Kaum rebahan identik dengan kemalasan. Kemalasan lebih berkonotasi negatif. Bagi kaum rebahan, kemalasan menjadi sebuah lompatan kreativitas agar tetap produktif di tengah pandemi. Kaum rebahan mempunyai sudut pandang tentang kemalasan menjadi hal yang berbeda.

Dalam sebuah kasus, ada kakak-adik yang sama-sama kuliah dan diberikan seabrek-abrek tugas dari dosennya.  Saat belajar di rumah, keduanya mengerjakan tugas. Namun ada sesuatu yang berbeda. Sang kakak cukup serius hingga stres dikejar waktu agar semua tugas selesai pada waktunya.

Saking stressnya, setelah beberapa minggu ia banyak mengalami keluhan seperti rasa bosan, rasa jenuh, kualahan hingga sakit perut, sering pusing bahkan masuk angin. Sang kakak kerja keras hingga seharian di depan laptop bahkan larut malam sampai begadang.

Sementara sang adik lebih santai, kadang sering rebahan walaupun sejenak, namun ia tetap mengerjakan tugasnya itu dengan rileks, kadang berselancar dalam jagat media sosial untuk sekedar menyapa teman-temannya, kadang sempat bersepeda seminggu tiga kali dan tidur siang. Jika diperhatikan, sang adik lebih malas dari sang kakak.

Tapi yang mengherankan, sang adik tidak mengalami kendala dalam mengerjakan tugas-tugas akademisnya dan lebih tenang bahkan sering rebahan jika merasa agak bosan. Mengapa itu bisa terjadi?

Setiap individu memang mempunyai caranya masing-masing dalam menyelesaikan segala tugasnya. Terlebih saat pandemi saat ini, semua orang terkejut, bingung, penuh kekhawatiran, bahkan mengalami stres berkepanjangan hingga sakit, atau depresi hingga bunuh diri.

Di masa yang tidak penuh kepastian ini, entah kapan Covid-19 akan berakhir. Setelah vaksin diproduksi pun virus ini akan bersama kita di bumi. Ketika Covid-19 memporak-poranda semua sektor dan tatanan yang ada, memaksakan kita untuk beraktivitas di rumah. Saat di rumah, bagi kaum rebahan akan selalu ada ide, gagasan, inspirasi dan segala kreatifitas lainnya yang bermunculan.

Seperti contoh sang kakak tadi, ketika aktivitas di rumah menghabiskan waktu dengan fokus mengerjakan seabrek tugas kuliah dengan serius dan jarang rebahan, hingga tidak mengatur pola istirahat, maka segala keluhan hingga stres akan timbul, stagnan dan merasa bosan.

Ada yang menarik yang dikatakan oleh seorang psikolog Natalie Dattilo, PhD di Bringham and Women’s Hospital di Boston, Amerika Serikat (2020) bahwa “Sistem saraf yang telah terbebani karena perubahan hidup yang tiba-tiba dan dramatis dalam bentuk bertahan hidup. Setelah hiperaktivitas yang panjang, sistem saraf akan mencari keseimbangan, dalam proses biologi disebut homeostatis. 

Ketika Anda menemukan energi diri namun turun drastis, hiperaktivitas itu secara alami akan berkembang menjadi kebalikannya menjadi kurang fokus, kurang aktif, kurang bergerak dan berfikir lebih lambat. Sekarang ancaman awal telah dipindahkan dalam beberapa cara, sistem Anda hanya mencoba memperlambat untuk mengalibrasi ulang dirinya sendiri dengan mengembalikan keseimbangan dan istirahat.”

Ketika keadaan sudah membuncah, maka disarankan untuk memperlambat aktivitas, diam sejenak, dan memberi izin diri untuk rebahan untuk memproses ulang berbagai hal, berbagai kegiatan, untuk sekedar merenung, menghayati sambil melepas lelah. Tarik nafas dalam-dalam untuk kembali mengatur strategi, siasat, hingga mencari ide-ide liar dan berimajinasi tanpa batas.

Selama pandemi melanda, produktivitas kita terasa terhambat dan melambat karena keadaan yang berubah tiba-tiba bahkan drastis. Biasanya sebelum pandemi kita bisa menyelesaikan segala macam tugas, segala aktivitas yang terjadwal, dan mencapai target.

Kini, ketika berada di rumah cenderung memeriksa dan menerima berita Covid-19 dari jagat media sosial dalam setiap menit yang membuat kita panik, takut hingga bisa menurunkan imun dalam tubuh.

Ketika kita sudah mampu memfilter berbagai macam berita yang menakutkan, salah satunya untuk kembali pada fokus tujuan dengan melakukan rebahan. Sebagaimana cerita diatas, ketika sang adik bermalas manja dengan melakukan rebahan, maka kemalasan akan menjadi sebuah lompatan kreativitas dan positif.

Dalam penuturannya, Chris Bailey (2018) menjelaskan bahwa kemalasan yang tepat ketika kita memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Dalam dunia selalu ada gangguan, justru ketika menghabiskan waktu luang sambil rebahan, akan ada gangguan-gangguan baru, seperti memeriksa email, menyisir berita whatsapp, membuka facebook, berselancar di instagram, dan berbagai kegiatan yang bisa saja itu akan membuat kita semakin lelah dan menambah masalah.

Di saat rebahan, perhatian kita bisa terfokus atau tidak berfokus. Ketika terfokus akan memungkinkan kita bisa memikirkan bagaimana strategi menyelesaikan pekerjaan agar lebih bermakna, membuat hidup kita bergerak maju. Jikalau ketika rebahan kita tidak fokus, bisa memiliki kekuatan yang sama meskipun dengan cara yang berbeda.

Ketika rebahan kita sudah mulai fokus akan membuat kita produktif, dan ketika kita tidak fokus akan membuat kita lebih kreatif. Ketika kita mulai fokus, maka akan muncul sebuah ide, gagasan dan gebrakan untuk bisa menyelesaikan pekerjaan tersebut untuk lebih produktif.

Namun, ketika kita tidak fokus (saat ada kemalasan) kita jadi lebih kreatif karena kita akan menemukan ide-ide liar, thinking outside the box, ngalor-ngidul berimajinasi, wara-wiri menjelajah untuk mendapatkan inspirasi, hingga akhirnya menemukan sebuah cerita, konsep, solusi, hingga tergerak membuat buku fiksi/non fiksi atau sebuah produk.

Tidak hanya itu, lanjut Bailey (2018) bahwa pada tahun 2011, ada sebuah studi ketika perhatian kita beristirahat (ada kemalasan) isi pikiran kita mengembara dan berselancar, untuk memasukkan hal mengenai masa depan (48 persen dari waktu), masa kini (28 persen) dan masa lalu (12 persen).

Rebahan itu benar-benar tidak melakukan kegiatan apa-apa, betul-betul rebahan tanpa sibuk membuka gawai, buku, koran dan apapun itu. Dalam proses rebahan itu menjadikan kita benar-benar lebih produktif, lebih kreatif dalam mencari ide-ide baru, menyelesaikan masalah dan mencari solusi.

Ketika rebahan, pikiran kita akan mengembara dan berselancar, sehingga memungkinkan kita akan berpikir akan masa depan, berpikir bagaimana menjadi orang sukses, pikiran kita akan berkelana, berkeliaran, tanpa kita sadari merefleksikan tujuan ke depan dan menancapkan niat untuk menggapainya.

Kaum rebahan akan mempunya ide-ide baru. Ide ini akan membawa kepada solusi kreatif. Bermacam ide akan bermunculan hingga menjadi beberapa pilihan agar menjadi solusi yang tepat.

Rebahan merupakan cara untuk meluangkan waktu untuk mengisi waktu luang. Ketika otak dalam keadaan istirahat, akan menyimpan energi fisik dan psikis sehingga dapat digunakan untuk hal-hal positif. Kesehatan mental kita juga akan sehat.

Kaum rebahan mempunyai alasan untuk bermalasan, ketidakfokusan akan mendatangkan kreativitas dan efisiensi untuk melanjutkan seabrek-abrek tugas dan pekerjaan, seperti yang terjadi pada kisah diatas.

Ketika penularan Covid-19 makin melonjak, maka manfaatkan lah waktu untuk di rumah untuk rebahan. Kita membutuhkan kemalasan dan ketenangan di tengah kesibukan agar otak kita juga ikut tenang. Biarkan pikiran kita memberi tahu apa yang dibutuhkan.

Tapi ingat, rebahan hanya dibutuhkan oleh tubuh dan otak ketika kita merasa lelah atau ingin istirahat. Rebahan bukan berarti malas bekerja, tidak kreatif dan produktif. Rebahan merupakan satu titik agar menghasilkan lompatan kreativitas dan produktivitas.