Para buruh, petani bahkan guru honorer dengan disiplin berangkat kerja meski masih pagi hari dengan segala aturan yang membatasi mereka dalam bekerja sesuai arahan pemilik modal dan kemudian pulang kerumah masing-masing saat sore menjelang. Mereka semua sadar timbal balik atas apa yang mereka lakukan dibayar murah, dan seringkali tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari yang disebabkan oleh naik-turunnya harga kebutuhan yang cenderung dinamis(berubah-ubah).

Bahkan ketetapan pembayaran seringkali tidak sesuai dengan aturan yang berlaku, karena banyaknya pemilik modal yang mencari keuntungan dengan sebanyak-banyaknya tanpa peduli dengan nasib pekerjanya yang bersusah payah dengan segenap tenaga. Aturan-aturan tersebut bisa di manipulasi dengan tangan kanan para pemilik modal yang seperti benalu di pepohonan.

Ketidaktahuan para pekerja dalam aturan-aturan yang berlaku di tempat kerja dimanfaatkan sebaik mungkin oleh pemilik modal dengan menerapkan sistem lembur dan kontrak harian tanpa adanya kepastian jangka panjang. Maka dari itu pekerja juga enggan untuk mempermasalahkan hal-hal yang merugikan mereka karena takut diberhentikan atau dipecat.

Bahkan seringkali para pekerja yang tergabung dalam beberapa elemen buruh, petani dan guru honorer melakukan unjuk rasa, namun bukannya hak-hak mereka dalam bekerja dipenuhi malah dalam beberapa tragedi para pekerja di pecat dengan tidak terhormat. Meski beberapa pihak pekerja mendapatkan pesangon bahkan tidak jarang beberapa pekerja tidak mendapatkan pesangon.

Hubungan antara pemilik modal juga merupakan suatu ancaman yang pasti, dikarenakan seringkali para pemilik modal bekerja sama dalam satu sama lain. Misalnya saat ada unjuk rasa, maka pemilik modal akan menghubungi koleganya bahwa agar tidak menerima para pekerja yang berunjuk rasa.

Hal demikian merupakan akibat penerapan sistem ekonomi berlandaskan kapitalisme. Memang dalam sistem kapitalisme sendiri memiliki asas-asas yang membangun, namun di sisi lain malah memperlebar jurang kesenjangan, karena kapitalisme memiliki asas kompetisi bahwa yang menang akan menjadi pemenang, sedangkan yang kalah akan kalah sekalah-kalahnya.

Tidak heran jika banyak pihak memakai sistem kapitalisme dalam berbisnis dengan harapan mampu mengumpulkan pundi-pundi kekayaan meski dengan menghalalkan segala cara. Padahal di sisi lain banyak pihak hanya bekerja sesuai kapasitas seadanya yang membuat mereka mau tidak mau harus mengikuti pihak-pihak yang mempraktekkan kapitalisme dalam keseharian.

Maka dari itu, kapitalisme secara tidak langsung menggeser kodrat manusia sebagai makhluk sosial yang acapkali tercermin seperti contoh pemilik modal yang bersikap maupun bertindak secara individualistis dalam membuat aturan yang menguntungkan dirinya sendiri, bukan secara komunal.

Perlu adanya terobosan baru dalam ekonomi politik saat ini, sehingga tidak merugikan pihak manapun, baik pihak yang digdaya maupun pihak yang tidak berdaya.

Kapitalisme juga menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah dan sulit untuk diperbaiki, seperti pembangunan pabrik-pabrik tanpa adanya sistem pembuangan limbah baik limbah padat maupun limbah cair. Dalam hal ini tentu masyarakat sekitar yang merasakan dampaknya secara langsung terhadap kesehatan fisik.

Meski begitu, para pemilik modal memiliki 1001 cara untuk meredam permasalahan tersebut, salah satu cara yang paling mudah ialah terjun langsung ke dunia politik. Dengan terjun ke dunia politik, mereka dapat mengatur siasat bagaimana agar masyarakat tetap diam dan tidak mengusik.

Dalam dunia pendidikan pun mengalami hal yang serupa, yaitu ketika adanya guru honorer yang dikontrak dengan upah rendah dan batas kerja yang padat dan tentu hal itu diimbangi dengan apresiasi yang cukup. Bahkan terkesan guru honorer sebagai ajang pemanfaatan guru-guru muda yang baru saja lulus kuliah. Jelas bahwa senioritas terlihat di dalamnya, dan hal ini akan dibahas lebih panjang di tulisan berikutnya.

Kemudian tentang petani yang mulai menjual lahan pertanian dikarenakan hasil panen yang tidak menutupi biaya pengelolaan lahan pertanian. Ada beberapa sebab yang masih memiliki unsur kapitalisme di dalamnya seperti monopoli perdagangan yang di kuasai oleh cukong, bahkan kebijakan pemerintah yang cenderung memberatkan para petani seperti impor beras meskipun stok beras masih melimpah, yang membuat harga beras turun secara drastis.

Dan hal-hal diatas sudah lumrah terjadi, dimana di satu sisi ada yang berbahagia atas apa yang bisa ia pamerkan, di lain sisi ada yang bersedih karena harus menahan lapar yang ke sekian kalinya. Bahkan dalam hal ini, cukup menimbulkan polemik yang sangat universal. Maka dari itu, dalam hal ini sekiranya pembaca mampu menilai dengan kesehatan akal dan kejernihan hati dalam berkehidupan, sehingga tidak dirugikan maupun merugikan.

Kapitalisme sebagai ideologi ekonomi-politik memang memiliki pengaruh yang signifikan saat ini, sehingga membuat nilai-nilai sosial menurun sedangkan nilai-nilai individual meningkat dan menguat seiring ideologi ini dipakai dalam keseharian.

Dan oleh sebab itu, konstruks sosial yang semakin kompleks menciptakan tatanan masyarakat yang semakin kompleks, dan kapitalisme berperan dalam hal ini. Tulisan ini bukanlah propaganda anti kapitalisme, melainkan tentang bagaimana kapitalisme berbenturan dengan nilai-nilai kemanusiaan.