Lecturer
2 tahun lalu · 1560 view · 3 min baca menit baca · Budaya img-20161020-wa0008.jpg
(Foto: Neng Dara Affiah)

Kota Tuhan dan Kota Manusia

Kesaksian dan Catatan Perjalanan

Pernahkah Anda merasakan suasana batin serasa 'surga' di bumi? Saya pernah. Beberapa hari lalu (1-8/10/2016), saya mengunjungi pusat spritual, Brahma Kumaris, di Mount Abu (Rajasthan), Ahmadebad, India.

Di tempat ini,  saya merasakan hadirnya 'cahaya Tuhan' yang menimbulkan rasa tenang, damai dan kesejukan dalam hakikat yang sebenarnya.

Kedamaian tercermin pada wajah orang-orang yang berdedikasi melayani dengan kesantunan sikap dan senyum tulus yang selalu tersungging. Senyum yang membedakan dengan para pelayan di mal-mal dengan tujuan komoditas. Pelayanan optimal disuguhkan kepada para tamu yang berkunjung dengan tidak melihat latar belakang negara, etnisitas dan kelas sosial masyarakat.

Komersialitas dan komoditas yang didewakan di era kapitalisme sekarang ini agaknya tak berlaku di sini. Kami para pengunjung tak dipungut bayaran sedolar pun, meski kami menghabiskan waktu tujuh hari dengan pengalaman yang saya alami tinggal sekamar sendiri, makan tiga kali, pakaian kotor seminggu disediakan laundry. Meski akomodasi cukup dibilang sederhana.

Setiap hari kami berangkat ke Meditation Hall, hanya untuk bermeditasi. Menunduk, diam, hening, menahan banyak bicara, mengenali dan introspeksi diri. Sesekali diselingi alunan seruling yang menyentuh hati, mengingatkan saya pada puisi-puisi Jalaluddin Rumi.

Beberapa sessi ceramah disampaikan para pembimbing senior. Misalnya, tentang perlunya kebersihan diri, lingkungan dan kebersihan hati (cleanliness), kerja sama (cooperation), keteguhan (courage), keimanan, kebahagiaan, cinta (love) kerendahan hati (humility) dan lainnya.

****

Suasana pusat spritual Brahma Kumaris ini mengingatkan saya pada tulisan Santo Agustinus (354 -430 M) dari Hippo (sekarang Annaba, aljazair), seorang filsuf dan teolog Kristen awal yang menulis tentang The City of God (Kota Allah).

The City of God (Kota Tuhan) dilukiskan oleh Santo Agustinus sebagai kota yang para penduduknya hanya memiliki keterikatan pada Yang Ilahi dan dijelmakan melalui cinta kasih kepada sesama manusia. Cinta kasih tercermin dengan meletakkan kedamaian dan keadilan sebagai tujuan, dua kebajikan luhur yang diidamkan secara universal.‎

Meski perdamaian menjadi ciri dari Kota-Tuhannya Santo Agustinus, tidak berarti ia mengingkari konflik atau peperangan. Perang, tulis Agustinus, boleh saja dilakukan atas otoritas penguasa sepanjang ia merupakan langkah terakhir karena bertahan terhadap serangan lawan,  melindungi rakyat dan muaranya adalah perdamaian. Peperangan pun harus dilandasi sikap cinta kasih dan ketenangan.

Kota Tuhan yang dilukiskan oleh Agustinus ini lebih bersifat spritual. Bukan dibentuk penguasa berdasar kontrak politik tertentu. Ia dibuat oleh tokoh suci yang ingin menghadirkan Tuhan di bumi. ‎Para penghuninya mendedikasikan diri pada nilai-nilai luhur Ketuhanan yang tercermin pada kebajikan kemanusiaan.  Wujud Kota Tuhan dalam pandangan Santo Agustinus pada masa itu adalah Kota Yerusalem Baru.

Di dalam Kota Tuhan, peraturan dan hukum dilaksanakan atas dasar kesadaran untuk mencapai kebaikan bersama. Menurut Profesor Deepal Lal, visi Agustinus tentang Kota Surgawi ini mempengaruhi arsitektur dan lanskap proyek-proyek sekuler di Eropa abad pencerahan.

Bagi umat Islam, gambaran Kota Tuhan adalah Kota Madinah. Kota ini diberi nama oleh Nabi Muhammad al-Madinah al-Munawwaroh, yakni kota yang bercahaya. Suatu kota yang penduduknya memiliki keadaban tinggi nan penuh toleransi  yang bersinarkan cahaya Tuhan.

Kota ini merupakan kota idaman Nabi tempat ia mengembangkan ajaran Islam hingga meninggal dan dimakamkannya di sana. Ia juga menjadi pusat kepemimpinan tiga khalifah terbaik penerus Nabi, yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Usman bin Affan.

Kebalikan dari pemikiran Kota Tuhan adalah Kota Manusia. Pemikiran yang terakhir ini digambarkan oleh Agustinus sebagai kota yang masyarakatnya hanya mencintai kepentingannya sendiri, kepentingan keluarganya dan kelompoknya. Mereka juga memiliki sifat serakah, jahat, tak mampu mengendalikan diri dan kerapkali melakukan kekerasan.

Meski tak sama persis, gambaran Kota Manusia yang dikonseptualisasi oleh  Santo Agustinus seperti yang saya saksikan kini untuk situasi batin kota Jakarta dan beberapa kota lainnya yang  sedang menyiapkan pemilihan gubernur langsung.

Kota Jakarta, misalnya, saat ini merupakan kota bising yang membuat tak nyaman secara psikologis. Ketaknyamanan bersumber pada energi kebencian dalam persaingan politik yang disebarkan oleh sebagian warga.

Kebencian diteriakkan oleh mereka  yang mengaku dirinya pejuang agama dan siap mati membela agama tersebut.

Di hadapan publik luas, ia berorasi meneriakan ke-Maha-Besaran Tuhan (Allahu-Akbar) sambil berteriak: 'Bunuh si anu' (dengan menyebut gamblang nama salah satu calon gubernur), ungkapan yang membuat ulu ati saya mual, karena secara terang benderang mengandung teror, bukan hanya kepada yang ditujunya, melainkan boleh jadi kepada masyarakat luas. Kebencian pun disebarkan ‎melalui meme-meme dan karikatur barbar.

Meski cukup  terhibur dengan amat sedikitnya pesan-pesan pemuka agama yang menyampaikan keteduhan dan perdamaian, tetapi lengkingan suara hingga urat-urat leher menonjol Sang Pengajak kebencian jauh lebih nyaring ketimbang mereka yang sebaliknya.

Tak heran, kaki saya terasa berat untuk kembali ke tanah air, ke pangkuan ibu bumi. Enggan rasanya meninggalkan Kota Tuhan dan zona yang nyaman itu. Tapi hidup harus terus berlanjut dan meneruskan perjalanan. 

Dalam gumam, berharap tak terjadi apa yang dinyatakan oleh Santo Agustinus bahwa kota yang penduduknya tidak mempunyai cinta kasih akan terpecah berkeping-keping, karena watak sejati manusia sesungguhnya adalah rindu damai.

Artikel Terkait