“Kalau suka itu sewajarnya, jangan berlebihan.”

“Suka kok sama plastik!”

Begitulah kata-kata yang mungkin sering dilontarkan orang-orang kepada penggemar K-pop. Dulu, saya pun merasa kesal akan ucapan seperti itu. Bagaimana tidak, tanpa mereka sadari ucapan itu bagai busur panah yang bisa menusuk relung hati dan perasaan orang-orang tertentu.

Ketika kamu menyukai suatu hal namun ditentang bahkan diremehkan oleh orang terdekatmu sendiri, tentu kamu tidak terima dan akan berusaha membela diri, bukan? Nah, kurang lebih sama seperti yang saya lakukan.

Saya sendiri sudah mengenal dunia K-pop sejak kelas 4 SD, namun belum terlalu mengikuti dan hanya sekedar suka. Kegilaan saya akan Kpop mulai memuncak sejak kelas 9 SMP, sampai sekarang pun masih sebenarnya. Kadang jika sudah larut dalam dunia K-Pop bisa sampai lupa waktu dan melupakan tugas belajar.

Pikiran saya saat itu, selama saya senang dan mendapat hiburan di tengah suntuknya belajar, tak ada salahnya menjadikan K-pop sebagai pelarian. Ibaratnya hanya menikmati rasa manisnya, tanpa menyadari akan ada getir pahit di akhir. 

Setelah menerima banyak teguran dari ibu, lama-lama kelimat beliau mulai merasuk dalam pikiran dan membuat saya sadar, “Mengidolakan boleh, tapi jangan berlebihan, Nduk. Nanti kecanduan. ”kata beliau.

Syukurlah selama ini saya tak pernah sampai merengek minta dibelikan album dan pernak-pernik K-pop, ya sadar diri saja bahwa kami berasal dari kalangan menengah. Lebih baik digunakan untuk hal yang lebih penting. 

Kadang saya berpikir, bagaimana ya caranya supaya tidak fanatik pada K-pop? Apa gunanya rela melakukan segala hal demi idola, namun nyatanya dia tidak mengenal kita? Itulah dunia K-pop, kamu akan menemukan seribu jalan masuk, namun susah mencari jalan keluar untuk lari darinya.

Kita tahu bahwa pengaruh Korean wave/hallyu sudah banyak menjamur di kalangan remaja dunia. Korean wave/hallyu sendiri adalah istilah yang digunakan untuk tersebarnya budaya pop Korea Selatan secara global di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. 

Musik K-Pop yang ditawarkan tak hanya dari boyband atau girlband tetapi juga dari arti solois.  Bagi seorang K-popers, musik dari sang idola yang biasa mereka dengarkan seakan memberi amunisi dan kekuatan untuk selalu bersemangat dalam menjalankan aktivitas.

Saya sebagai salah satu penikmat musik K-pop akan memberi sedikit alasan mengapa K-pop menjadi favorit dan disukai banyak remaja, karena musik ini memang memiliki keunikan dan ciri khasnya sendiri, dengan musik beat dan tarian yang energik. 

Selain itu, idol K-pop sendiri bisa dijadikan inspirasi dan motivasi karena kegigihan mereka dalam berjuang hingga bisa menjadi idol yang sukses dan banyak penggemar. Lagu-lagu yang mereka tawarkan juga sarat akan makna, dan nasihat.

Misalnya,  lagu Answer : Love Myself dan Mikrokosmos, dari BTS yang mengajarkan kita untuk mencintai diri sendiri tanpa mempedulikan ucapan orang lain tentang diri kita. Tak heran jika banyak muda-mudi yang begitu menyukai musik K-pop dan menjadikannya sebagai pelarian dan penghibur di kala menghadapi rumitnya masalah kehidupan. Ditambah visual para idol K-pop yang tampan dan cantik menjadikan remaja semakin enggan untuk meninggalkannya.

Namun, bagaimana jadinya jika rasa suka itu sampai melebihi batas, hingga lupa akan realita kehidupan nyata? Sebagian penggemar K-pop mungkin lupa akan batasan diri, mereka menganggap K-pop sebagai hobby.  Tanpa sadar rasa suka  yang tanpa batas hanya akan berkembang menjadi ambisi.  

Berangkat dari sikap itu, bisa melahirkan sikap  konsumtif dan hedonis, karena ada  keinginan untuk datang ke konser, membeli album, lighstick, foto, hingga pernak-pernik lain yang kalau saya pikir pada akhirnya akan minim guna dan hanya dijadikan pajangan semata.

Sebenarnya tak masalah apabila masih dalam batas wajar, sebagai bukti dukungan pada sang idola. Namun, apabila dibarengi dengan sifat fanatisme hingga rela mengeluarkan uang dengan nominal banyak demi mengikuti sang idola, itu yang tak wajar. 

Saya sendiri pun salah satu penikmat musik K-Pop, tetapi untuk mengeluarkan uang demi hal semacam itu, masih pikir-pikir. Menurut saya, bukankah lebih baik ditabung untuk keperluan pendidikan dan bantuan untuk kegiatan sosial?

Sikap fanatisme tak baik jika dipupuk dan terus dipelihara, dia akan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri. Sikap ini akan banyak memberikan dampak negatif bagi diri remaja, selain konsumtif dan hedonis juga menyebabkan kita lupa waktu dan malas belajar. 

Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar, justru digunakan untuk menonton video idol K-pop. Hal ini akan berpengaruh pada prestasi belajar remaja, bagus kalau dapat membatasi diri tetapi kalau tidak? Diri sendirilah yang akan rugi. Coba kasihanilah orang tua yang sudah membiayai pendidikan kita.

Sikap fanatisme pada K-pop, juga berpengaruh pada kejiwaan remaja. Sifat suka yang terlalu menggebu membuat remaja seperti mempunyai dunia sendiri, sering membayangkan jika idol K-pop kesukaan adalah pacar, suami, kembaran, dan sebagainya. 

Baca Juga: Virus K-Pop

Remaja akan sering melamun bahkan senyum-senyum sendiri melihat idolanya di layar Hp, masih mending jika berada di rumah namun bagaimana jika lupa sedang berada di tempat umum? Pasti akan jadi pusat perhatian banyak orang.

Sifat fanatisme yang besar dapat berkembang menjadi dunia halusinasi di dalam pikiran remaja yang membuat mereka terlena dan lupa realita dunia nyata. Jika dibiarkan akan membawa dampak buruk bagi kondisi psikis dan kejiwaan remaja. Cara yang bisa dilakukan hanyalah harus mampu mengontrol  batasan diri.

Sibukkan dirimu dengan kegiatan bermanfaat dan menunjang bakat, seperti berolahraga, menulis, menggambar, membantu orang tua, dan jangan lupa pada kewajiban belajar. Buat target dan janji pada diri sendiri agar tidak terlalu candu pada K-Pop, misalnya saja, “saya boleh nonton video idol K-Pop, kalau sudah mengerjakan tugas kimia dasar.” 

Awalnya mungkin tak mudah, tapi coba lakukan secara perlahan, penuh komitmen, dan konsisten. Percayalah, jika suatu saat nanti kamu sudah menemukan kesibukan diri, maka lambat laun kamu akan melupakan rasa candu pada K-pop yang menggebu itu.

Sebenarnya boleh saja menyukai hal-hal yang berbau KPOP, tak ada larangan akan hal itu, karena sudah menjadi hak asasi setiap orang untuk menentukan pilihannya. Akan tetapi, perlu dibarengi dengan sikap mawas diri, filtrasi pengaruh-pengaruh yang ada, kontrol diri, dan tahu batasan yang ada. 

Jangan sampai kita terjerumus dan masuk ke lubang hitam sifat fanatisme, sebab bukan sisi positif yang didapat jusru sisi negatif yang akan menjerat.