Malam itu bulan cemerlang tinggi di langit. Kegelapan terasa pekat dan sunyi sekali. Desauan angin yang dingin menggigit kulitnya, dan dari kejauhan ia bisa mendengar gemericik air yang memulihkan kesadarannya. Ia mencoba bangun, tapi ternyata tidak bisa. Telapak tangan kanannya menyangga tubuhnya untuk bangkit, kemudian gelombang pusing menderanya, dan ia merasa dunia tempatnya bangun seakan menghilang.


Tanah lembap yang menjadi alas tubuhnya terasa semakin merosot seolah tak mampu menahan beratnya, badannya seperti bergeser, dan batu-batu mulai bergerak di sekelilingnya. Tubuhnya kejang karena ngeri. Tapi saat ia berusaha menghentikannya, tak ada apa pun yang bisa dijadikannya sebagai pegangan, sementara bebatuan terus bergulir berjatuhan di bawahnya, dan ia tahu bahwa tak ada sesuatu yang bisa dilakukannya. Ia akan jatuh.


Saat ia semakin merosot turun ke tepi, semakin lama semakin cepat, ia meluncur ke dalam kegelapan dan menghantam riak air yang tak berdasar. Seluruh jiwa raganya bagai terlepas melayang-layang dalam pusaran kepasrahan. Di bawahnya, ia bisa merasakan ada kekosongan hitam yang luas yang mengawasinya untuk segera tiba di sana.


Tubuhnya telah begitu kaku, sementara dasar kegelapan tanpa akhir itu terus mendesaknya untuk jatuh dan tampaknya takkan berhenti. Jiwanya yang memiliki sisa-sisa kehidupan mulai mati sedikit demi sedikit, berjatuhan bersama tubuhnya yang tak lagi memiliki kehidupan dan kehangatan untuk dirasakan.


Kegelapan dan kehampaan yang satu-satunya menemaninya terasa seperti kematian, dan untuk pertama kalinya ia mengetahui kenyataan bahwa ia sungguh-sungguh telah mati. Pemikiran tersebut terus menjerit-jerit dengan nada sumbang di dalam kesunyian yang luar biasa menekan ini. Tapi ia tetap bergeming dan tidak ketakutan sedikit pun.


Seketika segalanya terjadi begitu cepat dan mulus. Sesuatu dari kegelapan mengangkat tubuhnya ke atas, menggantung di udara seperti filamen-filamen ubur-ubur yang melayang-layang. Kelopaknya mulai terbuka, dan sebuah kemilau cahaya terang segera memancar menyoroti tubuhnya.


Ia tak bisa melihat apa-apa selain kabut di atasnya yang ikut serta melayang. Kabut itu membubung tinggi hingga menyatu dengan langit yang suram, dan suatu tempat di dalamnya, yang entah mengapa ia sendiri tak tahu. Semakin jauh ia melayang, semakin buruk keadaannya.


Semua bentangan luas hanya diisi kekosongan, kesuraman langit berubah menjadi muram, dan di sebelah kiri dan kanannya berdatangan arwah-arwah dari berbagai arah, bergerak melintasi cahaya menuju sumber kabut di atas sana. Kini, ia bisa mengetahuinya. Di antara cahaya dan kabut yang melayang ini, berdirilah kota kematian yang tengah menantinya.


Ia terus melayang dari waktu ke waktu, dan siraman cahaya bersama kabut membentang lurus di atasnya, ia mulai mendapati diri memandang ke kiri dan kanan, atas dan bawah, menemukan titik-titik cahaya berwarna berpendar di sekelilingnya, seakan mendekati dirinya dan arwah-arwah lainnya. Ia terpesona. Tubuhnya langsung mendesak untuk melesat maju menyambut titik cahaya itu, diiringi seruan gembira. Arwah-arwah lain juga melakukan hal yang serupa. Beberapa arwah bahkan berjuang untuk menyapu menembusnya, rindu berhubungan dengan sesuatu yang begitu hidup. Kemudian ia terpaku, tercekat, dan terinterupsi. Lalu setelahnya, ia tenggelam dalam keputusasaan yang rasanya sudah begitu lama tak pernah dirasakannya lagi. Tapi sebagian benaknya masih cukup tenang untuk berpikir.


Ia bisa melihat dari apa yang terjadi yang mengarahkan pikirannya untuk berkeinginan tetap hidup. Saat itulah ia mulai sadar dan segera mengetahui alasannya : ia tidak takut mati sebab ia takut hidup.


Segelintir arwah itu mulai berkerumun, berdesakan, penuh harap dengan mata berkilau-kilau, sehingga ia terpaksa mundur dan memberi mereka ruang. Membiarkan mereka tetap berjuang menembus pendaran titik cahaya itu sementara ia memperhatikan dengan penuh perhatian.


Ia berpikir betapa makhluk-makhluk itu akan senang jika langit terbuka dan mereka bisa melesat di atas air yang gemerlap, merasakan sinar hangat matahari, serta embusan angin yang menyatu dengan udara, untuk sekali lagi. Dan seketika pemikiran yang tadi dilontarkan alam bawah sadarnya terngiang ditelinganya dan ia terpaksa berhenti. Ia mengosongkan pikirannya, dan mencoba menjernihkan benaknya.


Ia mencoba lagi, dengan hasil yang sama. Ia bisa mendengar keributan benaknya melepaskan diri di dalam otaknya, terlepas dari kesigapannya untuk menghentikannya. Dan beginilah keadaannya. Takkan menjadi lebih mudah. Maka ia membiarkan benaknya rileks dan dirinya dikuasai oleh seruan dari otaknya. Hal itu mempengaruhi dirinya, dan ia merasakan sensasi yang paling aneh, seakan-akan tangan hantunya menahan pergerakkan dirinya.


Di bentangan langit yang luas tanpa tepi itu, seketika terjadi pergerakan besar dan lambat di antara arwah-arwah yang tak terhitung jumlahnya. Ia tak bisa melihatnya, tapi ia bisa mendengar dan merasakannya. Semacam sesuatu yang bergerak dengan gerakan abstrak yang diikuti bisikan yang melesat begitu lirih, suaranya tak lebih keras daripada gemerisik daun jatuh dan mustahil utuk didengarnya secara jelas. Tapi bahkan saat suara itu berbicara, ia mencari ke mana-mana dan memandang setiap wajah. Namun ia entah bagaimana memfokuskan gerakan yang terlalu cepat itu daripada kecepatan cahaya yang memancar di sekelilingnya.


Ia kembali memandang ke arah jutaan arwah yang bergerak lamban di kota kematian, semua melayang-layang termasuk dirinya, sehingga ia merasa ada yang jatuh terhuyung-huyung dari dirinya, begitulah rasanya, karena tak ada keberanian untuk hidup. Ia penasaran apa artinya, tapi ia tak bisa bertanya. Mungkin itu cara baru hidup untuk mengujinya. Dan ia sangat terkejut. Bahkan ia menyuruh dirinya berhenti dan gelombang rasa goyah melandanya.


Gerakan abstrak itu hadir lagi, bisikan lirih memasuki telinganya kembali, menyebar lebih cepat ke dalam otaknya seperti pesan elektrik yang disampaikan satu sel tubuh ke sel selanjutnya. Ia akhirnya menyadari adanya gerakan baru. Tangan hantunya terangkat seolah mampu menghentikan pergerakan tubuhnya yang melayang, mendapati jemarinya digenggam erat oleh udara dengan rasa hangat yang menjalar. Ia mencoba mencengkeram genggaman itu, tapi hanya kekosongan yang menembusnya bagai asap dingin. Meskipun ia tak lagi memiliki kekuatan untuk membalas genggaman tangan kecil udara itu, ia  tak menyangka bahwa ia bisa benar-benar mendengar bisikan itu mengeluarkan kata.


Bisikan suara itu berkata, “Kakak, ini hanya sebuah dongeng. Hanya sebuah dongeng.”


Ia tak mengerti tapi ia merasa mulai mempercayainya. Hal itu terbukti dengan usahanya yang segenap hati untuk menahan keinginan tubuhnya untuk terus  bergerak melayang. Ia harus bertahan dengan posisi tersebut. Arwah-arwah lain tak memedulikannya dan terus melayang lebih jauh ke atas, sementara kabut berkumpul menjadi bercak-bercak kecil kegelapan, dan menjadi tujuan akhir para arwah untuk menghilang di baliknya, ke dalam kota kematian.


Saat ia akhirnya mampu bertahan dengan wajah penuh harapan, kejadiannya berlangsung cukup tiba-tiba. Di antara arwah yang melayang, Dhinta, adiknya muncul, wajahnya yang familier tampak lesu tapi ekspresinya penuh kegembiraan. Dhinta bergegas melesat mendekat untuk memeluknya. Ia berusaha menampilkan wajah yang serupa seperti Dhinta, memaksa diri mendapatkan kekuatan untuk membalas pelukan adiknya. Ia menunggu perlahan-lahan dengan sabar, berharap agar adiknya yang masih hidup itu terasa begitu dekatnya, dan akhirnya, ia sungguh-sungguh mampu menjangkaunya.


Sewaktu pertemuannya dengan Dhinta, ia segera menyadari betapa segala di sekelilingnya turut berubah.


Saat Dhinta melepaskan pelukannya, ia tersenyum sangat cerah dan berkata, “Tamat. Dongengnya sudah tamat, Kak.”


Tapi ia menyadarinya.


Dengan perasaan yang kembali hidup, dan sejauh yang bisa ia lakukan adalah menjelaskan apa yang dialaminya kepada adiknya. Ia mulai menceritakan bagaimana ia terbangun di tepi jurang di malam hari, memberitahu adiknya mengenai keputus-asaannya saat ia mengalami serangan jantung mendadak yang menyebabkan ia tenggelam ke laut, dan ia memastikan bahwa hal itu takkan pernah terbayangkan oleh siapa pun.


Ia baru akan melanjutkan ke bagian selanjutnya ketika Dhinta tiba-tiba teriak dan menyelanya dengan, “selesai! Dongengnya sudah selesai kubaca, Kak."


Setelah itu, Dhinta tersenyum bahagia dan kembali berkata, “Kak, kehidupan itu penuh misteri. Kamu selalu beranggapan bahwa, ‘kau bisa berkeinginan untuk mati, tapi kau tidak bisa berkeinginan untuk hidup’. Tapi kamu, Kak. Kamu telah melampaui anggapan itu, dan menjadi anggapan itu sendiri.”


Ia hanya memadangi adiknya sambil diam tak menjawab. Saat itu, ia tak menyadari bahwa yang sedang dilakukan Dhinta adalah mencoba menyela isi pikirannya terhadap segala yang terjadi menimpanya yang ia kaitkan sendiri dengan perasaan takutnya, tanpa ia sadari.