Apakah kalian sering mendengar orang-orang di media sosial menyebut istilah kata Kpopers? Kpopers sendiri sering dikaitkan dengan kumpulan penggemar dari sebuah grub K-Pop.

K-Pop atau yang dikenal dengan Korean Pop saat ini banyak disukai mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, perempuan bahkan laki-laki sekaligus. Tidak hanya booming di negaranya saja, fenomena K-Pop juga sudah tersebar ke berbagai belahan dunia.

Menurut postingan di salah satu akun fanbase K-Pop, dapat dilihat perolehan streaming terbanyak ada pada negara Indonesia bahkan melebihi negara asalnya, hal itu membuktikan seberapa digemarinya fenomena K-Pop oleh generasi milenial di Indonesia.

Lalu apa sih yang biasanya seorang Kpopers lakukan selama masa pandemi saat ini? Ternyata pandemi gak selamanya berdampak negatif loh.

Seperti yang kita ketahui, dua tahun belakangan ini telah tersebar wabah Covid-19 yang mengharuskan kita selalu berada di rumah. 

Mulai dari bekerja, sekolah, hingga aktivitas perekonomian pun sempat terhenti karena diberlakukan PSBB sehingga mengharuskan kita melakukan segala aktivitas di rumah serta melakukan komunikasi melalui media online.

Isolasi sendiri berpotensi menyebabkan seseorang mengalami gangguan kesehatan mental. Hal itu biasanya dimulai saat mereka merasa bosan karena harus berlama-lama berada di rumah. Karena terlalu bosan, bosan itu nanti akan berkembang menjadi depresi serta gangguan kecemasan.

Sebagai seorang remaja yang pernah merasakan tekanan dari sekolah apalagi saat memasuki masa-masa ujian untuk masuk universitas, tentunya beban pikiran yang ditanggung juga berat. Mereka tentunya butuh sarana untuk melampiaskan stresnya. Namun di saat seperti ini, mereka harus melampiaskan ke mana? Tentu saja ke internet/media sosial.

Pada era globalisasi saat ini, penggunaan media sosial memiliki peranan yang sangat penting. Penggunaan media sosial yang dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, dapat mempermudah setiap orang dalam bersosialisasi dan berkomunikasi.

Karena kemudahan itulah biasanya kalangan milenial yang menyukai Korean Wave tidak terlalu ambil pusing, mereka dapat melampiaskan dengan memanfaatkan internet dan media sosial seperti mendengarkan musik, belajar bahasa Korea, menonton variety show dan drama Korea atau sekedar melihat konten-konten dari idol favorit mereka.

Dengan menonton acara-acara yang mereka senangi, akan timbul suasana hati senang yang dapat memicu hormon bahagia, seperti dopamine, serotonin, dan oksitoksin. Karena orang yang bahagia akan kebal terhadap virus sehingga mereka tidak mudah terserang penyakit sehingga dapat dikatakan kegiatan-kegiatan tersebut dapat meningkatkan imun tubuh.

Tapi kalian tau gak sih? Kpopers tidak hanya di rumah saja untuk menghabiskan waktu dan kuota internet secara sia-sia, mereka bisa memutar otak untuk mendapatkan uang hanya dengan dari rumah dan bermodalkan media sosial loh.

Salah satunya dari media Twitter. Twitter sendiri sudah booming sebelum adanya pandemi dan semakin banyak digunakan saat ini. Penggunaan media Twitter yang memiliki manfaat untuk diakses ke berbagai belahan dunia pun sekarang sudah banyak digunakan mulai untuk berbagi info, curhat, dan berjualan.

Dengan adanya media sosial twitter, fans K-Pop biasanya melakukan jual beli seperti jual beli photocard/PC, fashion, atau bahkan melakukan pre-order album dan official merchandise dari grub yang tengah melakukan comeback. Selain itu, twitter pun sekarang dapat menjadi sarana untuk berkarya melalui tulisan.

Saat ini sedang booming cerita AU atau Alternative Universe yang hampir mirip dengan wattpad. Mereka yang rata-rata Kpopers menyalurkan hobi menulis dan mengarang lewat AU dengan pemeran utamanya adalah idol favorite mereka.

Jika karyanya menarik, pasti akan banyak pembaca yang meretweet sehingga akan tersebar luas dan akan mengundang pihak publisher untuk membantu membuatkan versi novel. 

Jika beruntung, cerita dari AU di twitter pun bisa diangkat menjadi web series ataupun film seperti cerita Dikta & Hukum karya Dhia’an Farah atau Shaka Oh Shaka karya Jocelyn Suherman.

Namun tentu saja dalam penggunaan media sosial twitter tidak selamanya positif. Twitter sendiri merupakan platform media sosial yang paling banyak diadukan netizen ke Aduan Konten Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Hal itu karena jangkauan informasi yang begitu luas sehingga dapat diakses oleh siapa saja dan di mana saja.

Pemanfaatan media sosial di atas tentu saja harus ada batasannya, apalagi penggunaan media sosial tidak terbatas dan bisa diakses oleh siapa saja.

Media sosial dapat menjadi kawan kita karena pada saat pandemi ini dapat membantu mempermudah pekerjaan, tapi tak jarang juga media sosial yang begitu luas dapat menjadi lawan dikarenakan banyak pihak yang tidak bertanggung jawab dalam menyebarkan informasi

Maraknya kasus hacker, juga biasanya tontonan dari luar negeri terkadang mengandung unsur dewasa sehingga peran orang tua dibutuhkan untuk terus mengawasi anaknya yang masih di bawah umur agar tidak terbawa arus negatif media sosial.