Sejauh ini, saya masih berbaik hati menyimpulkan bahwa Komisi Penyiaran Indonesia tampaknya masih belum memahami definisi dari makna Public Figure yang sesungguhnya.

Kenapa? Berbagai alasan dan berbagai sudut pandang telah diutarakan oleh sederet tokoh publik, laki-laki dan perempuan bahkan petisi yang sudah ditanda tangani oleh Lima ratus ribu orang lebih masyarakat Indonesia masih belum menggerekkan "Mereka" untuk memboikot Saipul Jamil yang baru saja bebas dari tahanan atas kasus "Pelecahan seksual" secepatnya.

Februari 2016 silam telah mencatat sebuah kasus asusila yang menyeret salah seorang Public figure di Negara kita. Tidak tanggung-tanggung kasus ini mencatat bahwa "Pria-lah" yang telah menjadi korbannya.

Saya akan menggaris bawahi lebih dulu, ini adalah suatu tindakan yang salah besar. Bahkan jika saya tidak menyentuh persoalan agama pun pada kasus ini, dalam dunia medis kejadian seperti ini sangat-sangat membahayakan, begitu pula dalam dunia psikologis!

Lantas yang terjadi sekarang? Pasca keluarnya pelaku asusila tersebut dari tahanan, sambutan yang luar biasa dari para fans justru membakar emosi sederet Public figure yang lain terlebih masyarakat +62.

Ernest Prakasa misalnya. Melirik apa yang ditulis oleh lelaki tersebut pada akun sosial media yang dengan gamblang menyampaikan bahwa,

"Bau busuk apa yang menyengat ini? Oh, ternyata bau bangkai dari matinya nurani stasiun TV yang memperlakukan mantan napi pelecehan seksual sebagai pahlawan."

Penyampaian bergaya sentimentil itu seolah geram dan tidak sabar menunggu atas pasifnya KPI sekarang.

Bukan hanya Ernest Prakasa, Najwa Shihab, sosok perempuan yang tak kalah sentimentil dalam setiap topik yang tengah dibicarakannya turut berucap tak kalah geram di salah satu akun sosial media bahwa,

"Perilaku ini lama kelamaan bisa menjadi 'Pemakluman' atas kekerasaan seksual terhadap dua remaja yang menjadi korbannya."

Masih dengan Public figure bergaya sama, Deddy Corbuzier pun turut bersuara di salah satu akun sosial medianya dan mengatakan bahwa,

"Kenapa KPI diam saja Saipul Jamil euphoria sedangkan rakyat pada protes.. Ya iyalah, karena KPI sendiri ternyata.. Ah sudahlah."

Beranjak dari tokoh-tokoh publik bergaya sentimentil, tokoh publik lainnya seperti Cinta Laura juga turut bersuara. Penyampaian dari hati ke hati ini lebih terpusat kepada sisi manusiawi sehingga di salah satu podcast youtuber, perempuan tersebut berkata,

"Pelakunya diglorifikasi sedangkan korbannya dibiarkan hidup dengan trauma. Setiap hari harus melihat wujud orang yang telah menyakiti, melukainya secara fisik, batin, mental dan emosional."

Kemudian yang tak kalah menarik simpati publik, film anak dengan judul Nussa dan Keluarga Cemara telah menarik kerja sama dengan stasiun televisi yang memunculkan sosok Saipul Jamil karena hal tersebut dianggap bertentangan dengan film mereka yang "Ramah anak."

Dan yang paling  menggelegar dari setiap aksi tentunya merupakan aksi yang bersumber dari masyarakat Indonesia, "Petisi boikot Saipul Jamil dari layar kaca" ini bahkan sudah tembus Lima ratus ribu tanda tangan.

KPI masih belum paham juga kah?

Baik kalau begitu, dari sudut pandang literasi di sini saya sebagai seseorang yang berkecimpung dalam dunia sastra akan membukakan Kamus Besar Bahasa Indonesia khusus untuk anda agar lebih mampu dalam mehami diksi.

Menurut KBBI, Public artinya adalah umum. Orang banyak, orang yang menonton, orang yang mengunjungi, orang yang mengamati dan orang yang mengikuti.

Sedang Figure artinya adalah tokoh. Peran yang menjadi pusat perhatian orang banyak. 

Sekarang saya akan bantu untuk mendefinisikan terkait Public figure ini dengan lebih rapi, manis dan mudah dipahami.

Public figure adalah, tokoh masyarakat, yang ditonton, yang dilihat, yang diamati dan ditiru oleh orang banyak.

Sampai di sini anda paham KPI? Harapan saya sederhana, anda paham mana Public figure yang masih layak untuk ditayangkan di layar kaca, dan mana "Public figure" yang sudah tidak diinginkan lagi keberadaannya, itu saja!

Kemudian yang tidak kalah " Apa-apaan" muncul sebuah perbandingan, 

"Lantas bagaimana dengan Ariel Noah? Bukankah juga disambut dengan euphoria oleh para fansnya?"

Baik, saya tidak akan membenarkan apa yang dilakukan oleh Ariel kala itu. Saya sama sekali tidak membenarkan, tapi apa yang dilakukan oleh Ariel dan "Rekannya" dalam kasus tersebut murni atas dasar sama-sama mau dan sama-sama suka. Bukan dengan unsur pemaksaan! 

Yang terjadi antara Ariel dan "Rekannya" itu adalah proses "Menulis dengan pulpen di atas kertas, bukan pulpen dengan pulpen." Sampai di sini KPI masih belum paham kah? 

Kerusakan mental yang terjadi pada kasus "Sama-sama suka" dan kasus "Pemaksaan" jelas sangat berbeda. Ada luka yang benar-benar tidak ingin dibuka lagi oleh para korban ketika melihat, atau pun sekedar mendengar nama pelaku yang telah menghancurkan mental mereka. 

Dan untuk pelaku sendiri, ganggun apa yang anda derita sehingga begitu bangganya muncul dan bersorak-sorai di hadapan khalayak ramai? Anda benar-benar seperti seseorang yang tidak punya malu, seperti itulah anda dalam sudut pandang masyarakat Indonesia.

Sebagai penutup, saya adalah satu dari sekian masyarakat Indonesia yang juga tidak memberikan izin munculnya kembali Saiful Jamil di layar kaca. Setidaknya, bukan dalam waktu dekat, bahkan trauma korban pun saya rasa masih belum pulih dalam Lima tahun terakhir. Jadi KPI, harap berbijaksanalah.