Sejak awal tahun 1980-an, pariwisata budaya telah diakui secara terpisah. Reisinger (1994) mendefinisikan pariwisata budaya sebagai bentuk minat khusus dalam partisipasi mencari pengalaman budaya. 

Budaya dapat diartikan sebagai kebiasaan yang diwariskan, sesuatu yang khas, sulit diubah, dan diperoleh dari proses belajar. Budaya tidak terlepas dari kebudayaan yang merupakan wujud cipta, rasa, dan karsa manusia. Namun, pariwisata budaya sendiri belum ada satu definisi pasti yang diterima secara universal.

Perkembangan pariwisata di masa sekarang salah satunya dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Era digital tidak terlepas dari adanya teknologi seperti internet dan media sosial. Era ini juga dapat dikatakan sebagai era ‘disrupsi’ yang tidak terlepas dari smartphone, internet, millennials, murah, dan terdapat petualangan. 

Pada masa ini, penyebaran informasi menjadi lebih mudah dan komunikasi terasa lebih dekat. Pariwisata di era digital membentuk networked travel yaitu orang-orang yang sedang berwisata saling berhubungan dan juga dapat membentuk pandangan seseorang terhadap suatu destinasi.

            Kotagede

Kotagede adalah daerah di Kota Yogyakarta yang terkenal dengan kerajinan peraknya. Selain itu, Kotagede merupakan salah satu daerah yang terkenal di kalangan wisatawan lokal maupun mancanegara. 

Kotagede dapat dikatakan sebagai undesigned museum karena menyimpan sejarah yang erat dengan masa Kesultanan Yogyakarta. Dulunya, Kotagede merupakan ibukota dari Kerajaan Mataram Islam. Daerah ini dapat dikategorikan sebagai daerah yang paling kental akan kebudayaan dan sejarahnya.

Selain kerajinan peraknya yang terkenal, sesungguhnya Kotagede memiliki banyak keunikan. Pertama, banyak atraksi wisata budaya yang dengan mudah ditemukan di Kotagede. Atraksi yang paling menonjolkan sejarah dan kebudayaan di Kotagede yaitu Masjid Gede Mataram. Masjid Gede Mataram dibangun pada waktu pemerintahan Ki Ageng Pamanahan tahun 1587. 

Hal yang menarik dari masjid ini terletak pada gaya arsitekturnya. Bangunan masjid yang menyerupai pura merupakan hasil dari akulturasi antara kebudayaan Islam dan Hindu. Bagian belakang halaman masjid terdapat makam para raja-raja dan keluarga Mataram. 

Saat bukan waktu ibadah, wisatawan yang datang banyak mengambil gambar di area masjid, khususnya pada gapura, gerbang, maupun bangunan-bangunan yang bernuansa hindu. Atmosfer yang dihasilkan dari gambar pun terlihat seperti sedang berada di Bali, bukan Yogyakarta.

Kotagede juga memiliki pasar tradisional yang berdasarkan Google, memiliki ulasan terbanyak kedua setelah Pasar Beringharjo. Pasar yang bernama Pasar Legi Kotagede itu juga sudah ada sejak masa kerajaan Mataram Islam. 

Ciri khas dari pasar ini adalah jajanan yang tradisional dan tidak sering ditemui di pasar lain. Jajanan yang menjadi khas di pasar ini antara lain kipo, kue kembang waru, atau grontol. Selain itu, yang membedakan dari pasar lain yakni jam operasionalnya yang buka hampir selama 24 jam.

Untuk menjelajahi daerah Kotagede, wisatawan dapat memulai dari Pasar Kotagede dan memarkir kendaraan di lahan parkir yang sudah disediakan. Setelah itu, menelusuri pasar terlebih dahulu dan menikmati jajanan yang ditawarkan. 

Selanjutnya, dapat dengan berjalan kaki menelusuri jalanan, hingga bertemu dengan Masjid Gede Mataram. Untuk rangkaian perjalanan, wisatawan dapat menentukan sendiri ingin mengeksplorasi kawasan bagian mana.

Perkampungan di sekitar Kotagede memiliki variasi atraksi yang beragam. Dengan karakter explorer wisatawan dapat menelusuri gang-gang kecil yang ada di perkampungan ini. Warga lokal juga sudah sadar atas perkembangan pariwisata di daerah ini, maka masyarakat telah terbuka dengan kedatangan wisatawan. Mereka pun memberi petunjuk jalan yang mengarahkan ke jalan besar untuk mengantisipasi wisatawan tersesat.


Apabila menelusuri perkampungan ini, wisatawan akan menemukan rumah-rumah warga yang memiliki gaya lama yang unik. Arsitektur bangunan-bangunan di sekitar pun hampir mirip satu sama lain. 

Salah satu contoh bangunan yang unik yaitu rumah-rumah yang dibangun dalam satu klaster dengan satu pintu gerbang yang disebut perumahan Between Two Gates. Rumah-rumah yang ada di sana mirip rumah joglo serta khas arsitekur Jawa tempo dulu.

Pada beberapa gang juga terdapat atraksi seperti Omah UGM, yang merupakan Pusat Pergerakan Pelesartarian yang juga berbentuk joglo dengan furnitur jadul Jawa. Kemudian terdapat Rumah Rudi Pesik yang merupakan guest house sekaligus terdapat museum barang antik, kafe, dan spot-spot foto. Bangunannya berwarna hijau dan mencolok di antara bangunan-bangunan di gang sempit itu. 

Tidak jauh dari Rudi Pesik, terdapat Langgar Dhuwur yakni mushola keluarga yang diwariskan. Kemudian salah satu yang sedang viral di media sosial yaitu rumah yang bertema rustic, pada bagian pintu tua dan dedaunan hijau yang menyelimuti tembok-tembok sebelahnya.

Mengelilingi daerah Kotagede mungkin dapat memakan waktu berjam-jam karena meskipun antar atraksinya berdekatan, tetapi langkah perjalanan pasti akan sering terhenti di salah satu spot yang tidak direncanakan. Terkenalnya daerah ini di kalangan wisatawan tidak lepas dari adanya media sosial. Misalnya di Instagram, dalam tagar ‘kotagede’ terdapat 126 ribu unggahan. 

Kemudian hal sama yang ditemukan pada tiap unggahan yaitu foto diri wisatawan dengan latar spot-spot atraksi seperti yang disampaikan di atas. Pada saat mengunjungi Kotagede, memang terlihat banyak wisatawan yang berkunjung memiliki motivasi utama yaitu hunting foto. 

Foto-foto yang diunggah ke digital inilah yang menarik para wisatawan untuk mengunjungi Kotagede. Fenomena ini yang kemudian mendorong pemilik rumah yang sering dijadikan spot foto tersebut membuat peraturan agar pengambilan gambar hanya dapat dilakukan hingga sebelum magrib.

Hal yang paling diminati oleh wisatawan terhadap Kotagede yakni mengenai bangunan maupun gaya yang vintage, aesthetic, dan Instagram-able. Budaya wisatawan dapat dilihat dari perilaku mengambil gambar wisatawan yang didominasi oleh gambar diri dengan latar belakang destinasi, membuat wisatawan tersebut justru menjadi objek, bukan lagi fokus terhadap destinasi. 

Teknologi juga mempengaruhi pandangan atau motivasi wisatawan terhadap suatu destinasi. Misalnya, Kotagede yang seharusnya membentuk motivasi wisatawan untuk edukasi budaya dan sejarah, tetapi kemudian beganti menjadi motivasi selfie atau photo hunting. Dari sini dapat diketahui bahwa era digital mempengaruhi pengelolaan dan perilaku wisatawan pada pariwisata budaya.

Referensi

  • Chen, Han & Rahman, Imran. 2018. “Cultural tourism: An analysis of engagement, cultural contact, memorable tourism experience and destination loyalty”. Tourism Management Perspectives: 153-163.
  • Dinhopl, Anja & Gretzel, Ulrike. 2015. “­Selfie-taking as touristic looking”. Annals of Tourism Research: 126-139.
  • Tourism Theory (Concepts, models, and systems) Gui Lohmann & Alexandre Panosso Netto