakso ini punya nickname; Bakso Kejujuran.

Semangkok Bakso Kejujuran Jl. Trunojoyo Surabaya yang menawarkan tak sekedar sensasi nikmat, namun juga melatih kejujuran menjadi tabiat.

Apabila berkunjung menikmati Bakso Kejujuran, selalu ingatlah tadi mengambil Pentol sama Siomai juga pesanan lainnya, berapa. Agar tak lupa nanti Total Kejujurannya dihitung berapa.

Ndak enak nanti pas pulang kepikiran sampai kebawa mimpi Pentol.



Kalo pakai ukuran 1 Ons sama dengan 100 gram kan jadi PENTOL.

Metrik Internasional 1 Oz = 28,35 Gram

"Beyb… Beybi!" Terdengar suara riang seorang wanita muda, memanggil pasangan hidupnya.

"Nggih, my Honey." Jawab sang pria yang juga tak jauh terpaut usia dengan sang wanita muda yang memanggilnya.

"Ini tadi masak pentol baksonya, pakai ukuran Ons internasional ya Beyb?" Tanya sang wanita muda yang paham sistem metrik rupanya.

"Kok tau?." Sahut sang pria yang sejauh ini belum pernah mendapat ijin mencukur kumis tipisnya, dari wanita muda sang tumpuan cintanya.

"Lha ini pentolnya kecil-kecil." Tukas sang wanita muda beralasan.

"Iya lah Hon. Kalo pakai ukuran 1 Ons sama dengan 100 gram kan jadi PENTOL." Jelas si pria kumis tipis, yang mempertebal intonasi suaranya saat bilang ‘PENTOL’.

"Lha kalo kecil-kecil, Beyb?" Tanya sang wanita muda lagi, meminta kepastian.

"..pentol..." Suara si pria terdengar sengau kayak kepencet, kayak suara Mickey Mouse pas bilang 'pentol', biar sang wanita muda pengisi hatinya itu terbayang pentol kecil-kecil.

"Lak mesti.wong iki." Sergah sang wanita muda gemas. Suaranya kental berlogat Surabaya-an selatan, Jemursari daerah perbatasan Sidoarjo.

Penampakan Bakso Pak Sabar dekat Unair Surabaya yang khas dengan taburan gorengan bulat kecil-kecil yang keras, namun bila dibiarkan agak mlempem dalam kuah, rasanya bisa bikin nagih.



Di sekitar warung bakso itu, buanyaaak Mahmud Abas berlalu-lalang.

Siwur Sumuk

Masih siang, langit mulai menjelang hujan, sang Honey menunggu kehadiran si Beybi di ruang tamu. Wajah sang wanita muda ini begitu risau, penuh penantian cenderung kesal. Tak diajak jalan-jalan si Beybi, sehabis arisan.

Oh! Itu si Beybi datang sudah berbekal segala alibi dan alasan.

Hon, Honey...” Kali ini si pria berkumis menawan bagi sang wanita muda, yang memulai menyapa.

Iyes Beyb.” Sahut sang wanita muda tanpa berpaling dari pandangan kedua matanya yang terpaku pada satu titik kosong. Hati sang wanita muda benar-benar sedang hampa.

”Ada kabar gembiraaa...” Suara riang si Beybi, mencoba menyemarakkan ruangan tamu tempat sang wanita muda memanjakan isi hatinya bersanding keresahan.

Halah! Paling terusan ne, Sekarang kulit manggis ada ekstraknyaa...” Wajah Honey tetep kaku lurus.

Lho nggaak, bukan yang itu.”

”Apa’an dong, Beyb?” Sergah Honey. Suaranya terdengar mendengung saat bilang ‘apa’an’, karena ada petik serupa ‘ain, pertanda kudu diucapkan mendengung.

”Barusan aku andok bakso Pak Nasir, dong Hon...” Jelas si Beybi, mencoba membuat ramah rona wajahnya demi melihat sang Honey tampak tak nyaman.

”Lha aku kok gak mbok jak...” Honey mulai suged, merajuk.

”Lha tadi bilangnya arisannya masih lamaa. Ya tak tinggal.” Beybi tipikal pria pandai menangkap peluang untuk beralasan.

Mbungkus?” Kali ini Honey menatap wajah si Beybi, penuh harap.

Hwaduh! Nggak e Hon. Tapi bakso ne pancen enak tenan. Kuah e diseruput di tempat, pas panas-panas. Wih!Beybi ternyata juga tipe pria yang tak bisa menyembunyikan kata hatinya, cenderung kurang berperasaan.

”Besok-besok nanti, aku jak en yaa.” Kilah Honey memanja, memaklumi segala kelebihan Beybi si pria tambatan hatinya.

Iyo lah... Sip. Tapi tempatnya rada ongkep yo, gerah, sumuk.” Beybi mencoba memberi gambaran sikon, situasi dan kondisi, warung bakso yang dimaksudnya.

Sing penting, kelebihan bakso ne, Beyb. Piye?” Honey memang tipe wanita yang mau berserah diri menghadapi sikon apa pun, asal bersanding dengan sosok yang amat dicintainya.

Wih! Wis jan og... Pentol e cilik-cilik tapi jian uempuk gurih puol! Enak banget pas pentolnya digigitin pelaaaan, pelan.” Kedua mata Beybi memejam demi meresapi tuturan nikmatnya digigit pelan-pelan. Ujung lidahnya sekilas terlihat keluar sedikit, menyapu bibir.

”Terus, Beyb?! …Teruus??!” Demi mendengar tuturan digigit pelan-pelan, Honey, sang wanita muda yang periang ini, sontak terpikat, terbawa suasana, lalu merubah posisi tiduran malas di atas sofa menjadi terduduk serius demi mengikuti kelanjutan cerita.   

”Terus? Kuah e Hon... Hyuh! Sueger! Kalo ditambah sambel tambah terasa cita rasa bawangnya... Lha ini! HAAH!” Beybi menghembuskan napasnya, tapi kedua telapak tanggannya saling menelungkup menutupi mulut dan hidungnya. Bikin abab sendiri, dibauin sendiri, seperti itu aksinya.

“Nah kan, sampai rumah aja masih terasaa aroma bawangnya.” Sambung Beybi sambil manggut-manggut pelan, mengagumi aroma bawang yang menghiasi ababnya sendiri.

Ntar! Sik! Sana jauhan, ndak usah deket-deket dulu!... Terus?” Honey yang masih penasaran pun sambil menyibak-nyibak kedua tangan, mengusir Beybi bersama ababnya agar menjauh.

”Terus Hon... Di sekitar warung bakso itu, buanyaaak Mahmud Abas berlalu-lalang.” Ujar Beybi, sambil kedua tangannya bergerak memutar bagai menyanyikan lagu topi saya bundar.

Seporsi Bakso Pak Nasir yang meski pentolnya kecil-kecil, namun cita rasa kuah bersensasi bawang, sangatlah gurih dan segar.

Opo Mahmud Abas iku Beyb?” Kedua mata Honey berbinar, mengira banyak penjaja aneka makanan pun minuman yang ramai bersliweran.

”Mahmud Abas, Mamah Muda Anak Baru Satu...” Tukas Beybi singkat.

Oooh, ngono taa? ... Sik tunggu dulu.” Sigap Honey berdiri dari sofa, lalu beranjak ke dapur.

Tak lama Honey muncul.

Haiyo! Bilang o Mamah Muda lagi!” Wajah Honey tampak geregetan. Tangan kanannya menggenggam Siwur kayu, alat daput buat memasak sayur.

Lho! Lho! Sik sik Hon, tak jelasin dulu...” Beybi mulai agak panik.

Beybi pun lari-lari kecil dikejar Honey mengelilingi meja tamu.

Terus Beybi berlari-lari kecil lagi, mak undul-undul-undul, menuju ke ruang makan, lalu memutari meja makan.

Sang Honey sambil mengangkat-angkat Siwur di tangan pun membuntuti, irama larinya menyesuaikan langkah lari si Beybi.

Tak kehabisan akal, si Beybi terus masuk ke kamar tidur. Sang Honey pun tetap membuntuti. Tapi, Siwur ditaruh oleh Honey di atas meja makan.

Beybi dan Honey pun sudah masuk di dalam kamar. Pintu ditutup, terus dikunci. Terus mereka berdua pun lalu sumuk.

Happy End.

Bentuk Siwur kayu alat dapur untuk memasak dan menyiduk kuah sayur.



Jantung saya hampir tak berdegup lagi demi membaca guratan tato di tangan kanan pria itu.

JAGAL SANGAR!

Masih bertualang cita rasa dunia perbaksoan di kota Pahlawan. Adalah bakso Jagalan, yang perlu mendapat catatan untuk bertandang dan mencicipi olahan bakso sebagai hidangan.

Kelebihan bakso yang selain mampu menghadirkan kehangatan ditengah terpaan hawa dingin yang meski tak menusuk tulang, namun tetaplah hawa dingin, juga karena aneka isian pendamping pentol bakso yang begitu menggugah minat berselera.

Betapa bulatan-bulatan pentol, potongan tahu, siomai goreng dan bihun yang berdesakan dalam mangkok, masih ditindih dengan irisan tetelan tulang lunak yang masih tersemat daging juga lemak-lemak gurih, membuat syaraf-syaraf indera cita rasa semakin merintih, memanja.

Sebuah karya seni cita rasa yang menjauhi unsur kekerasan dalam imajinasi para penikmatnya, bakso Jagalan telah berhasil membuat ramah istilah sangar; Jagal.

Saya, punya trauma mendalam ketika membaca ataupun mendengar kata Jagal. Karena, salah satu makna Jagal dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) adalah; pembantai.

Kenangan yang membekas atas kejadian beberapa puluh tahun lampau, begitu melekat, terpatri menetap dalam benak saya.

Sore itu, saya sedang bersantai di sebuah kedai, bakso juga, di kota ini. Tetiba datang seseorang yang dari penampilan wajahnya terlihat beberapa tahun usia lebih tua daripada usia saya.

Tinggi, tegap, hitam, ototnya berisi, bertopi lusuh, berkumis dan berjenggot tebal. Sambil membisu, tanpa permisi dia memilih duduk di atas kursi yang semeja dengan saya.

Entah, bisikan alam apa yang membuat dia memilih meja tempat saya menggalang lamunan. Saya tersentak, sempat saya memandangi wajahnya yang menunduk. Keras, kaku, tipikal pria tak kenal kompromi.

Bilang iya, ya iya. Bilang tidak, ya tidak. Begitu karakter yang tergurat di setiap sudut wajahnya.

“Mas! Kopi!” Suara berat seraknya menggema seisi kedai, meminta suguhan kopi.

Mas pramusaji, menyerahkan secangkir kopi racik panas, tanpa berkata-kata, buru-buru berlalu. Mungkin dia tak mau berurusan dengan pria berwajah keras ini.

Pria ini meniup-niup kopi dalam cangkir agar tak begitu panas ketika diseruput, sambil membuka topi. Rambutnya yang lebat hitam panjang, tampak lusuh! Mungkin terlalu sering tersapu panasnya cuaca, terlalu lama tersapa angin bebas mendera.

Hembusan napasnya berat terdengar, dia lega kopi panas telah tersaji di hadapannya. Digulungnya lengan baju sebelah kanan. 

Jantung saya hampir tak berdegup lagi demi membaca guratan tato di tangan kanan pria itu, berhuruf kapital hitam besar-besar; JAGAL.

Pria itu masih menunduk. Saya agak gelisah duduk di hadapannya, namun kedua kaki saya tak kuasa beranjak. Lunglai.

Seolah tahu gejolak hati saya yang mulai ketakutan, pria itu ganti menggulung lengan baju sebelah kirinya. 

Sama, semakin bergidik membaca tatto berhuruf yang hitam dan besarnya sama dengan tatto di tangan kanan. Di tangan kiri pria ini, diantara jarangnya bulu-bulu halus agak keriting, deretan tato terbaca; KOTA.

Saya langsung berpikir apakah saya punya musuh di kota ini, sehingga ada orang yang menyewa sosok JAGAL KOTA untuk menyakiti saya?

Saya menunduk tak berdaya. Lidah saya kelu, kaku tak mampu berkata-kata.

Pelan-pelan saya mengangkat wajah saya.

Gawat! Ternyata dia memandang saya!

Sorot matanya begitu tajam!

Dia ganti mengalihkan pandangan menuju semangkok bakso milik yang baru saya nikmati beberapa suapan.

Dia memandangi saya lagi!

Tanpa sepatah kata, dia mulai membuka baju. Kekar. Saya jadi ingat potongan tubuh sang Aquaman.

Sosok superhero Aquaman tubuhnya memang penuh tato.

Masih membisu, dia menoleh membelakangi saya.

“Mas! Kipas angin! Sumuk!!” Pintanya ke pramusaji yang dari tadi tampak siap siaga memenuhi permintaan pria ini.

Pria ini memandangi saya lagi, lalu menatap semangkok bakso di hadapan saya lagi.

“Mas! Bakso ne endi?!” Ujarnya meninggi. Rupanya dia juga ingin semangkok bakso.

Saat menoleh membelakangi, saya yang masih menata hati yang tengah was-was ketakutan, menatap punggung pria sangar ini. Masih ada deretan huruf-huruf tatto yang tersambung.

Dalam suasana hati yang dilanda horor teramat menakutkan, saya lalu mencoba tenang untuk meniti deretan huruf hitam besar-besar yang sambung menyambung mulai dari tangan kanan, bahu, punggung hingga tangan kiri.

Ternyata sebuah kalimat yang menyatu!

JAGALAH KEBERSIHAN KOTA.

Saya langsung menarik napas lega demi membaca rangkaian huruf tato menguntai kalimat yang ternyata berupa ajakan ramah lingkungan.

“Hawa ne sumuk yo Cak, hari ini. Habis nyapu jalan sampek keringetan aku!” Pria ini menyapa saya.

Sesaat saya hanya ndomblong tak mampu berkata-kata, demi menghadapi kenyataan bahwa ternyata pria sangar di hadapan saya ini, bisa berkata-kata.

“Oh... Ehem.” Saya menyapu kerongkongan yang sedari tadi kaku tanpa pernah mengucap.

Lha sampeyan kok ya mau-maunya nyapu jalan, Cak?” Saya membalas sapaannya, sekalian bertanya.

Lha gimana lagi Cak. Wis dadi tugasku iki!” Tukas pria ini sambil menyeruput kopi yang sudah berkurang panasnya.

Saya langsung menyadari bahwa pria ini adalah petugas dinas pertamanan kota, yang menjaga kerapihan dan kebersihan sepanjang jalan kota agar kotoran dan sampah tersapu, menjadi hamparan jalanan yang nyaman dan indah dipandang.

Rasa takut dan was-was langsung sirna, berganti menghargai kerja keras pria ini, sehari-hari.

Cak! Wis sampeyan enak-enakin menyantap baksonya, saya traktir.” Tawar saya ke pria ini, sambil melanjutkan aksi memotong-motong bakso lalu mengoles-oles ke saus tomat, kecap dan sambal.

Wis ndak usah repot-repot Cak!” Semangkok bakso pesanan diterima oleh pria ini. Dia segera mulai menyendok kuah panas, lalu menikmati.

Wis talah! Ini aku salut sama perjuangan sampeyan menjaga kebersihan sak kota.” Saya memaksanya.

Yo wis lah sak karep. Lha aku sampeyan paksa, ya apa boleh buat.” Dia akhirnya mau, menyanggupi.

“Mau bilang iya aja muter-muter.” Tukas saya dalam hati.

Berdua kami lalu bersantai menuntaskan petualangan cita rasa bakso yang ternyata bernama Jagalan, sambil bercengkerama, berbagi cerita suka duka menjaga kebersihan sebuah kota.

Guratan tato JAGALAH KEBERSIHAN KOTA pun menjadi simbol telah melekat kuatnya menjaga kebersihan bersama, oleh seluruh warga kota Surabaya.

Baca Juga: Soto Berkelas