Bagaimana harus aku jelaskan soal hal ini. Pikirku, dia pasti marah padaku. Ah, bodohlah, toh juga bukan aku yang salah. Mereka-mereka itulah yang salah. Toh mereka tidak punya alasan untuk menggeledah bagasi motorku.

"Buka. Buka depe1 bagasi," ujar salah seorang dari mereka terhadapku dan teman-temanku.

Aku mulai tak karuan. Kunci motor 'ku sembunyikan di tempat paling aman. Di mana hak privasi kita masih dihargai. Di kantong celanaku.

"Alah, ngana2 yang sembunyikan itu kunci to?" Tanya mereka.

Ingin kujawab pada mereka itu yang berbajukan dari uangku, bersepatukan dari uangku bahwa, emang kenapa kalo kuncinya ada padaku. Toh bukan uangmu yang aku pakai untuk beli motor itu.

Sementara aku mencoba merogoh sana sini di kantong, menunda-nunda penahanan itu, mereka memeriksa motor rekanku yang lain.

"Mana depe SIM dan STNK ?" Sambil mengulurkan tangan pada salah satu rekanku.

"Pak, saya pe3 dompet jatuh. Jadi, semua depe isi di dalam termasuk SIM dan STNK bahkan KTP itu hilang,"

"Jadi ngana ini tidak punya nama ?"

"Aduh pak, bukan begitu," gaung rekanku itu.

Ingin rasanya aku ikut dalam percakapan mereka dan berkata, wahai tuan-tuan rekan saya itu dilahirkan oleh orang tuanya, bahkan Tuhan telah menghendaki kehadirannya di dunia ini. Tapi kenapa? Kenapa kalian-kalian ini mengatakan hal yang demikian?

"Ini dia yang belum diperiksa. Cepat buka depe bagasi," telunjuk tuan berbaju dinas itu mengarah ke motorku.

"Mana yang punya ?,"

"Itu dia," ia menunjukku.

"Tunggu sabar, pak. Saya cari dulu saya pe kunci," ujarku pelan.

"Hadeuh, sembunyi saja ngana pe kunci itu. Bawa pulang jo4 di rumah,"

Brakk! Helm ku terjatuh dari tenggeran kaca spion.

"Banting saja ngana pe helm itu sampe rusak. Ngana pikir torang5 peduli kalo ngana marah ?"

Ingin kujawab tuan itu bahwa, helm itu jatuh karena ketidak sengajaan. Tapi aku redam rasa amarah yang ingin mencuat keluar dari gowa mulut ini.

Akhirnya, aku menyerah pada tuan-tuan berbaju dinas cokelat itu. Aku merogoh kunci dari kantongku, kubuka bagasi motor itu.

Klik! Bagasi terbuka. Isinya sebuah kunci pas ukuran 12 dan 10, obeng bunga, obeng plat, kanebo yang sering kugunakan sehabis cuci motor dan sebuah kotak nasi yang berisi makanan kusiapkan untuk kusantap nanti.

"Periksa semua depe isi bagasi itu!"

"Toduwolo6," sahutku.

Ku rogoh dengan cepat kotak nasi itu. Takut akan di apa-apakan oleh mereka. Firasatku berkata bahwa, mereka akan memeriksa juga kotak nasi ini.

"Periksa depe kotak nasi itu!"

Setelah memeriksa perlengkapan yang ada di dalam bagasi motorku, mereka memeriksa kotak makan itu. Hatiku sungguh sedih. Melihat perlakuan mereka yang sangat tak masuk akal. Mencurigai sana sini. Bahkan kotak nasi yang kubuat, kusiapkan untuk disantap nanti itu ikut diperiksa.

Pria berambut gondrong, memakai topi lengkap dengan masker itu membuka kotak nasi milikku itu. Tutupnya dibuka. Mencuatlah nasi dan ikan di dalamnya.  

"Bagaimana, pak. Silahkan makan," ujarku sedikit geram.

Jujur saja, di sore itu aku tidak marah saat mereka menggeledah kotak nasi itu. Namun yang membuat ku marah ketika mereka, tuan-tuan yang jumlahnya lebih banyak dari aku dan teman-temanku itu telah mengambil hak kami. Hak untuk tidak mengijinkan siapapun untuk menggeledah isi bagasi motor kami.

Apakah sudah begini jadinya bangsa ini ? Kotak nasi saja harus dicurigai ?

Oh wahai tuan-tuan sekalian. Sesungguhnya benar yang dikatakan tokoh panutanku bapak proklamator Soekarno. "Kita tidak bodoh, tapi dibodohkan. Kita tidak miskin, tapi dimiskinkan oleh sebuah sistem".

Sistem itulah para tuan-tuan yang berseragam lengkap dengan sebuah pucuk senjata yang diikatkan di pinggangnya itu. Merekalah salah satu dari bagian dari sistem yang membodohi dan memiskinkan. Mungkin.

Aku jadi teringat dengan kisah dari sebuah film yang berjudul “Istirahatlah kata-kata”. Film yang berkisah tentang pelarian Wiji Thukul. Wiji Thukul berterimakasih kepada para aparat yang menggeledah rumahnya dengan cara yang kasar. Ia berterimakasih karena mereka telah mengajarkan tentang gambaran para penegak hukum di negeri ini.

Begitulah kira-kira dengan diriku. Aku tersadar dengan kenyataan yang ada di depan mataku. Sejak kecil hingga dewasa diajarkan tentang para mereka tuan-tuan penegak kebenaran yang berwibawa, berkarisma dan jadi panutan itu memperlakukan aku dan teman-temanku sedemikian itu.

“Bawa dorangpe motor ke kantor,”

Sebuah mobil besi yang biasa mengangkut motor-motor yang melanggar aturan itu telah tiba. Satu persatu motor kami pun diangkut semua. Dan akhirnya, aku harus menyerahkan motor kesayangan itu pada tuan-tuan itu. Si kuda besi yang memudahkan langkah kaki ini untuk berjalan jauh tanpa mengeluarkan banyak tenaga. Si dia yang kusayangi, kurawat dan kubersihkan bagai diri sendiri, bahkan dengan uang sendiri.

Ah, sudahlah. Aku sudah banyak nyerocos sana sini. Toh juga yang kubicarakan hanya sebatas kotak nasi itu. Dan kepada kuda besi kesayanganku itu, semoga engkau tak merasa kesepian saat jauh dariku.

Catatan

[1] Arti kata bahasa Gorontalo “Dia Punya”

[2] Arti kata bahasa Gorontalo “Kamu”

[3] Arti kata bahasa Gorontalo “Punya”

[4] Menunjukan imbuhan belakang dari bahasa Gorontalo

[5] Arti kata bahasa Gorontalo “Kita”

[6] Arti kata bahasa Gorontalo “Silahkan”

[7] Arti kata bahasa Gorontalo “Mereka” atau “Dia orang”